Hai Muslimah, Jangan Lagi Pertontonkan Auratmu!!!

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Khansa Alma Alfirdausi
(MHTI Banyumas)

Wanita, dengan segala kecantikannya bisa mengalihkan dunia bagi yang melihatnya. Keanggunannya membuat terpana yang memandangnya. Kelembutannya membuat kaum adam pun jatuh hati padanya. Dialah wanita yang diciptakan dengan berbagai keindahan yang menyenangkan. Bahkan wanita pula yang bisa menjadikan seseorang terpuruk menjadi bangkit, yang sakit menjadi sembuh, yang merana menjadi gembira. Tetapi karena wanita pula, bisa menjadikan orang lain hina, kehilangan tahta, kehilangan wibawa, bahkan kehilangan harta. Ah, nggak akan ada habisnya membahas makhluk yang diciptakan unik yaitu wanita. Kita refresh lagi yuk, bagaimana fakta bicara tentang wanita.

Dunia Memandang Wanita

Peradaban yunani kuno membolehkan wanita diperjualbelikan layaknya budak, tidak memiliki hak sipil dan juga hak waris. Hampir-hampir bagi lelaki dalam peradaban yunani kuno, posisi wanita tak jauh dari sekedar pemuas nafsu lelaki saja.

Dalam pandangan Romawi, seorang lelaki tidak bersalah jika membunuh istri dan anaknya, bila ia tak suka dengan perbuatan istri dan anaknya. Pada 550 M, Kaisar Justiana sampai mengeluarkan aturan pelarangan membunuh istri dan anak. Solusinya, karena tak bisa di bunuh, akhirnya dijual saja sebagai budak. 

Di India, tradisi Hindu mengenal Sati, sebuah prosesi membakar diri bagi janda yang ditinggal mati suaminya. Sederhananya, saat suaminya meninggal dan di bakar, berakhirlah pula hak hidupnya sebagai bagian dari kesetiaan seorang perempuan. 

Di peradaban Cina Kuno, wanita ditempatkan sebagai warga kelas dua. Yang akhirnya sangat wajar kalau wanita diciptakan hanya untuk melayani lelaki. Belajar, menjadi cendekiawan hanya hak lelaki.  
Para teolog nasrani ramai beranggapan bahwa setan tidak bisa menggoda lelaki yang lebih rasional, hingga menggunakan rayuan wanita untuk menjatuhkan dosa kepada lelaki. 

Pantas saja, ketika dunia memandang wanita hanya sebatas makhluk kelas dua yang hanya di pandang sebagai wanita pemuas lelaki, lantas bentuk protes kaum hawa atas hal itu muncullah ide-ide emansipasi, kesetaraan gender dan berkibarlah bendera aliran feminism. Ternyata, harapan wanita agar ia sama dengan lelaki dalam segala hal, justru menjerumuskan wanita pada jurang yang dalam menghancurkan martabatnya dan semakin jauh dari fitrahnya atas nama emansipasi dan feminism. 

Kalau dulu wanita direndahkan dengan cara paksa, justru sekarang wanita di rendahkan dengan cara suka rela dan senang hati. Di sistem kapitalis dan sekuler seperti saat ini, hal yang berbau seks adalah yang paling menarik dan itu tertuju pada kaum hawa, yaitu wanita. Hiburan, iklan, marketer, sales, pramuniaga, karyawati dan seterusnya menjadikan objek wanita sebagai komoditi menawarkan produknya dengan terselubung “seks murah, pemandangan gratis”. Eksploitasi tubuh wanita menjadi bisnis yang menggiurkan untuk menghasilkan pundi-pundi uang.

Tanpa disadari, wanita telah menghargai dirinya sendiri hanya sebatas alat pemuas kenikmatan lelaki yang dipamerkan tiap jengkal badannya bahkan yang terlarang,. Mirisnya, wanita merasa bangga ketika dinikmati secara gratis oleh lelaki karena merasa bahwa ukuran cantik adalah fisiknya. Example, nyalakan televise lihat iklan disana. Pasti di dominasi oleh wanita sebagai bintang iklannya. Padahal apa yang ditawarkan sama sekali tidak berkaitan dengan wanita. Menawarkan sabun motor misalnya. Diperankan oleh wanita yang berlenggak lenggok di atas motor sambil nyuci dengan pakaian minim dan “erotis”. Sedih kan melihatnya. Mereka terjebak atas nama emansipasi dan kesetaraan gender tapi terjerumus pada pelecehan yang lebih sadis. Korelasi langsung dengan pemahaman emansipasi, maka semakin menipislah wanita yang berada di dalam rumah, dan lebih sering keluar rumah dalam urusan yang mubah bahkan tak jarang justru menghadirkan kemudharatan sampai kemaksiatan. Wanita meminta tidak memiliki perbedaan dengan seorang lelaki. Lelaki bisa jadi kuli bangunan wanita pun bisa. Lelaki bekerja di kantoran wanita pun memaksakan diri untuk bisa bekerja kantoran, hingga lelaki kerja ngojek wanitapun juga menunjukkan bisa jadi tukang ojek, dan ini di masyarakat sebagai sebuah prestasi dan sosok yang menginspirasi. Padahal di balik itu, semakin sering meninggalkan rumah maka semakin keropos sendi rumah tangga, semakin hilang kasih sayang seorang wanita, yaitu ibu, hingga berakhirlah rumah tangga pada ambang kehancuran tiap anggotanya. Dengan hadirnya berbagai masalah yang mendera dalam rumah tangga. Dari perselingkuhan, free seks, narkoba, dst. Embel-embel nggak mau di jajah, tapi justru dijajah oleh dirinya sendiri dan nafsunya. 

Islam Memandang Wanita

“wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-seku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( QS. Al Hujurat 49: 13)

Datangnya Islam laksana embun penyejuk bagi kaum wanita yang selama ini terpuruk dalam kejahiliahan. Bahkan penindasan itu lebih tidak manusiawi atas nama jahiliah modern di balik emansipasi. Islam menempatkan wanita sebagai makhluk yang sangat bernilai, berharga dan terhormat. Setiap jengkal aktivitasnya sebagai kodrat utamanya sebagai ibu dan rabbatu bait pengatur rumah tangga bernilai ibadah menghasilkan pahala ketika semua tugasnya dilaksanakan dengan ikhlas. Jika seorang lelaki mendapatkan pahala tertinggi jihad fi sabilillah maka seorang perempuan melahirkan anak-anaknya adalah jihadnya seorang wanita yang mendapat gelar syahid ketika melahirkan kemudian meninggal dunia. 

Dalam islam tidak ada diskriminasi. Mulia tidaknya seorang hamba adalah karena ketakwaannya. Entah itu lelaki ataupun perempuan. Walau memang wanita mempunyai jalur beribadah yang berbeda dengan lelaki. Kewajiban seorang lelaki mencari nafkah, kewajiban seorang perempuan mengurusi rumahnya dan anak-anaknya. Yang keduanya mendapatkan pahala dan sesuai dengan fitrah kodratnya. Akan salah kaprah ketika seorang wanita merasa iri dengan lelaki ketika diberi kewajiban mencari nafkah dengan meniti karir di luar rumah dan memlliki dunia yang luas, kemudian wanita mengikuti jejak seorang lelaki untuk mendapatkan pahala dengan berkarir, maka sungguh tidak akan sedikitpun mendapatkan pahala atas apa yang dilakukannya mencari nafkah untuk keluarganya. 

Oleh karenanya, lelaki bisa lebih mulia dari wanita karena takwanya. Ataupun wanita bisa jadi lebih mulia dari lelaki karena ketakwaannya pula. Bukan karena “sama-sama bersaing dalam hal yang tidak sesuai dengan fitrahnya”.

Bagaimana untuk meraih ketakwaan itu? Yang pasti harus mengetahui mana yang Allah perintahkan dan mana yang itu adalah larangan Allah. Kemudian melaksanakannya hanya untuk mencari keridhoan Allah. Dan tidak ada alasan untuk seorang muslim ataupun muslimah yang baligh untuk terhindar dari aturan-aturan Allah dalam kehidupan ini. Mana yang di wajibkan mana yang Sunnah, mubah, makruh bahkan haram. Karenanya, diwajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu, sebagai bekal beribadahnya dengan harapan tidak melakukan aktivitas dalam kehidupan ini justru bergelimang dalam dosa hanya karena tidak mengetahui kaidah hukum perbuatan yang dilakukannya. So, mencari ilmu adalah wajib.

“Menuntut ilmu itu adalah wajib atas seluruh kaum muslim.” (HR. Muslim) 

Dalam hal tertentu, ada ibadah yang di khususkan untuk lelaki, ada ibadah yang dikhususkan untuk perempuuan. Misal, lelaki wajib mencari nafkah, bertanggung jawab atas keluarganya,  sedangkan seorang perempuan justru di wajibkan berdiam diumah keculai ada hajat syar’I untuk keluar rumah, mengurus rumah, mengasuh anak-anaknya dan wajib patuh pada suaminya. Karenanya tidak boleh ada kesenjangan atas apa-apa yang sudah di nash kan oleh Allah atas hal khsusu ini, tidak lain karena Allah yang Maha Mengetahui fitrah manusia. Karena Allah Maha Adil, tidak mendzalimi. 

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuanpun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa:32)

Terlihat dengan gamblang bagi yang mau memahami, mau mendengar, mau menyaksikan Bagaimana islam sangat memuliakan wanita. Bagaimana islam sangat menghormati dan memanusiakan wanita. Islam menempatkan wanita sebagai makhluk yang wajib dilindungi dan di jaga kehormatannya. Karenanya dalam islam mengatur secara detail terkait wanita. Terkait pendidikan, pernikahan, warisan, nasab bahkan sampai terkait apa yang di kenakan. 

Aurat Wanita

Wanita di era sekarang, sudah banyak yang mendukung emansipasi yang sebenarnya mengarah kepada nilai materialis kapitalis. Semakin jauh dari fitrahnya sebagai muslimah, dengan semua kewajiban-kewajibannya. Dan yang meninggalkan fitrah dan kodratnya semakin kesini di anggap sebagai hal lumrah yang merebak di masyarakat. Di sisi lain, bagaimana gigihnya wanita-wanita istimewa tetap memegang islam yang memuliakannya dan memanusiakannya, tapi di anggap sebagai wanita-wanita kolot yang berdiam diri di jajah lelaki. Di anggap wanita yang lemah, dan tak terpandang di hadapan masyarakat sekarang yang sudah kapitalis mungkin hanya gara-gara lulusan S1 tapi hanya menurut dengan suaminya untuk menjadi ibu yang baik menjaga rumah dan harta suaminya. Ataupun wanita yang sibuk dengan anak-anaknya dan berkumpul di majelis-majelis ilmu. Inilah sebenarnya wanita istimewa, yang memegang islam layaknya bara api. Menggenggamnya adalah panas, tapi ketika melepaskannya maka akan kehilangan cahaya dari bara api itu sendiri. 

Sekali lagi, islam memandang mulia bukan karena cantic fisiknya, tahta, jabatan apalagi hartanya. Tetapi pure karena keimanannya dan ketundukkannya kepada Allah. 

Aurat adalah bagian tubuh yang haram dilihat , dan karenanya harus di tutupi. 

Berikut dalil-dalil kewajiban menutuyp aurat dan batasan yang harus ditutupi:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka" yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Aisyah radhiallahu anhu meriwayatkan, suatu waktu Asma’ binti Abu Bakar datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dengan pakaian tipis. Tatkala melihatnya, Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’, lalu bersabda “ wahai Asma’! sesungguhnya wanita apabila sudah baligh, tidak boleh di lihat kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk ke muka dan telapak tangannya. (HR. Abu Dawud) .

Dalam hadits ummu ‘Athiyyah yang menjelaskan secara gamblang tentang wajib adanya pakaian bagi wanita yang ia kenakan di atas pakaian kesehariannya pada saat ia keluar rumah. Karena ummu ‘athiyyah berkata kepada Rasul saw, ihdaanaa laa yakuunu lahaa jilbabub( salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab)”. Rasulullah saw kemudian berkata, “litulbishaa ukhtuhaa min min jilbaabihaa (Hendaklah saudaranya memakaikan jilbabnya kepada wanita itu)”. Yakni, ketika ummu ‘Athiyyah berkata kepada Rasul saw: jika wanita iu tidah memiliki pakaian yang dikenakan di atas pakaian sehari-hari guna keluar rumah.” ,maka Rasullullah saw memerintahkan agar saudaranya meminjaminya pakaian yang dia kenakan di atas pakaian sehari-hari. Maknanya adalah, jika tidak ada yang meminjaminya, maka yang bersangkutan tidak boleh keluar rumah. Ini merupakan qarinah (indikasi) yang menunjukkan bahwa perintah yang ada di dalam hadits ini adalah wajib. Artinya seorang wanita wajib mengenakan jilbab di atas pakaian kesehariannya jika ia hendak keluar rumah. (nidzam ijtimai: hal 72)

Sehingga menutup aurat sempurna bagi muslimah memiliki tiga komponen:

1. Pakaian rumah (ats-saub)
2. Kerudung (khimar)
3. Jilbab

Pakaian rumah (atsaub) boleh di kenakan dalam lingkungan khusus, yaitu lingkungan dimana ketika orang lain ingin memasukinya maka harus meminta izin, salah satunya yaitu rumah, kontrakan, kos dan sejenisnya. Saat berada di dalamnya, ketika melakukan aktivitas-aktivitas rumah bersama makhramnya muslimah tidak harus menutup auratnya dengan pakaian lengkap sebagaimana ketika keluar rumah. Makhram wanita muslimah pun boleh melihat bagian tubuh wanita sampai batas tempat melekatnya perhiasannya. 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (Qs An Nuur: 31)

Wanita Ketika di Lingkungan Umum

Selain wanita beraktivitas di lingkungan khusus rumah, kos dan sejenisnya, tidak bisa dihindarkan wanita pun perlu beraktivitas keluar rumah di lingkungan umum untuk menyeleseikan hajat syar’I nya seperti dalam hal pendidikan, berdakwah, di masjid, kantor dan selainnya. Maka diwajibkan kepada muslimah mengenakan ketiga komponen dari menutup aurat syar’I yaitu: pakaian rumah, khimar atau kerudung, jilbab. Hadits ummu athiyyah di atas menegaskan bahwa jilbab adalah pakaian luar, pakaian rangkap yang dipakai seorang muslimah saat keluar rumah. Karena ada penegasan “ hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya”.

Tafsir “jilbab” imam al qurthubi mengenai surah al ahzab 59: jalabib adalah bentuk plural dari jilbab. Jilbab adalahh pakaian yang lebih besar daripada khimar. Diriwayatkan dari ibn abbas dan ibn mas’ud bahwa ia layaknya alrida’ (selendang). Dikatakan pula itu semisal qina’(miqnaah). Yang shahih bahwa jilbab adalah pakaian yang menutupi seluuruh badan. “

Sehingga disimpulkan, di dalam kehidupan umum, atau di luar rumah atau tempat tinggalnya, muslimah harus mengenakan jilbabnya di atas pakaian rumahnya dan dilengkapi dengan khimar, inilah pakaian syar’I ketika keluar rumah. 

Fenomena Hijab Jauh dari Syariat

“ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memiliki cambuk seperrti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surge dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”(HR. Muslim)

Hadits Rasulullah tersebut, sepertinya sudah marak di zaman sekarang. Bahkan semakin minim yang memahami bagaimana hijab syar’I. trend hijab semakin merebak, tapi tidak di iringi dengan mencari dalilnya secara detail dan rinci, mayoritas hanya melandaskan pada apa yang dilihat dari tontonan yang kemudian menjadi tuntunan hanya karena artis yang dia fans I beralih memakai jilbab. Berpakaian tetapi membentuk lekuk tubuh, tipis, terawang, berjalan dengan lenggak lenggok, dan memberikan punuk unta di kepala dengan kerudung ataupun sanggul khatulistiwa. Hihihi. Fenomena yang sudah banyak kita temui, bahkan mereka bangga dan berlomba-lomba menunjukkan kecantikan fisiknya hingga pantaslah di sebut “erotis”, seperti halnya fenomena jilboobs yang sekali lagi merendahkan wanita itu sendiri. 

Bagaimana Kabar Jilbabmu, Muslimah?

Ending, saling memandang diri sendiri. Bagaimana jilbab yang kita kenakan saat ini. Sudahkah syar’I sesuai yang ditentukan Allah atau masih trend hijab jauh dari syariat atau mungkin malah kalian belum berhijab. Apa kata dunia? Mengaku muslimah tapi belum berhijab. Yakin kalau Allah masih beri kesempatan hidup besok untuk bertobat? Bukankah seorang beriman itu ketika dia melakukan semua yang Allah perintahkan, dan menjauhi semua yang dilarangnya. Kalian mengerjakan sholat, puasa, tetapi mengapa menutup aurat sempurna yang merupakan kewajiban kau abaikan. 

Teringat cerita keponakan teman, yang ketika melihat perempuan tidak menutup aurat dengan pakaian yang ketat, membentuk tubuh sana sini, ketika wanita itu duduk makan di warung makan, terlihatlah sedikit bagian dari pinggangnya karena bajunya bergeser ke atas, anak laki-laki yang baru lima tahun ini mendekati wanita itu dan menepuk dengan keras pinggang wanita ini hingga kaget. Lucu memang melihatnya, tapi anak kecil aja sadar dan dia bilang nggak suka lihat wanita kelihatan auratnya. Nah, banyak di masyarakat pelaku seperti ini kan? Nggak malu sama anak kecil ini? Walaupun dia masih laki-laki kecil sudah paham kalau seperti itu tidak pantas. Pakaian minim, bahkan pakaian adiknya dipaksa untuk muat dipakai, sampai-sampai nyaris telanjang.

Iihhh, suka gemes melihat wanita seperti ini. Apa merasa sudah sangat cantik dengan seperti itu? Apalagi ngakunya adalah muslimah. Suka dijadikan tontonan gratisan lelaki hidung belang alias kucing garong? Masihkah belum tahu kalau kita diwajibkan untuk menutup aurat, yang boleh nampak hanyalah telapak tanganmu dan wajahmu? Atau memang tidak mau tahu? Tubuhmu begitu banyak keindahan, setiap jengkal tubuhmu adalah perhiasaan oleh karenanya Allah mewajibkanmu untuk menutup tubuhmu dengan jilbab dan kerudung karena Allah memuliakan wanita.

Tapi mengapa, justru kau relakan dengan ikhlas untuk dinikmati banyak orang. Kasian suamimu kelak, kasian orang tuamu yang juga akan mempertanggungjawabkan ulahmu di hadapan Allah kelak. Sayangi tubuhmu, siapa lagi yang akan menyayanginya kalau  bukan dirimu sendiri. Asma’ binti Abu Bakar yang ketika itu masih gadis pernah bermain ke rumah Rasulullah untuk bertemu dengan Aisyah istri Rasulullah. Ketika Rasulullah mengetahuinya, langsung Rasulullah memalingkan mukanya dari Asma’ binti Abu Bakar yang tidak menutup aurat, dan mengingatkannya untuk menutup auratnya ketika keluar rumah.

Rasulullah saja tidak mau menoleh pada wanita yang membuka auratnya. Mengapa masih kau umbar tubuhmu? Bahkan ketika kau sadari banyak lalat nakal mulai menghinggapi tapi tak kau jadikan pelajaran dan hikmah bahwa itu adalah pelecehan dan penghinaan. Masihkah kurang menjadi contoh, ketika seorang gadis diperkosa di angkota, kemudian di bunuh, ada yang diperkosa kemudian di mutilasi, dan lain sebagainya. Masih nggak ngeri? Banyaklah berdo’a kepada Allah untuk melembutkan hatimu dan membuka hidayah untuk mengerjakan apa yang Allah wajibkan. Jujur, kalau saya sendiri sangat ngeri dan takut. Bagi kalian yang masih ngotot jadi salah satu aktivis rok mini,waspadalah! Jangan sampai jadi korban pelecehan karena ulahmu sendiri.

Islam yang Paripurna

Di dunia ini mayoritas penghuninya adalah muslim, dimana ini adalah sesuatu yang luar biasa. MasyaaAllah. Terbukti islam adalah yang mudah di terima secara akal dan pikiran ataupun fakta. Bahkan banyak lansia di negeri-negeri kufur mengalami tingkat kesepian yang paling tinggi bahkan jumud dan depresi karena agamanya tidak membuatnya tenang layaknya islam yang semarak dengan aktivitas-aktivitas rohani, sholat, puasa, bersedekah bahkan kajian-kajian dan majelis taklim yang membuat tenang dan aktivitas terbaik ketika usia menjelang senja. 

Islam adalah anugerah bagi semua manusia yang hidup di dunia, islam itu indah ketika mengatur urusan kehidupan manusia. Islam itu menjamin keberlangsungan hidup manusia yang melindungi secara total kehormatan, keamanan, akal, pikiran, dan seterusnya dengan berbagai aturan syariatnya.
Tahu nggak kenapa Allah mewajibkan muslimah menutup aurat ketika keluar rumah? Kenapa Allah melarang untuk mendekati zina? Kenapa Allah mewajibkan Shalat, puasa, meninggalkan riba dan lain sebagainya? Jawabannya adalah untuk manfaat manusia itu sendiri, kebelangsungan hidup yang berjalan dinamis tidak terjadi kekacauan, kemaksiatan, kerusakan, bahkan pertumpahan darah dan lain sebagainya.

Tapi, begitu banyak yang mencampakkan islam dan hanya mencukupkan pada ibadah-ibadah ritual saja dan mengesampingkan aturan-aturan dalam kehidupan dunia atau sekulerisme, memisahkan agama dengan kehidupan. Muslimah, sudah tergerus pada arus ini. Hingga menganggap syariat adalah belenggu, syariat adalah menindas, syariat memenjarakan kebebasan perempuan. Islam di anggap mengucilkan perempuan, islam di anggap menomor duakan perempuan yang hanya sebatas pemuas nafsu laki-laki.

Muslimah mulai menjauhi islam bahkan membencinya, keluar dengan mengumbar auratnya, mempertontonkan lekuk tubuhnya, bahkan berhias secara berlebihan yang sebenarnya itu membahayakan dirinya dan mengancam keamanannya. Bagaimana muslimah mudah memberikan kehormatan termahalnya sebagai perempuan hanya karena atas nama cinta yang sebenarnya dirinyalah yang ingin dinilai di mata lelaki karena syahwat semata. Sungguh ide gender dan feminis ini sudah merusak tatanan sosial masyarakat bahkan perempuan menjadi korban tertindas yang menikmati sebagai korban. 

Bagaimana tidak dikatakan jahiliyyah kalau kondisinya memang sama seperti halnya ketika jaman jahiliyyah bahkan lebih parah. Ketika dulu bayi perempuan di kubur hidup-hidup oleh ayahnya, tapi sekarang ibunya yang menjualnya, ketika dulu sebelum islam ayah menjual anak perempuannya atau suami menjual istrinya ketika di nilai tidak bermanfaat tapi sekarang justru perempuan yang menjual dirinya dengan sadar bahkan ikhlas. Begitu parahnya, begitu kejamnya semua aturan selain islam yang di terapkan. 

Masihkah meragukan islam yang terbukti melindungi perempuan bahkan kehormatannya adalah di jaga laksana mutiara termahal. Bagaimana Rasulullah mengangkat senjata perang ketika wanita muslimah tersingkap auratnya karena yahudi yang jahil tapi sekarang pemerkosaan, pelecehan seksual, bahkan di bunuh mutilasi seusai menikmati jengkal tubuh perempuan dan hal itu hanya menjadi pemenuh acara berita kriminal televisi tanpa ada solusi sama sekali seakan semua diam tak mengetahuinya, padahal sudah berapa banyak korban bergelimang karenanya.

Marah, ingin teriak dan menjerit melihatnya. Dimana Islam yang katanya memuliakan perempuan? Dimana Islam yang katanya menjaga kehormatan perempuan? Tapi akhirnya ku terdiam, bukan Islam yang salah tapi manusianyalah yang salah karena meninggalkan Islam Kaffah dan selingkuh dengan aturan kufur pengusung feminism dan neokolonialis.

Tangan ini mengepal, bertekad mencari Islam dan mengembalikan Islam untuk segera hadir di tengah-tengah kita sebagai aturan dan sinar kemuliaannya akan segera terpancar. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Hai Muslimah, Jangan Lagi Pertontonkan Auratmu!!!"