Come On Sobat, Yuk Selamatkan Negeri Kita…

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Binti Istiqomah 
(Tim Pengasuh Sanggar remaja “Sandal Jepit” Kediri)

Sejuta topan badai dah negeri kita ini, tak putus dicekik konflik dan tak reda dirundung sengsara. Sejak sebelum kemerdekaan, ketika jaman awal-awal kemerdekaan, hingga jaman kiwari. Konflik selalu ada dan tetap menjadi bagian dari hidup hampir seluruh rakyat negeri ini. Jaman penjajahan nenek moyang kita hidup susah bin sulit. Saat awal-awal kemerdekaan konflik melanda hampir di seluruh pelosok negeri. Berbagai kepentingan policik, eh politik menghiasi perjalanan sejarah negeri ini. Berganti tahun, berganti pemimpin, namun tetap saja konflik tidak bisa dipadamkan. Musim berganti, cuaca tak selalu sama, rezim satu berganti dengan rezjim lainnya, pemimpin satu lengser pemimpin lainnya menggantikan, tetapi resah gelisah terus merajam pikiran dan perasaan rakyat jelata di seluruh negeri menghadapi kenyataan getirnya kehidupan ekonomi mereka. Harga bahan pokok melonjak naik cepat, apalagi menjelang bulan puasa dan lebaran. Bahan bakar minyak (BBM) di beberapa pelosok langka.Akibatnya, harganya juga ikutan meroket tajam. Biaya pendidikan sangat mahal, biaya kesehatan nyaris tak terbeli kantong kempes rakyat miskin. Menyedihkan.

Padahal dalam waktu yang bersamaan, elit politik saling sikut kepentingan, saling serang demi rasa aman diri dan kelompoknya. Korupsi seperti wabah yang merajalela dari tingkat atas dan mengalir deras hingga tingkat pegawai dan lembaga rendahan. Ironi yang tak kunjung berhenti. Rakyat miskin sibuk mikirin nasibnya esok hari, yang masih ragu apakah masih bisa makan atau tidak, tetapi para elit partai dan penguasa serta pengusaha sibuk mikirin agar harta tak halalnya tak tersentuh lembaga hukum. Orang-orang model begini tak perlu pusing mikirin makan, karena yang jadi fokus perhatiannya, bagaimana bisa menimbun miliran rupiah demi memberi makan oknum penegak hukum agar mau mendukungnya, agar mau melindunginya dari jeratan hukum.

Save Indonesia, Please…

Kalau kata pepatah nih ya “di dalam sistem yang sakit terdapat jiwa yang sakit” . Eh … bener gak sih kok jadi gitu pepatahnya, bukannya “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” ya? Sobat … jika kita mau sejenak mengamati, ternyata bener juga lho kalau di dalam sistem yang sakit terdapat jiwa yang sakit. Nggak percaya? Kita lihat buktinya ya,

Dikutip dari Republika.co.id (17/10/16), jumlah psikotik  di DIY terutama yang terjaring dalam operasi di jalanan dari tahun ke tahun terus meningkat sekitar 5-10 persen. Disinyalir, pasien tersebut tidak hanya dari wilayah DIY melainkan dari perbatasan DIY seperti Wonogiri, Magelang, Purworejo, dan lain-lain. Saat ini, jumlah psikotik yang ditangani oleh Dinas Sosial DIY sebanyak 207 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 107 orang berada di camp shelter Dinas Sosial DIY dan 100 orang di Panti Karya Yogyakarta yang khusus untuk psikotik.

Lain di DIY, lain lagi di Ibukota Negara Indonesia. Jakarta menduduki urutan teratas soal penderita gangguan kejiwaan. Data riset kesehatan dasar (riskesdas) Departemen Kesehatan pada 2014, 1 juta orang tercatat sebagai pasien gangguan jiwa berat dan 19 juta pasien gangguan jiwa ringan di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, 385.700 orang atau 2,03 persen pasien gangguan jiwa hidup di Jakarta. Penderita psikotik atau Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) di DKI Jakarta tiap tahun mengalami peningkatan. Dinas Kesehatan DKI mencatat jumlah pasien ODMK tahun lalu mencapai 2.962 orang.

Menurut data yang dilansir dari merdeka.com 17/09/16, Dinsos memang sudah menyiapkan tiga panti sosial khusus untuk penderita psikotik atau gangguan kejiwaan di Jakarta. Antara lain, Panti Sosial Bina Laras I Cengkareng untuk gangguan jiwa berat, Panti Sosial Bina Laras II Cipayung untuk pendampingan pasien gangguan jiwa sedang, dan Panti Sosial Bina Laras III Cipayung untuk mereka yang mengalami gangguan jiwa ringan. Tapi meskipun begitu, jumlah panti sosial yang ada tidak cukup untuk menampung penderita psikotik yang berhasil dijaring setiap harinya. Dengan berat hati Kasubag TU Panti Laras III, Ida Farida harus menolak jika ada pendatang baru.

"Itu terpaksa karena memang kondisinya begini," jelas Ida saat berbincang dengan merdeka.com, akhir pekan lalu.

Panti sosial khusus pasien gangguan jiwa ringan itu kini dihuni 476 ODMK. Ida menyebut angka itu sudah di luar batas normal alias kelebihan kapasitas. Idealnya, kata dia pasien penghuni Panti Laras III berjumlah 271 jiwa. Dibanding dengan dua panti Laras lainnya, gedung Panti Laras III memang terbilang lebih kecil untuk menampung ratusan ODMK. 

"Overload, ODMK di Jakarta memang naik dari tahun ke tahun," ucapnya.

Sobat ... mau tidak mau kita harus menerima kenyataan kalau Indonesia sedang darurat sakit jiwa, karena fakta sudah membuktikannya. Dan sama halnya di DIY, kebanyakan dari penderita psikotik tersebut bukanlah warga Jakarta alias pendatang. Mereka mengalami gangguan kejiwaan karena faktor tekanan ekonomi dan menjadi 'korban' kerasnya hidup di Jakarta. Sama-sama kita tahu ya, banyak kaum urban datang ke Jakarta dengan segudang mimpi dan harapan. Menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Jakarta, jumlah pendatang baru yang diprediksi akan masuk ke Jakarta tahun 2015 lalu mengalami kenaikan sekitar 3% menjadi 70.593 orang dibandingkan jumlah pendatang 2014 sekitar 68.537 orang. Hebatnya lagi, hampir sebagian besar kaum pendatang yang rata-rata berpendidikan menengah rendah hanya bermodalkan nekat tanpa keahlian apapun. Akibatnya, mayoritas pendatang dipastikan hanya akan bekerja di sektor informal serta berpotensi terjerumus dalam dunia kriminalitas ibu kota (www.kemenkeu.go.id 31/07/15)

Kaum urban pergi dari kampung halaman untuk mengadu nasib di ibu kota demi meningkatkan taraf hidupnya. Berharap bisa memperoleh pekerjaan sehingga bisa membuktikan bahwa mereka sukses di Jakarta. Sebagian berhasil mewujudkannya, sebagian lagi justru gagal. Mereka yang gagal akhirnya menjadi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Hidup menjadi gelandangan dan pengemis di tengah megahnya gedung bertingkat.

Menurut penuturan pak Joko Tri Haryanto, pegawai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI dalam tulisan beliau yang bertajuk “Urbanisasi Paska Lebaran dan APBN 2016”. Disebutkan bahwa berdasarkan data pengamat, jika di tahun 1980, sekitar 78% penduduk Indonesia masih tinggal di pedesaan, maka kondisi tersebut kini justru mengalami kebalikan. Penduduk desa masih berkisar di angka 120 juta jiwa, sementara penduduk yang tinggal di perkotaan justru mengalami kenaikan hingga empat kali lipat, dari 32,76 juta jiwa menjadi sekitar 123,12 juta jiwa. Jika tren urbanisasi tetap seperti saat ini, maka di tahun 2025 nanti sekitar 65% penduduk akan berada di kota, sementara sisanya akan berdiam di pedesaan dengan mayoritas usia nonproduktif dan senja.

Sobat … saat ini sistem ekonomi yang diterapkan oleh mayoritas Negara-negara dunia termasuk Indonesia yang sebagian besar penduduknya Muslim, adalah sistem ekonomi kapitalis. Yang sebetulnya terbukti tidak membawa kesejahteraan bagi ekonomi dunia bahkan sebaliknya. Negara dengan sistem ekonomi kapitalis menyerahkan ketahanan ekonomi pada kemampuan individu, sementara suprastruktur ekonomi/sistem ekonomi kapitalis tidak menopang pemenuhan kebutuhan ekonomi oleh rakyat. Rakyat dibiarkan bertarung sendiri memenuhi kebutuhan hidup mereka sedangkan negara hanya sebagai regulator yang minim campur tangan menolong hajat hidup rakyatnya. Hasilnya lebih banyak masyarakat yang mengalami sakit jiwa akibat penerapan sistem yang sakit. 

Dr. Zakik. SE. M.Si saat menjadi pembicara pada kegiatan Stadium General bertema “Peluang dan Tantangan Berekonomi Syariah di Indonesia” di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya, Ahad (20/09/2015) menyampaikan bahwa sistem ekonomi kapitalis sejatinya telah gagal. Terbukti dengan fakta ribuan bank di Eropa yang kini mengalami kebangkrutan. Hal ini jugalah yang membuat perekonomian Indonesia ikut terpuruk.

“Hasilnya kita hanya menjadi follower, dan kita sudah terjebak oleh berbagai macam perangkap yang kemudian harus diikuti. Jadi nggak ada ceritanya Negara maju ingin membiarkan kita menjadi Negara besar,” tuturnya di hadapan ratusan mahasiswa.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, sistem ekonomi kapitalis menjadikan pemilik modal sebagai penguasa, bahkan hari ini pemilik modal sudah mampu mendikte pemerintah. Dikarenakan mereka sudah berinvestasi dalam proses pemilihan pemerintahan.

“Kalau kita melihat di media tentang carut-marutnya pemerintah kita saat ini, ya itu karena kita tidak punya independensi dalam menentukan kemaslahatan rakyat,” tegas Sekretaris Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Jawa Timur ini.

Belum lagi kalo ngomongin fakta bahwa sumber daya alam negeri kita ini masih belum dikelola dengan benar dan baik, malah ada banyak yang diserahkan pengelolaannya kepada pihak asing. Banyak kan perusahaan-perusahaan asing yang berkeliaran nyari duit di negeri ini? Silakan hitung sendiri. Kalo pun ada program kompensasi berupa kucuran dana untuk sosial dan pendidikan dari perusahan-perusahan asing tersebut, itu jauh lebih kecil dibanding keuntungan yang mereka dapat dari hasil mengeruk kekayaan negeri ini. Nah, sekarang kita renungkan dengan benar baik, kalo seandainya dikelola sendiri kan pasti manfaatnya lebih banyak. Buat siapa? Untuk seluruh rakyat negeri ini. Tapi nyatanya? Nggak begitu kan? Mikir! (*gaya Cak Lontong)

Itulah sobat … sudah seharusnya sistem yang terbukti banyak menimbulkan ketimpangan tersebut diganti dengan sistem yang shahih, yakni sistem Islam. Ketahanan ekonomi negara Khilafah akan terwujud melalui penerapan sistem ekonomi Islam, yakni sejumlah hukum syariah Islam di bidang ekonomi. Di dalamnya menyangkut asas-asas sistem ekonomi yang meliputi kepemilikan, pengelolaan kepemilikan dan distribusi kekayaan; juga menyangkut politik ekonomi Islam, yaitu jaminan kebutuhan pokok bagi individu (sandang, pangan, dan papan) dan jaminan kebutuhan pokok masyarakat (pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis) (Masyru’ ad-Dustur, pasal 123-169, hm. 34-35).

Dengan ketahanan ekonomi yang demikian, agenda-agenda neoliberalisme dan neoimperialisme seperti privatisasi, liberalisasi perdagangan dan keuangan, serta kebijakan anggaran ketat (termasuk pencabutan subsidi) hanya akan menemui kegagalan dalam negara Khilafah. Wallahu a’lam bi ash shawab.

Aha, Ini dia….

Sebenarnya masih banyak orang, termasuk kaum muslimin sendiri yang kadang menertawakan kalo Islam dijadikan solusi atas semua problem kehidupan yang ada.  Tapi saya merasa yakin bahwa insya Allah ketika Islam diterapkan sebagai ideologi negara, kehidupan umat manusia akan aman, tenteram dan damai. Penuh barokah dan berorientasi akhirat. Dunia yang dikejar hanya seperlunya dan bukan tujuan utama. Akidah dan syariat Islam akan mengarahkan dan membimbing umat manusia ke jalan yang diridhoi Allah Swt. Meski demikian, perjalanan menuju ke sana bukan hal yang mudah. Namun jika kita memiliki tekad kuat dan istiqomah dalam dakwah dan perjuangan, bukan tak mungkin akan mempercepat sistem kapitalisme untuk segera menggali lubang kuburnya sendiri karena sudah gagal menyelamatkan manusia dari problem kehidupannya. Dan, problem kehidupan tersebut memang hasil produk peradaban kapitalisme dengan instrumen politiknya bernama demokrasi yang kini dijadikan sistem kehidupan di banyak negara termasuk di negeri ini.

Waduh, serius amat ya? Hehehe… sekali-kali serius dong Sobat. Lagian apa nggak bosen kalo masalah remaja yang dibahas cuma musik, pacaran, pergaulan, pertemanan, dan problem jati diri? Sekali-kali mikirin kondisi umat manusia kan lebih oke. Tambah wawasan.

Jangan lagi ada yang ngeles untuk nggak nerima ideologi Islam diterapkan sebagai ideologi negara dengan alasan di negeri ini kan bukan cuma kaum muslimin, tapi ada yang beragama lain. Memilukan sekali kalo ada seorang muslim berpandangan seperti itu. Apakah dia nggak baca sejarah? Islam, ketika digdaya dan menjadi kekuatan yang meruntuhkan Persia dan Romawi di masa itu, adalah negara dengan Islam sebagai ideologinnya. Warga negaranya pun bukan cuma kaum muslimin. Tetapi ada pemeluk agama lain. Tetapi mereka mendapat jaminan keamanan sebagai warga negara. Jadi nggak usah mangajari Islam dengan toleransi karena Islam sudah lebih dulu mencontohkannya langsung.

Nah, kalo gitu apa solusi Islam untuk mengatasi problem kehidupan saat ini? Perubahan! Hah? Hanya dengan perubahan? Ngimpi kali ya? Hehehe.. jangan nyolot dulu dong. Kamu emangnya nggak mau berubah dalam hidup? Pengennya gini-gini aja? Yakinlah bahwa setiap manusia rindu dan berusaha mewujudkan perubahan hidupnya: dari miskin jadi kaya; dari bodoh jadi pinter, dari pegawai biasa jadi manager, dari pedagang biasa jadi pemilik perusahaan besar. Kalo kita suka perubahan untuk hal-hal duniawi itu, apa nggak kepikiran kita berubah untuk urusan akhirat kita juga? Misalnya, dari sering maksiat menjadi ahli ibadah, dari tukang bohong menjadi pejuang kejujuran, tadinya berakhlak buruk ingin berubah jadi akhlak yang mulia. Termasuk tentu saja, kita ingin berubah dari kehidupan yang gelap menjadi terang. Dari cengkraman kapitalisme-sekularisme yang sudah menyengsarakan menjadi hidup sejahtera dengan syariat Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Ssst.. kalo baca istilah Khilafah Islamiyah kayaknya pikiran kamu langsung konek ke sebuah gerakan dakwah tertentu yang identik dengan istilah ini. Salah besar tuh. Kaum muslimin, termasuk kamu, seharusnya memperjuangkannya. Dalam kitab Fiqh Islam pada Bab XV, karya H. Sulaiman Rasjid saja, yang dijadikan rujukan di beberapa sekolah berbasis agama ada kok pembahasannya. So, jangan asal nuduh aja karena sejatinya masalah tersebut sudah dibahas para ulama sejak lama. Ooh, jadi solusinya adalah menerapkan syariat Islam untuk mengganti sistem yang ada sekarang? Tepat! Itu pun kalo kamu dan kaum muslimin semua nggak mau terus dicekik konflik dan didera nestapa sepanjang hayat. Gimana?  [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Come On Sobat, Yuk Selamatkan Negeri Kita…"