Lelah dan Sengsara dalam Sistem Kapitalisme

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Lelah

Pak, kami lelah…
Ketika kami harus membayar uang kesehatan karena seharusnya tidak
Pak, kami lelah…
Ketika kami harus membayar uang pajak untuk pembangunan negara ini karena seharusnya tidak
Pak, kami lelah…
Ketika kami melihat di tv begitu banyak pemerkosaan yg terjadi karena seharusnya tidak
Pak kami lelah…
Ketika setiap hari kami disuguhi  berita  korupsi karena seharusnya tidak
Pek, kami lelah..
Ketika kami harus melihat sumber daya alam Indonesia dikuasai oleh asing, karena seharusnya tidak
Pak, kami lelah..
Ketika kami harus terus mengawasi  anak  lebih ekstra dari orang-orang jahat demi keselamatnnya karena seharusnya tidak
Hidup dalam sistem kapitalis yang hanya membuat kami lelah……kami terzolimi…kami tertindas…kami sengsara…padahal kami adalah mayoritas…
Sekali lagi…..kami lelah pak

Puisi di atas merupakan gambaran penulis, tapi apakah saya sendiri? Tentu tak berbeda jauh dengan anda, karena kita semua hidup di bawah aturan sekuler kapitalis. Sebuah aturan yang dianggap mampu untuk membuat negeri ini mampu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun ternyata tidak!.

Sistem kapitalis-sekuler merupakan sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama ditempatkan pada ranah urusan individu masing-masing masyarakat saja tanpa harus ada paksaan bagi penganutnya untuk melaksanakan kewajiban yang ada dalam agama tersebut. Sedangkan dalam pengaturan urusan kehidupan, agama tidak boleh hadir di sana. Hak asasi, ketika seorang mau mengerjakan apa yang diperintahkan dalam agamanya atau tidak. Dan anehnya negara ini masih malu ketika mengatakan sistem yang digunakan adalah sekuler. Karena faktanya mayoritas penduduk negeri ini adalah Islam.

Lihatlah!

Sistem pemerintahan yang diterapkan masih menganut sistem trias politika dimana pemerintahan dibangun oleh legislatif, eksekutif dan yudikatif. Legislatif sebagai lembaga yang membuat Undang-undang telah berhasil membuat negara ini menjadi negara liberal bahkan sangat liberal. Perhatikan bagaimana sumber daya alam yang ada di atas muka bumi negara Indonesia, terhampar dari sabang sampai merauke telah banyak di kuasai asing. UU Migas No. 22 tahun 2001 yang dalam pembuatannya dibiayai oleh USAID dengan tujuan agar sektor migas diliberalisasi dan terjadi internasionalisasi harga yaitu harga domestik disesuaikan dengan harga internasional, dan pihak asing boleh masuk ke sektor hilir yang sangat menguntungkan bahkan resikonya lebih kecil dibandingkan sektor hulu.

Kita dapat melihat Undang-Undang yang pro asing selain UU Migas  adalah UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, UU No. 24 1999 sistem Devisa Bebas, UU No. 19 2003 tentang BUMN (okezone.com). Dan melalui undang-undang ini  swasta dan asing semakin kuat mencengkeram Indonesia.

Buruh pun tak lepas dari permainan ini semua. UU No.13 tahun 2013 tentang  Ketenaga kerjaan tak luput dari permainan kongkalingkong para pengusaha, dimana  akhirnya buruh dapat diperlakukan sesuai keinginan pengusaha. Pengusaha sebagai pemilik perusahaan akan merasa kuat ketika melakukan PHK karena dilindungi Undang-undang. Buruh terdzalimi oleh perusahaan dengan adanya UU ini.  Sehingga akan semakin sulit untuk menjadi karyawan yang  bisa mendapatkan hak-hak sebagai seorang pekerja. Lagi-lagi rakyat dari kalangan menengah ke bawah yaitu buruh dan karyawan yang merasakan ketidakadilan.

Perzinahan meraja lela, dalam sistem kapitalis perzinahan merupakan sesuatu hal yang diperbolehkan selama pasangan tersebut didasari suka sama suka, perzinahan legal bahkan di lokalisasi.  Atas dasar hak asasi seseorang bebas berperilaku.  Sungguh sistem ini sangat tidak memanusiakan manusia

Dalam sistem peradilan sangat jelas sekali banyak kasus yang tidak  berpihak pada  rakyat. Masih ingat bagaimana kasus Nenek Asyani,  Kasus Nenek Minah dengan tuduhan mencuri 3 buah kakao, kasus Manisah dengan tuduhan mengambil buah randu dengan nilai  Rp  12.000 yang akhirnya di vonis 24 hari.  Kasus Basar dan Kholil dengan tuduhan mencuri 1 buah semangka dan di vonis 15 hari penjara. (Banyuasnews.com). Ini semua sangat jauh berbeda dengan kasus kasus korupsi milyaran yang kadang pelakunya divonis ringan tak sebanding dengan  kejahatannya bahkan kadang bebas.

Begitu pun dengan pajak, pajak merupakan iuran wajib yang harus dibayarkan. Tidak ada hal yang lepas dari pajak, makan di mall, belanja, rumah, gaji, semua tak luput dari pajak, dan akhirnya melalui tax amnesty  (pengampunan pajak) lagi-lagi pemerintah lebih  membela kepada para pengusaha, orang asing, dan orang kaya,  yang jumlahnya  jauh lebih sedikit dibanding rakyat kecil, sungguh sangat memprihatinkan.

Dalam bidang pendidikan pun tak ketinggalan, biaya pendidikan pun sangat mahal, walaupun program kompensasi  telah dikeluarkan melalui dana BOS yang dimulai  di bulan Juli tahun 2005, ternyata belum bisa mengatasi seluruhnya. Tetap saja untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. 

Di bidang kesehatan, melaui program BPJS, kesehatan akan diberikan sesuai dengan apa yang kita bayarkan, pemerintah memberikan kewenangan pengurusan kesehatan kepada badan ini, alih-alih rakyat juga yang harus membayar. Padahal kesehatan gratis yang selalu dijadikan alat pada saat para calon petinggi negeri ini berkampanye. Rakyat lagi yang jadi korban.

Jika kita melihat berita di media cetak dan eletronik,  tak ada hari tanpa pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, kemiskinan, kekerasan dan kejahatan apalagi entah. Nyawa sepertinya lebih murah, orang-orang yang terhormat banyak yang melakukan korupsi. Berdasarkn data kementerian dalam negeri tahun 2015 saja ada 343 kepala daerah yang berperkara hukum baik dikejaksaan, kepolisian maupun KPK. Sebagian besar   tersangkut masalah pengeloalaan keuangan daerah (kompas.com).  Ini menun jukkan sistem ini malah berpeluang kepada para pelaku pemerintahan untuk melakukan tindakan yang melanggar.

Itulah sedikit gambaran betapa kita sangat merasakan kesengsaraan dan kelelahan dalam sistem kapitalis ini.  sistem yang masih diterapkan di bumi Indonesia dan di dunia, sistem yang katanya baik, namun faktanya sistem ini sangat jauh keperpihakannya kepada umat dan rakyat.  

Islam Sangat Sempurna

Islam tidak hanya sebuah agama yang mengatur urusan dalam perkara ibadah ritual saja, jauh dari itu Islam mengatur segala aspek kehidupan. Apa yang tidak ada dalam Islam? Kita lihat bagaimana Islam mengatur hal-hal yang kecil, seperti bangun tidur, mau makan, berpergian, pernikahan, dan pergaulan, semua tuntas dibahas dalam Islam. Apalagi untuk mengatur urusan ekonomi, rakyat, pemerintahan, politik dan lain-lain, sudah pasti ada dalam Islam. 

Sejarah pernah mencatat 14 abad Islam pernah diterapkan di muka bumi ini dan hasilnya peradaban emas pernah tertulis dalam sejarah. Islam diperuntukkan tidak hanya untuk untuk umat Islam, tapi untuk umat seluruh alam karena Islam rahmatan lilalamiin. Peristiwa ini pun luput dari sejarah, karena uamt Islam  pada saat ini sedang dijajah melaui 3 F, Fun, Fashion dan food, hingga pelajaran berharga tentang masa kejayaan Islam lewat bingkai Khilafah luput dari kita semua.

Islam sangat mengharamkan memberikan sumber daya alam kepada swasta dan asing, Tetapi, wajib dikelola oleh pemerinttah dan keuntungannya diberikan kepada rakyat. Sesunggunya manusia berserikat dalam tiga  hal air, api dan padang rumput (Al-Hadist)

Dalam dunia pendidikan sebagaimana dituturkan Al-Baghdadi (1996) dalam Sistem Pendidikan di Masa Khalifah, Islam  mengalami massa kegemilangan , banyak tokoh-tokoh kalangan muslim yang teorinya sampai sekarang masih dipergunakan. Penghasilan seorang guru pada masa Umar bin khottob  mencapai 15 dinar setiap bulan (1 dinar =4,25 gr). Sekolah pada masa khalifah al-muntashir di Kota Baghdad, telah mampu menggratiskan hingga ke perguruan tinggi dengan mengambil kas dari Baitul maal, begitu pun Madrasah nasiriyah di Damaskus yang didirikan pada abad keenam Hijriah 

Dalam peradilan kita mengenal bagaimana sosok Umar bin Khottob yang pada saat itu adalah orang nomor satu di wilayahnya , kalah oleh seorang yahudi dalam kepemilikan baju perang, karena pada saat itu Amirul Mukminin hanya bisa mendatangkan saksi dari keluarganya dan ditolak oleh majelis hakim. Akhirnya majelis  hakim pun memenangkan kasus ini kepada yahudi. Tak berapa lama orang Yahudi pun masuk iIslam karena sangat kagum akan aturan Islam., Karena  Yahudi itu merasa memang baju perang itu milik Umar.

Terkait pajak, Islam mengatur bahwa pajak akan diminta kepada rakyat jika kondisi Baitul Maal sedang kosong, dan hanya meminta pada orang kaya saja. Melaui pos zakat delapan asnaf termasuk fakir dan muskin justru akan diberikan haknya.  

Sejarah telah mencatat bagaimana akhirnya  Bani Qainuqa diusir hanya karena seorang yahudi  telah mengikat baju wanita arab hingga aurat wanita tersebut tersingkap, dan akhirnya terjadi pembunuhan terhadap yahudi tersebut. Dengan kejadian itu Rasululllah dan umat Islam tidak dilecehkan, malah keberadaan mereka diperhitungkan oleh orang kafir di sekelilingnya. 

Masih banyak keunggulan-keunggulan dalam sistem Islam dibanding dengan sistem Kapitalis buatan anusia ini. Jika dilihat dari sisi pembuatan aturan kehidupan,  seistem kapitalis berasal dari manusia yang serba terbatas, lebih mengedepankan hawa nafsu dan  lebih sering lupa dan salah, sedangkan Allah Swt, tak pernah salah, sempurna, dan tak punya kepentingan dan hawa nafsu. 

Untuk itu dari sisi mana kita ragu akan aturan yang berasal dari Islam? Ragu akan kebenarannya, ragu akan mampunya aturan Islam menyelesaikan semua kemelut yang terjadi dimuka bumi ini, sekali lagi Islam bukan hanya untuk penganutnya saja, aturan Islam akan  dirasakan oleh umat yang mau menerapkan aturan Islam. Rakyat akan terjauh dari rasa lelah dan sengsara menjalankan kehidupan ini.

Memang perjuangan untuk menerapkan hukum Allah ini bukan perkara mudah tapi juga bukan yang tak mungkin karena Allah telah berjanji akan memenangkan, sebagaimana firmanNya  “Allah telah berjanji pada orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara kalian bahwa mereka akan menjadi penguasa di muka bumi sebagaimana allah telah memberi kekuasaan (khalifah) pada orang-orang sebelumnya, dan Allah akan mengokohkan  agama dan ajaran yang mereka ridhoi dan menggani ketajkutan mereka dengan keamanan dan ketenangan" (Q.S An.Nuur:55). Wallahu ‘alam bishshowab. [VM]

Pengirim : Yani Suryani (Pengajar MI)
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Lelah dan Sengsara dalam Sistem Kapitalisme"