Efek Negatif Deradikalisasi dan Monsterisasi Aktivis Islam

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Fauzi Ihsan Jabir 
(BKLDK Kota Bandung, Mahasiswa Jurusan Pekerjaan Sosial)

Masih terngiang oleh masyarakat umum ultimatum 9/11 ditahun 2001 oleh mantan presiden Amerika Serikat George W. Bush “Semua bangsa punya pilihan sendiri. Apakah mau bergabung bersama kami atau ingin bersatu dengan teroris”.  Ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja, ultimatum ini menimbulkan isu sentimentil masyarakat luas akan makna teroris itu sendiri. Gencarnya amerika meproklamatori War On terorism sudah menjamah negara-negara nation state lain untuk memperkencang sabuk undang-undang anti teroris. Isu ini digunakan untuk menginvasi negara-negara mayoritas muslim dengan dalih menyelamatkan dunia agar damai dari ajaran radikal. Jika kita lihat seperti halnya kasus Iraq yang di bombardir oleh Amerika, alasannya sebagai pahlawan kesiangan membongkar kedok senjata pemusnah massal milik Saddam husein yang ternyata sampai saat ini tak ada buktinya. Ultimatum busuk ini digunakan juga untuk membunuhi rakyat tak berdosa Afghanistan dengan dalih membasmi Al-Qaeda. Obama penerus rezim era kapitalis-sekuler juga menggunakan dalih ini sebagai ajang oportunistis menggempur dataran suriah sampai saat ini. Entahlah berapa juta jiwa korban lagi yang diinginkan oleh mereka para penggemuk borjuis.

Amerika sebagai pencetus War on Terorism ini seakan-akan kebingungan dalam menyelesaikan perang yang tiada kunjung akhir, pasalnya Perang ini berbeda dengan perang dingin layaknya di World War II. Sampai saat ini, belum ada definisi yang jelas mengenai bagaimana standar kemenangan dalam perang melawan sekelompok non-state actor yang tidak berwilayah dengan jaringan yang meluas di seluruh dunia. Tak ada ibukota yang bisa ditaklukkan, kematian pemimpin tidak menyurutkan langkah organisasi tersebut, kematian satu pemimpin dengan cepat digantikan oleh pemimpin yang lain. AS sendiri terjebak dalam labirin kebingungan saat ditanya bagaimana mereka mendefinisikan kemenangan dalam perang yang dideklarasikan oleh Bush tersebut. Kebingungan tentang bagaimana cara mengakhiri perang global melawan teror ini dimulai dari para pimpinan puncak dan menetes ke para analis intelijen. Kebingungan yang dialami oleh para analis di CIA mencerminkan paradoks dalam Perang Melawan Teror: Amerika melakukan peperangan, namun tidak ada tujuan yang jelas. Ada musuh, namun mereka lebih sebagai sebuah jaringan dibanding sebagai sebuah entitas. Ada tujuan, namun tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kemenangan.

Dari kebingungan ini terlihat bahwa ada maksud terselubung dalam perang melawan teror yang sudah mendunia. Jika dikaitkan maupun dibenturkan dengan fakta nyata bahwa WAR ON TERORISM hanya tertuju pada umat muslim, tak ada yang lain. Fakta sejarah sudah nampak di depan mata namunsering mengelabui hati kaum muslimin. Bergantinya presiden Negara adidaya Amerika dari rezim ke rezim tidak akan merubah apapun karena tujuannya sama yaitu melanggengkan sistem kapitalis-sekuler yang harus ada di setiap negara nation state. Kepentingannya tidak lain untuk mengkokohkan penjajahan ekonominya dan meneror bahkan jika perlu menggulingkan lawan politiknyayaitu memastikan negara dunia ketiga untuk tetap menggunakan Demokrasi sebagai nekanisme politik kenegaraan dan menjamin aset SDA/SDE di negara tersebut agar tetap dalam cengkraman AS dan Sekutunya.

pemerintah melakukan proyek deradikalisasi termasuk adanya deputi secara khusus yang menangani deradikalisasi di BNPT. Tetapi deradikalisasi yang dilakukan selama ini menempuh jalan yang keliru. Bukan untuk menghilangkan radikalisme itu. Tetapi deradikalisme mengambil bentuk radikalisme baru. Inilah dua ekstrimitas. Dari radikalisme dan deradikalisme.  Justru cara seperti ini malah melanggengkan makna terorisme sendiri, dimana pasukan khusus dapat bertindak layaknya banteng kesurupan yang siap menyeruduk target hingga tewas, tanpa ampun, sikat di tempat, tanpa pengadilan.

Peranan deradikalisasi mulai mengakar kuat pada sendi-sendi kehidupan tanpa disadari stigmatisasi sudah terbentuk tanpa tahu maksud tujuan sebenarnya yang sudah dibentuk sedemikian rupa selama lebih dari satu dekade. Bola salju menggelinding semakin membesar tanpa tahu arah dan tujuan. Pembicaraan ini juga ditopang oleh media-media liberal berkepala uang yang terus memasak dan meramu deradikalisasi menjadi bahan olahan nikmat siap disantap oleh ummat. Media sudah gelap mata saat mendapat isu mengenai Islam, objektivitas seakan tidak menjadi patokan dalam memuat berita. Berulang-ulang berita dimuat dengan fakta lapangan yang dangkal, tendensius berlebihan, provokatif, hingga menyudutkan.

Buah Psikologis Sosial Deradikalisasi

Sedemikian jahatnya berbagai pihak terus menyudutkan Islam, membuat korelasi fluktuatif yang membengkokkan alur pikir masyarakat menjadi disorder implementatif. Terbentuknya pemikiran di tengah masyarakat luas yang berpaham neoliberal-sekuler, aspek ruhiyah hanya sampai pada tataran rumah ibadah tanpa dapat masuk dalam keseluruhan kehidupan. organisasi-organisasi Islam dicurigai sebagai sarang paham ajaran radikalisme, rohis-rohis dianggap sebagai alat masuk utama paham ajaran garis keras, ibu-ibu mulai khawatir dengan anaknya yang semakin rajin ibadah hingga jidatnya menghitam namun saat ikut kegiatan duniawi yang menjurus kepada kemaksiatan dianggap hal biasa dan lumrah. Apalagi tahu anaknya sebagai aktivis pergerakan Islam, wah bisa diintimidasi dan diintrogasi berlebihan. Hal yang wajar kasih sayang dan kekhawatiran orang tua, namun kadar sayang itu seakan berlebihan dan gelap mata akan fakta yang sudah dibangun negara Imperialis dan sekutunya.

Sekolah-sekolah mulai mendatangkan artis Ibu kota berkali-kali dengan lancar, tapi saat ada kegiatan keagaman mau mendatangkan ustadz dari ini dan ini harus lihat latar belakangnya terlebih dahulu. Apakah orangnya atau apa yang disampaikan yang dilihat? Ummat lebih curiga terhadap ajaran Allah dari pada ajaran setan. Tataran ini mengakibatkan masyarakat dalam memaknai Islam sangatlah dangkal, pemahaman ini menyebabkan masyarakat Indonesia membedakan menjadi dua kategori Islam indonesia yang moderat dan Islam timur tengah yang keras dan radikal. kita tahu bahwasannya Islam adalah satu kesatuan yang utuh jika tangannya sakit maka anggota badan yang lain juga akan merasakan kenyeriannya. Tidak ada perbedaan Islam indonesia dan Islam-Islam di berbagai penjuru dunia yang ada selama merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Itupun jikalau terjadi perbedaan pasti hanya dalam kaedah furu’iyyah saja.

Psikologis masyarakat Indonesia yang pada umumnya sangat erat dengan Islam mulai luntur dan menjadi semakin Islamopobhia. Diciptakan ketakutan berlebih menjadikan Islam sebagai agama nafsi-nafsi, Islam yang tidak boleh berontak dan nurut apa kata pemerintah yang sedang mendzolimi dan menindas tanpa batas. Polarisasi yang dibangun secara matang dan terus menerus dihantam dari sana sini bahwa hulu penyebab ide radikal adalah orang-orang muslim, hingga menimbulkan kesepahaman disebagian besar masyarakat bahwa ada ajaran Islam yang menyimpang. Sangat ditakutkan jika pengaruh dan pola ini berimplikasi pada penggembosan syariah Islam.

Kemiskinan menjadi komponen mudahnya individu menjadi pribadi yang labil dan frustasi dalam ruang sosial. Dalam jumlah komunal akan menjadi “magma” yang kapan saja bisa meletup seperti halnya bara dalam sekam tinggal menunggu momentum dan pemicunya. Begitu juga keterbelakangan, menjadikan paham-paham yang kurang tepat meluncur bagaikan bola salju tanpa ada saringan-saringan khusus.

Dampak Sosial Mengglobal 

Kecurigaan-kecurigaan hingga stigmatisasi menimbulkan dampak kesenjangan sosial antara masyarakat umum nan jumud dengan masyarakat yang sudah tersadarkan. hal ini dapat dilihat dalam beberapa hal :

1. Anomie
Yaitu keadaan dimana seseorang sudah tidak mempunyai pegangan apapun dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai yang ada sudah mulai luntur bahkan hilang sama sekali. Terdapat pula disorientasi nilai maupun norma yang sudah dibelokkan dalam alam bawah sadar masyarakat. Digantikan dengan nilai dan norma baru yang menjadi pegangan maupun konsep secara umum.

2. Perubahan Tingkah Laku
Secara nyata dan gamblang perubahan ini berdasar kepada nilai dan norma yang sudah mulai digeser hingga menjadikan alur pikir ditransformasikan kedalam pola perilaku. Dibentuklah orientasi pola sikap dan tingkah laku atas upaya deradikalisasi yang bercokol pada barat yang jelas mereduksi Islam.

3. Munculnya lembaga-lembaga Baru

Upaya ini memunculkan lembaga-lembaga baru yang tidak jelas arah dan tujuannya, layaknya tujuan awal dibentuknya upaya negara Imperialis yang akan menjadikan faham kapitalis sebagai model baru penjajahan. Lembaga-lembaga ini sarat akan manfaat dari sang pencetus dan penggerak opini awal yang memulai penyebaran deradikalisasi menggelobal

4. Munculnya Konflik Horizontal maupun Vertikal
Konflik dan kekerasan muncul sebagai akibat adanya perbedaan sikap dan kepentingan dalam menghadapi perubahan sosial maupun dampak sosial.

5. Adanya Kesenjangan Sosial
Anggota masyarakat yang mampu bertahan dengan niali yang sesungguhnya maka perubahan tentu akan menjadikan survivalnya segelintir orang. Namun sebaliknya, apabila masyarakat tidak mampu melakukan penyesuaian, maka lama kelamaan akan semakin terbelakang dan mengalami penurunan kemunduran berfikir. Sehubungan bergulirnya perubahan, semakin lebar pula kesenjangan sosial yang tercipta dalam hubungan antara dua keadaan yang saling bertolak belakang.

6. Balik Menyerang
Upaya deradikalisasi ngawur akan berdampak sosial psikologis pula terhadap masyarakat yang cinderung gerah melihat upaya ini sebagai bahan subjektivitas orang berkepentingan. Menimbulkan perlawanan masyarakat yang Sangat mungkin mengakumulasi menjadi rasa frustasi dan dimanefestasikan dalam bentuk “pemberontakan” dalam berbagai ragam wajahnya.

7. Deradikalisasi Menjadi Terorisasi
Upaya pembendungan dengan kriteria atas dasar kepentingan memunculkan terorisasi oleh pihak-pihak yang mempunyai maksud (amerika dan sekutunya) secara membabi buta atas nama memberantas teror di muka bumi.

8. Islamophobia
Ketakutan tersendiri terhadap Islam secara keseluruhan dan kemunduran berfikir sebagai muslim seutuhnya.

Hal ini berakar pada bentuk tahrif (penyimpangan) dan tadzlil (penyesatan) terhadap publik khususnya umat Islam. Dampak sosial akan terus menjangkit dan akan semakin membumbung tinggi jika akar permasalahan tidak kunjung dicabut. Maka umat harus kembali disadarkan bahwa mereka harus bangun dan bergerak menyuarakan penerapan Islam secara Kaffah sebagai upaya hegemoni barat dalam menyebarkan paham adu domba yang menciderai umat. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Efek Negatif Deradikalisasi dan Monsterisasi Aktivis Islam"