Selamat Datang di Kampus Perjuangan

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Taufik Setia Permana 
(Aktivis Gema Pembebasan Malang)

Bagi mahasiswa mungkin sudah tidak asing lagi dengan slogan-slogan Agent of Change, Social Control, Moral Force, dsb. Slogan yang pasti diteriakan ditengah-tengah mahasiswa baru ketika pengenalan kehidupan kampus. Seolah-olah slogan ini bagaikan rangsangan yang dapat menghipnotis mahasiswa baru yang sebelumnya hanya bergelar pelajar SMA yang imut.

Terlepas dari itu semua, kita patut mengetahui kenapa sebutan itu menjadi gelar prestisius bagi mahasiswa. Kebranian mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan pemerintah menjadi kepercayaan pada masyarakat sebagai penyambung lidah dalam menyampaikan aspirasi. Peristiwa 1998 bagi mahasiswa mungkin menjadi moment yang tak terlupakan.

Kala itu Jakarta dipenuhi lautan mahasiswa yang menuntut reformasi bangsa, setiap sudut kota terdengar sorakan-sorakan yang menggugah jiwa. Amin Rais sebagai tokoh politikus terlibat langsung dalam proses revormasi. Pidatonya-pidatonya dihadapan mahasiswa sempat menggetarkan panggung kegundahan hati pada saat itu. Harmoko sebagai ketua DPR secara terbuka berbicara dihadapan seluruh anggota DPR untuk mendukung pengkudetaan Soeharto. Cak Nun sebagai budayawan lewat tulisan sebuah artikel berjudul “Selebaran Terang Benderang; Tentang 11 Mei, Dewan Negara, dll” yang memperingatkan Soeharto untuk turun dari jabatannya. Ribuan mahasiswa turun ke jalan yang memenuhi sudut-sudut jalan ibu kota berperan besar dalam menyuarakan reformasi.

Hingga pada tanggal 19 Mei 1998 President Soeharto memutuskan untuk mengundurkan diri. Keadaan yang mengubah situasi yang mencengkam menjadi senyum kegembiraan. Namun sepertinya peristiwa tersebut seperti mimpi yang berlalu begitu saja.

Kali ini kita melihat dua kondisi cerminan yang berbeda. Dulu semangat mahasiswa sebagai Agent of Change pada masa-masa kritis itu terlihat nyata. Sekarang hanyalah tertinggal semangat untuk dipuji karena sifat alayn didepan kamera untuk berlomba-lomba mempublikasikan aktivitas sehari-harinya. Apakah semurah ini mahasiswa menjual idealismenya?

Gaya hidup hedonis dan tertancapnya pemikiran kapitalis di pikiran mahasiswa penyebab utama kemunduran pegerakan mahasiswa era ini. Matre, mungkin benar jika kita menyebutkan mahasiswa sekarang ini hanya beroriantasi kepada uang. Mahasiswa di mabukkan dengan kegiatan-kegiatan berbasis uang yang menggiurkan. Beasiswa yang diidam-idamkan menjadikan tolak ukur untuk memperoleh uang. Artinya bukan untuk mengkerdilkan profesionalisme mahasiswa akan tetapi sungguh disayangkan jika aktivitasnya hanya sebatas memenuhi kehidupan individu saja dengan mengkesampingkan ridha Allah dalam memberikan rezeki. Sungguh tidak adil, ketika kita sibuk dengan urusan pribadi akan tetapi banyak masyarakat yang menjerit memanggil nama kita.

Inilah kondisi sangat mengkawatirkan, ketika mahasiswa mengerti permasalahan umat namun dia acuh dengan permasalahan tersebut, lebih parahnya jika ada mahasiswa merasa sekarang ini tidak ada permasalahan apapun.

Kita sebagai mahasiswa muslim harusnya menyadari hal tersebut. Pengambilan segala konsep berfikir tanpa adanaya filterisasi merupakan gerbang penghancur pemikiran. Sebagai seorang muslim patutnya kita menstandarkan dalam berfikir secara keseluruhan menggunakan tolak ukur Islam. 

Permasalahan yang selama ini membelenggu pada pemikiran mahasiswa adalah ketidak tuntasnya mengenai pertanyaan yang mendasar namun jika dapat menawabnya secara tepat dengan maka akan merubah cara pandang maka seharusnya perlu kita menanyakantan pada diri kita masing-masing mengenai untuk apa kita hidup? Siapa yang menciptakan sebelum dan sesudah kehidupan ini?

Jika kita memandang bahwa islam adalah konsep berfikir yang mendalam maka kita akan dapati bahwa segala urusan hanya untuk beribadah kepada Allah, termasuk perjuangan mahasiswa yang sekarang ini seharusnya disandarkan hanya untuk mencari ridhanya Allah. Pertanyaannya apakah ide mahasiswa yg sekarang ini diperjuangkan dengan sekuat tenaga sesuai dengan syariat agama yang diridhai Allah?

Padahal Allah berfirman “Dan siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al Imran: 85)

Artinya bahwa tidak ada jalan lagi selain memperjuangkan syariat Islam. Tentu kita sebagai mahasiswa tidak hanya sekedar memprjuangkan reformasi belaka akan tetapi perlu adanya revolusi yang tidak lain adalah revolusi islam. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Selamat Datang di Kampus Perjuangan"