Menuai Banyak Kritikan, MENDIKBUD Cabut Wacana Penambahan Jam Sekolah

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh: Puput Hariyani, S.Si
(Staf Pengajar di SMK Kesehatan Mitra Persada Nusantara Jember)

KONTROVERSI! Setidaknya itulah kata yang tepat untuk mewakili gagasan yang baru saja dicetuskan oleh Mendikbud baru Muhadjir Effendy yaitu Full Day School atau sekolah sepanjang hari. Dengan ide itu pulalah nama beliau dikenal sangat cepat oleh masyarakat, yang seakan memberikan angin segar bagi arah pendidikan negeri ini. Diterapkannya sistem ini diharapkan bisa membangun karakter anak. Seperti pernyataan beliau yang dikutip Kompas.com di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), “Agar mereka (anak) tidak liar di luar sekolah ketika orang tua belum pulang kerja”. Menurut Muhadjir pendidikan dasar selama ini keteteran menghadapi kemajuan jaman. Akibatnya, sistem pendidikan belum menghasilkan lulusan tangguh dan berdaya saing tinggi. Anak muda sekarang masih banyak bermental lembek dan tidak tahan banting. Selain itu, agar para siswa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan kegiatan kontra produktif seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dsb. Namun demikian, wacana program Full Day School sendiri menimbulkan berbagai pendapat di kalangan masyarakat. Banyak pihak yang menyangsikan ke-efektifan gagasan baru ini. Menurut pemerhati anak yang juga Ketua Umum Lembaga Pendidikan Anak Indonesia (LPAI), Kak Seto Mulyadi, agar wacana tersebut dipelajari dan dipertimbangkan dengan menerima masukan dari seluruh pihak. “Jangan terburu-buru tapi akhirnya enggak matang. Harus dilihat pula kesiapan sekolah untuk memberlakukan sekolah hingga pukul 5 sore. Sekolah hingga pukul 1 siang saja banyak yang stress apalagi akan ada PR dan sebagainya,“ saat berbincang dengan detikcom, senin (8/8/2016). Hal senada juga diungkapkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta sistem ini harus dikaji secara komprehensif. Beliau menganggap kebijakan ini jika dipaksakan hanya akan menimbulkan sejumlah persoalan, terutama di pedesaan. Ganjar mengaku sudah melakukan evaluasi soal sistem ini, bahkan menyampaikan sekolah lima hari saja jadi geger di desa (Tribunnews, 8/8/2016). Akhirnya karena banyak menuai kritikan dari berbagai pihak, Mendikbut cabut wacana penambahan jam sekolah. Mendikbud juga menyampaikan banyak pihak yang salah paham terkait dengan penyebutan Full Day School, karena bukan terus-terusan sekolah sampai sore. Sekolah tetap setengah hari, tetapi yang setengah harinya diisi ekstrakurikuler.  

Hanya saja yang perlu dicermati, terlepas dari pencabutan yang sudah dilakukan oleh Mendikbud sendiri. Seharusnya banyak melakukan pengkajian sebelum menyampaikan gagasan-gagasan baru. Sehingga tidak muncul lagi istilah menteri baru, kurikulum baru, seperti ritual yang tak pernah ada ujungnya. Belum rampung pro-kontra terkait revisi kurikulum 2013, kini hadir gagasan baru yakni sekolah seharian. Sampai kapan sistem pendidikan negeri ini harus berganti. Bukankah seharusnya menteri terpilih melanjutkan titah dari menteri sebelumnya. Jika begini ceritanya berarti ada yang tidak beres dengan sistem pendidikan kita, sehingga harus sering berganti. Disadari atau tidak, hal ini jelas akan mengorbankan anak didik karena bingung  dengan kebijakan yang senantiasa berubah. Lagi-lagi akan dipilih sekolah pilot project untuk tes pasar atau sekolah percontohan dalam rangka try and error gagasan baru ini, anak didik kuk jadi ajang uji coba. Kembali pada pembahasan sekolah seharian, dengan alasan untuk membendung berbagai pemikiran menyimpang dan kerusakan lain diluar sekolah, akan tetapi kiranya hal tersebut dirasa tak akan cukup memperbaiki kualitas generasi dengan memperbanyak jam belajar di sekolah. Pasalnya pemikiran liberal dan sekuler yang di tanamkan di sekolah tak kalah besar pengaruh buruknya terhadap generasi. Mengapa dikatakan demikian, karena selama ini kurikulum pendidikan kita terbilang masih sangat sekuler dan liberal. Buktinya, konten materi ajar yang jauh dari pondasi agama, satu contoh materi ajar di buku penjaskes kelas XI tentang pacaran sehat yang memicu cara berpikir liberal, kemudian pada revisi K-13 dengan dihapusnya kompetensi inti KI 1 dan KI 2 yang hal tersebut justru memicu cara berpikir sekuler atau memisahkan agama dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Belum lagi apakah ada jaminan mereka sama sekali tidak mengakses internet, ini juga menjadi pintu kerusakan moral karena konten dunia maya juga sangat bebas tanpa batas. Dari sini jelas bahwa sesungguhnya masalahnya bukan sekedar terletak pada sekolah sehari atau dua hari atau seminggu sekalipun tetapi harus diiringi dengan perubahan kurikulum yang mampu membentuk kepribadian islami siswa, dan hal itu tak akan terwujud dengan kurikulum yang ada sekarang tetapi harus beralih pada kurikulum Islam.

Hanya saja kurikulum Islam saja di sekolah belumlah cukup, mengingat pendidikan di dalam Islam meniscayakan peran berbagai pihak termasuk di dalamnya adalah orang tua. Peran mereka tidak bisa digantikan oleh siapapun, baik sekolah ataupun lembaga penitipan anak dan lainnya. Karenanya kita harus berpikir komprehensif alias menyeluruh, Kita tidak bisa memandang masalah pendidikan itu berdiri sendiri tapi juga sangat terkait dengan bidang kehidupan yang lain, salah satunya adalah sistem ekonomi yang diterapkan oleh sebuah negara. Jika para orang tua terutama ibu tidak bisa optimal mengurus anaknya karena sibuk bekerja, justru seharusnya ada kebijakan dari negara untuk menghentikan pemberdayaan perempuan ala kapitalis yang merenggut sebagian besar waktu para ibu dan mendorong mereka bekerja di luar rumah dan mengabaikan pendidikan anak. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa ibu rela berbondong-bondong keluar rumah untuk banting tulang atau bahkan harus meninggalkan si buah hati bertahun-tahun menjadi TKW keluar negeri meski taruhannya adalah kehancuran moral putra-putrinya? Sebagian besar alasan mereka adalah karena himpitan ekonomi. Berarti jika benar demikian, pemerintah seharusnya menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya yang mudah diakses oleh para ayah agar mereka cukup membiayai kebutuhan keluarganya tanpa harus melibatkan para ibu untuk terjun bekerja mengejar pundi-pundi rupiah. Kalaupun bukan himpitan ekonomi bisa jadi untuk mengejar gaya hidup yang serba konsumtif sehingga mau tidak mau mereka harus punya uang untuk itu semua, para penikmatnya akan kembali pada para pemilik modal sebagai aktor ekonomi kapitalis. Maka dari itu, urgensi perubahan sesungguhnya bukan hanya terletak pada kurikulum pendidikan semata, tetapi tatanan kehidupan secara menyeluruh mulai dari sistem pendidikannya, sistem ekonomi, sistem politik, sistem pergaulan, dll. Tatanan kehidupan yang bersumber dari Sang Maha Penciptalah yang layak menjadi solusi nyata dan tuntas untuk masalah generasi dan problematika negeri ini. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang mampu menerapkan tatanan kehidupan Islam tersebut dan menghantarkan manusia menuju kemuliaannya. Wallahu’alam bi ash-showab. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Menuai Banyak Kritikan, MENDIKBUD Cabut Wacana Penambahan Jam Sekolah"