Dibalik Penembakan Imam Masjid New York

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Aniyatul Ain, S.Pd
(Aktivis MHTI Banten)

Dor!!! Dor!!! Pistol ditembakkan. Tak lama kemudian jatuh korban. Penembakan telah terjadi di daerah Queens, New York, Amerika Serikat. Suara tembakan terdengar sekitar pukul 13.55 waktu setempat. Korban yang tertembak adalah dua orang Muslim warga Queens: Maulama Akonjee (55) sebagai Imam Masjid Jami’ Al-Furqan dan Thara Udin (65) asistennya. Seperti yang dilansir ROL (Republika On Line) korban tertembak di kepala dari jarak dekat. Pelaku mengintai korban dari belakang. Pelaku sama sekali tidak mengambil uang sepeser pun padahal saat itu korban sedang membawa uang seribu dolar AS. Kedua korban adalah Imigran Muslim asal Bangladesh. Keduanya langsung dilarikan ke Jamaica Hospital Medical Center namun nyawanya tak tertolong. (Republika On Line, Ahad, 14/08/2016).

Saksi mata Misba Abdin (47) yang berada di masjid saat penembakan dan merupakan pemimpin nirlaba di wilayah itu menjelaskan, imam tersebut sedang berjalan meninggalkan masjid di siang bolong dengan adik iparnya setelah emimpin shalat dzuhur ketika itu mereka ditembak.  Abdin juga menjelaskan bahwa imam adalah orang yang sangat religius, orang saleh, ia tidak berbicara kecuali bertindak. Hal ini juga senada dengan yang diungkapkan oleh Rahi Majid (26) keponakan Sang Imam. Rahi menjelaskan Sang Imam tidak pernah punya masalah dengan siapapun di lingkungan itu. “Dia tak akan menyakiti seekor lalat pun. Anda akan melihat dia datang dengan wajah damai, “ tambah dia. (ROL, Ahad, 14/08/2016). 

Muslim wilayah Queens menilai penembakan berasal dari kejahatan rasial dan Islamophobia berlebihan merebak di AS karena kampanye negatif calon Presiden Partai Republik, Donald Trump. Khairul Islam (33) seorang muslim yang juga warga setempat mengatakan kepada Daily News: “Kami menyalahkan Donald Trump untuk hal ini. Trump dan drama telah menciptakan Islamophobia.” 

Sebagai negara adidaya pengemban demokrasi tentunya memerlukan sosok pemimpin yang akan menjaga kepentingan AS di seluruh dunia, termasuk dunia Islam. Sosok Trump penuh percaya diri maju sebagai kandidat Presiden AS dari kubu Partai Republik. Memang selama ini Trump dikenal sebagai sosok anti Islam. Itu bisa dilihat dari berbagai pidatonya yang mendiskreditkan Islam dan umat Islam di AS. Trump mengusung isu terorisme sebagai “peramai” kampanye. Tentu tujuannya satu, menarik hati warga AS untuk memilihnya menjadi Presiden. Trump melarang imigran muslim masuk AS dari berbagai negara yang terindikasi terorisme. Larangan ini menurut Trump sesuai dengan konstitusi AS dengan alasan untuk menjaga keamanan. “Saya mencintai konstitusi kita, saya menghargainya. Kita akan membuat larangan ini demi negara kita,”katanya. (ROL, ahad (14/082016). Suasana politik yang memanas berdampak pada ketegangan masyarakat AS. Kebencian dan kecurigaan terhadap muslim AS meningkat. Bahkan paska tertembaknya Imam Masjid New York, warga Queens menilai ini sebagai kejahatan rasial yang dialamatkan kepada umat Islam.

Standar Ganda AS Terhadap Umat Islam

Berkaca pada peristiwa yang terjadi di Queens, New York pihak kepolisian setempat sudah menetapkan terdakwa atas kasus ini. Namun sayangnya tersangka hanya didakwa dengan pidana kepemilikan senjata api yang tidak sah. Bandingkan jika korban itu ada di pihak non-muslim, tanpa melalui proses penyelidikan yang sama pihak tertuduh pasti dialamatkan ke umat Islam dan sangat mudah dikaitkan dengan isu tendensius yaitu terorisme. Media pun bungkam jika lagi-lagi yang menjadi korban adalah umat Islam. Sebaliknya, jika korban ada di pihak non muslim, seluruh media ramai membicarakannya bahkan menjadi tag line di setiap pemberitaan. Ini menunjukkan bahwa standar ganda yang dilakukan AS terhadap ummat Islam benar adanya. 

Hal ini pun sejalan dengan pendapat Linda Sarsour, Direktur Eksekutif Masyarakat Arab Amerika  di New York dan Direktur Pertahanan Nasional untuk Jaringan Nasional Komunitas Arab Amerika yang mengungkapkan tentang laporan yang dikeluarkan FBI pada tahun 2011 bahwa rasisme terhadap orang kulit hitam Amerika tidak dibenarkan sama sekali bahkan sekalipun itu dilakukan secara rahasia. Lain halnya dengan intoleransi terhadap kaum Muslim, ini adalah suatu tindakan yang dapat diterima yakni sah-sah saja dilakukan oleh siapapun. Ironis. Negara adidaya pengusung toleransi seantero dunia tapi di negerinya sendiri intoleran terhadap umat Islam. Begitupula jargon AS adalah sebagai pemuja kebebasan, tinggal sebatas jargon. Tatkala umat Islam hendak menjalankan kewajiban agamanya tak juga diberi kebebasan.

Paska tragedi 911 tahun 2011 semua tindakan kekerasan yang terjadi di dunia dialamatkan kepada kaum muslim dengan dalih perang melawan terorisme. Siapa pun tau sejatinya war on terrorism its mean war on Islam. Negara pemberantas terorisme ini akan diam seribu bahasa tatkala negeri muslim hancur. Sebut saja Tragedi Gaza, Tragedi Irak dan Suriah dimana AS terlibat secara langsung dalam penghancuran ini. Padahal inilah bentuk kekerasan secara nyata. Tak tanggung-tanggung ribuan bahkan jutaan nyawa dibuat hilang karena ulahnya. Jika demikian, lalu siapakah yang layak disebut negara teroris kalau bukan Amerika itu sendiri?

Amerika “menduakan” umat Islam sangatlah wajar. Mengapa? Islam menurut pandangan Amerika tidak sebatas agama samawi yang mengatur urusan individu dengan tuhannya saja. Justru negara Superpower ini menyadari penuh rekam jejak kekuasaan Islam sebelum kehancurannya dulu. Ya, Islam dulu pernah berkuasa dan mendunia! Sebagai sebuah Ideologi Islam mampu meraih kembali peluang kejayaan seperti dulu. Rival Amerika sebagai pengusung Kapitalisme-Liberalisme sudah tumbang di era 1990-an yaitu Sovyet dengan ideologi Sosialisme-Komunisnya. Geliat kebangkita umat Islam di berbagai negara tidak bisa tertahankan. Maka negara Superpower ini akan melakukan seribu satu macam cara untuk membendung kebangkitan Islam. Karena kebangkitan Islam adalah kehancuran bagi kepentingan-kepentingan AS di negeri-negeri Muslim yang kaya raya. Jelaslah, sikap sentimen AS sangat beralasan mengingat umat Islam saat ini berjalan menuju kebangkitan. 

Islam Memperlakukan Non-Muslim

Sebagai sebuah diin yang sempurna, Islam punya seperangkat hukum yang terkait dengan warga-negara non-muslim. Diantaranya: Pertama, Non muslim diberi hak sepenuhnya untuk memeluk agama sesuai kehendaknya. Islam tidak memaksa siapapun untuk masuk kedalam Islam. Firman Allah lah yang menjelaskan demikian: “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam.” (TQS. Al-Baqarah [02]: 256). Kedua, harta, darah dan kehormatan non-muslim terjaga. Hal ini sebagaimana yang dulu Nabi SAW sabdakan “Siapa saja yang membunuh orang yang terikat perjanjian, mengurangi hak-hak mereka, memberikan beban diluar batas, merampas sesuatu darinya dengan paksaan, maka kelak aku pada hari kiamat akan menjadi penuntut baginya.” (HR. Abu Dawud). Demikianlah syariat Islam mengatur kehidupan antaragama. Keadilan dan kerukunan terwujud secara nyata ketika Islam yang berkuasa. Tidakkah kita merindukan hal ini?. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Dibalik Penembakan Imam Masjid New York"