Sisi Lain Skandal Panama Papers

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Taufik Setia Permana
Aktivis Islam Universitas Negeri Malang


Sebenarnya dalam kasus bocornya dokument Panama Papers Amerika mempunyai tujuan ganda, yaitu tujuan politik dan ekonomi. Adapun tujuan politik, Amerika lebih mengarahkan kasus ini kepada negara-negara rival seperti Rusia dan China. Namun sebenarnya kasus tersebut di fokuskan kepada Presiden Putin. Hal ini diakibatkan karena ada kaitanya dengan problem Ukraina dan Asia Tengah. Dalam tanya jawab dengan televisi Rusia: “tidak peduli seberapa aneh masalah tersebut, informasi-informasi ini memiliki kesan. Akan tetapi kami punya kesan bahwa itu tidak datang dari jurnalis akan tetapi dari praktisi hukum”. Putin mempertanyakan: “siapa yang melakukan provokasi-provokasi ini? Kita tahu bahwa mereka adalah pegawai di organisasi-organisasi resmi Amerika”. Ia menegaskan bahwa surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung yang mengungkap skandal tersebut adalah milik grup media yang berafiliasi ke lembaga-lembaga keuangan Amerika Goldman Sach. Peningkatan provokasi ini terjadi seiring dengan makin dekatnya tanggal pemilu legislatif Rusia pada September. dilansir oleh asy-Syuruq –shorouknews.com (14/4/2016).

Kasus Panama Papers menyebabkan tereksposnya para penikmat surga pajak. Sehingga dari situ-lah Amerika dapat menarik harta para kapitalis ke dalam penbankan Amerika yang jumlahnya fantastis. Para mafia yang terekspos dalam kasus Panama Papers itu hanyalah segelintir saja, selebihnya masih ada jaringan-jaringan besar di balik itu.  Skandal ini tidak akan selesai atau bahkan ada sekandal baru yang lebih besar apabila Ideologi kapitalis masih diterapkan di muka bumi ini.

Salah satu tujuan  dari Panama Papers adalah kemampuannya untuk mendestabilisasi sebuah negara. Terutama negara yang “dekat”  “ atau “mulai dekat” dengan Rusia dan Cina maupun negara-negara yang menolak ikut skenario besar AS dalam Trans Pacific Partnership (TPP). 

 Bagaimana kita membaca mencuatnya data “Panama Papers” dari sudut pandang geopolitik? Mari kita mulai dengan keanehan yang menyertai kemunculan informasi terkait Panama Papers tersebut.

Melalui data yang berhasil “dicuri” dari perusahaan Law Firm Mossack Fonseca yang diklaim bahkan lebih besar dari data yang berhasil “dicuri” oleh Wikileaks, beberapa foto kepala negara, birokrat bahkan keluarga/kerabat pemimpin sebuah negara dijadikan “tersangka”. Termasuk negara sekelas Rusia dan Cina. Tapi anehnya entah mengapa,  negara sekelas Amerika Serikat atau Jepang tidak termasuk di dalamnya. Ada apa ini? 

 Coba bandingkan dengan data tahun 2012 lalu ketika sebuah lembaga non pemerintah (NGO) bernama Tax Justice Network mengeluarkan sebuah report penting dengan tajuk “The Price Offshore Revisited: New Estimates for ‘Missing’ Global Private Wealth, Income, Inequality and Lost Taxes”.

 Berdasarkan riset serius yang diambil dari data IMF, Bank Dunia (World Bank), PBB, Bank for International Settlements (BIS) dan beberapa bank sentral beberapa negara ditemukan bahwa tak kurang dari USD21 sampai USD32 triliun diperkirakan ‘lenyap, tak terdeteksi dan 'untouchable’. Angka itu bukan hanya ulah dari satu perusahaan law firm asal Panama bernama Mossack Fonseca saja.

 “A significant fraction of global private financial wealth– by our estimates, at least $21 to $32 trillion as of 2010 — has been invested virtually tax free through the world still expanding black hole of more than 80 offshore secrecy jurisdictions. We believe this range to be conservative…”, begitulah laporan itu mengawali tulisannya.

 Data Panama Papers ini bisa juga dimaknai berdasarkan riset yang dilakukan Bloomberg juga bisa dijadikan bahan untuk membaca data Panama Papers. Beberapa saat lalu, Bloomberg secara mengejutkan menyajikan sebuah riset yang dikemas dalam sebuah tulisan bertajuk “The World’s Favorite New Tax Haven Is the United States”.

 Tulisan singkat Bloomberg itu cukup mengagetkan, karena secara tersurat mengungkap motif-motif terselubung Amerika Serikat dengan terbitnya data Panama Papers tersebut.  

 Coba simak. ”By resisting new global disclosure standards, the U.S. is creating a hot new market, becoming the go-to place to stash foreign wealth. Everyone from London lawyers to Swiss trust companies is getting in on the act, helping the world’s rich move accounts from places like the Bahamas and the British Virgin Islands to Nevada, Wyoming, and South Dakota”. Demikian salah satu cuplikan tulisan itu. 

 Melalui tulisannya itu juga Bloomberg dengan lebih tajam lagi menulis: “Rothschild, the centuries-old European financial institution, has opened a trust company in Reno, Nev., a few blocks from the Harrah’s and Eldorado casinos. It is now moving the fortunes of wealthy foreign clients out of offshore havens such as Bermuda, subject to the new international disclosure requirements, and into Rothschild-run trusts in Nevada, which are exempt”.

 Menariknya lagi, ada frase penting di tulisan Bloomberg tersebut: “Last September (2015), at a law firm overlooking San Francisco Bay, Andrew Penney, a managing director at Rothschild & Co., gave a talk on how the world’s wealthy elite can avoid paying taxes…. Rothschild said the PowerPoint was subsequently revised before Penney delivered his presentation. The firm provided what it said was the final version of the talk, which this time excluded several potentially controversial passages. Among them: the U.S. being the ‘biggest tax haven in the world,’ the U.S.’s low appetite for enforcing other countries’ tax laws, and two references to “privacy” offered by the U.S”. Cukup mengagetkan bukan?

 Bayangkan, terungkap adanya kiat bagaimana caranya orang-orang kaya menghindar dari kewajiban membayar pajak. Dengan membandingkan data Panama Papers, dengan data Tax Justice Network dan data Bloomberg bisa ditarik sebuah pertanyaan hipotetik: Benarkah ada desain besar untuk menjadikan Amerika Serikat (Nevada) sebagai tempat kejahatan pajak dan pencucian uang global baru?

 Hal kedua yang bermaksud saya sorot adalah: Mengapa sorotan tulisan di laman Panama Papers lebih banyak bicara soal Presiden Putin, Presiden Assad dan beberapa rezim pemerintahan yang dekat dengan Rusia (plus Suriah). Termasuk Cina? Mengapa Amerika Serikat (atau Jepang atau Rothschilds dan George Soros misalnya) tak masuk dalam kajian tulisan itu? 

Kiranya saya bukan satu-satunya yang mempertanyakan hal itu. Laman geopolitics.co juga mempertanyakan hal tersebut. Dalam tulisan bertajuk “Panama Papers: The Anomalies” ditulis seperti ini: ”As observed earlier, the Panama Papers looked more like a poor propaganda retaliation against Putin and Assad than anything else, for the successful interruption to the Greater Israel plan of the Rothschilds”.

 Salah satu alasan yang mendasari tulisan geopolitics.co tersebut adalah sebuah fakta bahwa proyek Panama Papers didanai langsung oleh beberapa pihak. Termasuk Rothschilds dan George Soros. Sekadar informasi, beberapa saat lalu Prisiden Putin telah mengumumkan bahwa Rusia akan menangkap George Soros yang dianggap sebagai salah satu pihak yang bertanggungjawab atas krisis ekonomi Rusia pada 1990 lalu. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Sisi Lain Skandal Panama Papers"