Seputar Serangan Bom Bandar Udara Internasional Ataturk

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Taufik Setia Permana
Humas BDM Al Hikmah Universitas Negeri Malang

Pada Selasa malam 22 Juni 2016, tiga orang pelaku bom bunuh diri menyerang Bandara Internasional Artatuk, Turki. 

Pelaku menembaki warga  yang berada dipintu masuk bandara tersibuk didunia tersebut dengan mebabi buta. Secara sempotan warga yang berada dilokasi behamburan untuk menyelamatkan diri.

Polisi sempat menembaki pelaku, merasa dirinya sudah tidak aman pelaku tersebut meledakkan diri dengan bom yang ada pada badannya. Ada beberapa ledakkan  ditempat yang berbebeda, yaitu diluar terminal  dan di gerbang pintu masuk bandara. Setidaknya ada 41 korban tewas dan 147 orang cedera akibat peristiwa tersebut

Menteri Kehakiman Turki,  Bekir Bozdag mengatakan, dua pelaku bom bunuh diri juga tewas dalam kejadian itu. "Pelaku pertama memberondongkan Kalashnikov lalu meledakkan dirinya di muka bandara," kata dia seperti dikutip dari CNN, Rabu (29/6/2016).

Dengan kejadian tersebut banyak negara yang bersimpati dengan memberikkan warna-warna identik bangsa turki pada bangunan bersajarah dimasing-masing negara. Tidak ingin ketinggalan pejabat negara pun juga ikut berkomentar seperti kandidat presiden Donald Trump dan Hillary Clinton dalam status twitternya “Tragedi di Istanbul menjadi pengingat bahwa AS tidak bisa mundur dan harus semakin memperkuat kerja sama dengan para sekutu di Timur Tengah dan Eropa.

Hillary juga menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada para korban dan keluarga mereka dan rakyat Turki pada umumnya.

Sementara itu, kepada para wartawan, Donald Trump juga menyampaikan bela sungkawa dan mengatakan dia mendoakan para korban dan keluarganya” berita yang dilansir oleh Kompas.com (28 Juni 2016) .

Sebenarnya pada tahun ini bukan kali pertamanya Turki diserang dengan bom bunuh diri, dibulan Maret masyarakat Turki dikagetkan dengan serangan bom bunuh diri di mobil yang pada saat itu menewaskan 28 orang. Sehingga membuat Presiden Racep Tayyip Erdogan naik pitah dan berseru kepada dunia untuk bersama-sama bersatu memerangi terorisme "Jangan melakukan kesalahan. Bagi kelompok teroris, tidak ada perbedaan antara Istanbul dan London; Ankara dan Berlin; Izmir dan Chicago; atau Antalya dan Roma. Semua pemerintah dan seluruh umat manusia diimbau bergabung untuk berperang melawan terorisme. Hal yang jauh lebih buruk seperti yang kita takutkan hari ini akan menjadi kenyataan (jika tak bersatu)," tutur Erdogan dilansir oleh global.liputan6.com (Rabu, 29 Juni 2016)

Tidak hanya presiden Erdogan yang berkomentar terhadap peristiwa tersebut. Perdana menteri Turki, Binali Yildirim menuding ISIS sebagai dalang peristiwa terorisme ini "Tanda-tanda menunjuk ke Daesh (sebutan lain untuk ISIS) tetapi penyelidikan lebih lanjut sedang dilakukan," kata Perdana Menteri (PM) Turki, Binali Yildirim seperti dikutip dari CNN, Rabu (29/6/2016).

Pengamat teror di seluruh dunia meyakini keterlibatan ISIS sepenuhnya dalam bom Turki. "Serangan itu direncanakan dengan sangat baik dengan keterlibatan dari kepemimpinan ISIS," ujar seorang sumber pemerintahan Turki kepada CNN, Sabtu (30/6).

Rangkaian Agenda Barat

Semua pengamat ramai-ramai mengarahkan tuduhan terhadap ISIS dalam pengeboman yang terjadi di Bandara Internasional Artatuk. 

Peristiwa pengebomman tersebut tidak jauh berbeda dengan kejadian bom bunuh diri di Ankara pada bulan Maret. Kesempatan ini sebenarnya dimanfaatkan Amerika dan sekutunya untuk memuluskan agenda mereka. 

"Serangan hari ini di Istanbul hanya memperkuat tekad kita untuk mengalahkan wajah terorisme dan jihad radikal di seluruh dunia. Dan ini mengingatkan kita bahwa Amerika Serikat tidak bisa mundur." Hilary Clinton melalui status twitter-nya yang lansir oleh news.detik.com (Rabu, 29 Juni 2016).

Kita harus memperdalam kerja sama kita dengan sekutu dan mitra kita di Timur Tengah dan Eropa untuk menghadapi ancaman ini. Kerja sama semacam itu penting dalam melindungi tanah air dan menjaga negara kita tetap aman" imbuh Hilary Clinton yang dilansir oleh news.detik.com (Rabu, 29 Juni 2016)

Keterlibatan Turki dalam memerangi terorisme di Suriah tidak lain hanya menuruti permintaan majikan mereka yaitu Amerika. Justru keterlibatan Turki dalam memerangi terorisme di Suriah akan memperumit permasalahan. Sungguh selagi negeri-negeri muslim masih bekerjasama dan tunduk dengan Amerika dan sekutunya tidak akan menyelesaikan permasalahan di Suriah

Bangsa Turki yang dulu dikagumi karena kewibawaannya menjadi pusat pemerintahan pada masa Kekhilafahan Turki Utsmany kini kewibawaan tersebut sirna karena tundukannya mereka dengan hukum-hukum yang dibuat oleh musuh-musuh Islam. 

Lepas dari itu semua , peristiwa pemboman ini harus dikutuk. Tindakan keji ini bertentangan dengan ajaran Islam. Sangat jelas, syariat Islam dengan tegas melarang melukai apalagi membunuh siapapun tanpa alasan yang dibenarkan secara syar’iy. Apalagi tindakan itu menimbulkan kematian bagi diri pelakunya sendiri.

Lebih dari itu, peristiwa ini tidak bisa dikatakan untuk memperjuangkan Islam atau demi kepentingan Islam. Jika dikatakan motifnya untuk memperjuangkan Islam, maka faktanya dengan peristiwa seperti ini, Islam justru menjadi bulan-bulanan. Bagaimana mungkin memperjuangkan syariah Islam dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan syariah Islam?

Permasalahan terorisme hanya dapat diselesaikan dengan tegaknya khilafah, dengan khilafah akan semakin terlihat jelas orang yang munafik dan orang yang memusuhi secara mutlak, dengan Khilafah umat muslim akan disatukan dalam satu institusi dan satu ideologi yaitu Islam, dengan Khilafah umat ini akan diatur seadil-adilnya dengan hukum Allah  [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Seputar Serangan Bom Bandar Udara Internasional Ataturk"