Membebaskan Palestina Kita

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Umar Syarifudin 
 (Praktisi Politik - Lajnah Siyasiyah DPD HTI Kota Kediri)

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung sikap pemerintah yang menolak ajakan Israel menjalin hubungan diplomatik. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan, Pemerintah Indonesia harus konsisten dengan sikap membela rakyat Palestina.  "Selama Israel masih menggusur desa Palestina, rumah-rumah warga Palestina, kita belum menyetujui ada hubungan bilateral," ucapnya seusai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Kamis (31/3).  

Menurut Said, proses sampai terjalinnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel masih sangat jauh. Lagi pula, kata dia, jika hubungan bilateral tersebut harus terjalin, Israel harus melakukan pendekatan dan lobi-lobi informal. "Kalau terus formal ya tidak bisa. Itu bisa menggoncangkan konstelasi politik. Karena, jelas kita berada di belakang rakyat Palestina yang terzalimi," ucapnya. (republika.co.id 01/04/16)

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengundang beberapa wartawan Indonesia, termasuk Tempo, untuk menemuinya di Yerusalem. Dengan ditemani oleh empat orang penasihatnya, Netanyahu melihat ada banyak peluang kerja sama yang bisa dijalin antara Indonesia dan Israel. Netanyahu menyebut bahwa pihaknya ingin membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu saat menerima sejumlah jurnalis asal Indonesia di Yerusalem. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, kendati hingga kini belum ada hubungan diplomatik resmi antara Indonesia dan Israel, negerinya menaruh hormat pada Indonesia. Netanyahu melihat ada banyak peluang kerja sama yang bisa dijalin antara Indonesia dan Israel. Bidang-bidang seperti teknologi air bersih dan pengolahan limbah adalah beberapa kelebihan Israel yang akan bisa bermanfaat bagi Indonesia. 

Mari kita duduk bersama untuk tidak lupa bahwa ratusan resolusi yang telah ditandatangani selama bertahun-tahun telah gagal untuk melindungi darah, tanah, harta, dan hak-hak kaum Muslim Palestina. Anehnya, sebagian kaum Muslim masih menganjurkan untuk menyerahkan masalah ini kepada PBB dan OKI untuk dicarikan solusi. Para pemimpin Muslim khususnya tidak merasa bersalah dengan mengandalkan 2 organisasi dunia itu yang dibentuk oleh kaum kafir untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam.

Fakta menyedihkan, menurut data statistik : satu anak Palestina dibunuh setiap 3 hari oleh Israel selama 13 tahun. Dan sekarang al-Quds digali dari sekelilingnya, termasuk dari jantungnya, dari arah kubah ash-Shakhrah dan masjidnya. Yahudi telah bermain di atas dan bawahnya. Yahudi telah mengosongkan tanah di bawahnya, menodai kehormatannya dari atasnya, memenuhi tanahnya dengan pemukiman dari depan dan belakangnya. Apakah umat Islam mampu membebaskan al Quds secara hakiki? 

Memahami Geopolitik

Pengumuman kesepakatan Makkah (Februari 2007) merupakan penyempurnaan dari pengumuman Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Aljazair (Oktober 1988). Dalam pengumuman itu, PLO di bawah pimpinan Fatah menyetujui, bahwa masalah Palestina direduksi hanya pada isu kewilayahan yang diduduki pada tahun 1967. Karena pihak yang menandatangani persetujuan tersebut pada waktu itu adalah kelompok sekular, maka mereka membutuhkan tanda tangan dari kelompok Islami. Ini berhasil diwujudkan dalam kesepakatan Makkah. Kesepakatan Makkah itu sebelumnya diawali dengan pertempuran antara Fatah dan Hamas. Ini tentu membuat masyarakat awam, dari kalangan penduduk Palestina, menduga bahwa kesepakatan tersebut bertujuan untuk menghentikan pertumpahan darah. Mereka lupa dengan tujuan politik dari kesepakatan tersebut.

Juga sangat jelas bagi siapa pun yang masih melihat, bahwa keberhasilan Hamas menduduki tampuk pemerintahan telah menciptakan adanya dua kepemimpinan di dalam pemerintahan. Satu pihak (Fatah) untuk otoritas (Palestina), dan satu lagi (Hamas) untuk pemerintahan. Maksudnya adalah untuk menyatukan dua kesepakatan yang ditandatangani, point demi point, yang mewakili kelompok Sekular dan Islami. Amerika dan entitas Yahudi, kedua-duanya jelas tidak menginginkan Hamas memiliki peranan yang riil, kecuali hanya menandatangani kesepakatan itu. Bahkan, Amerika dan entitas Yahudi ingin menggabungkan Hamas ke dalam PLO dengan perubahan yang tidak menyentuh substansi. Tujuannya, agar pemimpin yang lebih menonjol dan berperan adalah pemimpin otoritas Palestina (Fatah). Dengan asumsi, bahwa Eropa khususnya Inggris menginginkan agar Hamas, yang merupakan pemimpin pemerintahan tetap memiliki peran di dalam otoritas Palestina tersebut.

Titik kritis Fatah di mata masyarakat adalah nafsu kekuasaannya yang sangat besar melampaui batas. Sementara masyarakat memandang Hamas tidak seperti itu. Karena itulah, maka langkah pertama adalah menyatukan Hamas dengan Fatah di sini. Sehingga masyarakat pun menilai, bahwa ambisi kekuasaan yang dimiliki Hamas juga sangat besar melebihi anggapan yang ada selama ini. Ini untuk memudahkan kembalinya otoritas Palestina tersebut dalam satu pemimpin, dan memudahkan penyatuan Hamas ke dalam tubuh PLO, dan masyarakat pun bisa menerima kembali masalah ini dengan anggapan bahwa, Hamas juga mempunyai ambisi kekuasaan yang sama dengan PLO.

Sudah jelas, bahwa dengan penandatanganan kesepakatan Makkah, maka jebakan yang dialamatkan kepada Hamas untuk terlibat dalam Pemilu dan dipermudah kemenangannya, serta menerima pemerintahan di bawah pendudukan, telah membuahkan hasil! Tujuan disatukannya kelompok Islami dengan kelompok Sekular dalam satu kesepakatan, berdasarkan keputusan internasional berkaitan dengan masalah Palestina, yang kemudian semuanya sepakat terhadap adanya entitas Yahudi di Palestina tahun 1948, adalah agar masalahnya berubah menjadi masalah kewilayahan yang diduduki pada tahun 1967. Ketika perubahan masalah tersebut terjadi melalui keputusan penduduk Palestina, baik melalui pemimpin mereka dari kalangan Sekular maupun Islami. Seluruh faksi di Palestina kemudian setuju terhadap kesepakatan itu. Tidak ada faksi yang menolak kecuali al-Jihâd al-Islâmî, yang menolak kesepakatan tersebut secara menyeluruh, dan Front Rakyat (al-Jabhah asy-Sya’biyah) yang menolak secara parsial.

Sudah menjadi kebiasaan kaum Agresor penjajah, bahwa untuk meraih semua tujuannya, mereka harus merekayasa krisis sampai pada titik terjadinya pertikaian. Sebagaimana yang terjadi pada kasus pertikaian antara Fatah dan Hamas yang sebelumnya, adalah untuk menyiapkan atmosfer penandatanganan kesepakatan Makkah sekaligus menjadi aksi untuk merelease kesepakatan tersebut. Karena pertikaian tersebut membuat penduduk Palestina berpikir keras untuk menghentikan pertikaian, dan akhirnya melupakan bencana politik dari kesepakatan Makkah itu. 

Para Penguasa Muslim Itu…

Selama 66 tahun pendudukan Yahudi atas Palestina, ribuan nyawa kaum Muslim telah dikorbankan dan tanah kaum Muslim telah digadaikan. Sayangnya, para pemimpin Muslim menutup mulut mereka hingga bisu atas nasib dan kondisi umat Islam di Palestina. Erdogan hanya berkabung sambil menginstruksikan penaikan bendera setengah tiang. Najib telah meminta gencatan senjata meskipun banyak bukti bahwa “Israel” tidak pernah memenuhi janji-janjinya, apalagi mematuhi gencatan senjata yang disepakati bersama oleh kedua belah pihak. Mesir di bawah pemimpin sekular Al-Sisi menjaga perbatasan Rafah agar tetap tertutup. PBB, organisasi dunia yang seharusnya menjadi penyelamat kaum tertindas dan menyelesaikan konflik di dunia, hanya bisa mengutuk tindakan brutal yang dilakukan oleh “Israel”. Resolusi yang diusulkan oleh PBB untuk mengutuk aksi brutal Israel ditolak oleh Amerika Serikat melalui hak veto-nya.

Adapun Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) ke-5 telah berlangsung 6-7 Maret 2016 di Jakarta. KTT LB OKI ke-5 itu diikuti lebih dari 500 delegasi dari 47 negara anggota, tiga negara peninjau (Bosnia Herzegovina, Afrika dan Thailand), anggota The Quartet (Amerika Serikat, Rusia, PBB, Uni Eropa) negosiasi Palestina-Israel dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. KTT itu diselenggarakan untuk mencari terobosan guna menyelesaikan isu Palestina dan Al-Quds asy-Syarif.

Ada enam isu yang dibahas. Pertama: Masalah perbatasan, terutama terkait wilayah Palestina yang dari waktu ke waktu makin mengecil karena dikuasai oleh Israel. Kedua: Masalah pengungsi Palestina yang tidak bisa kembali ke tempat asalnya. Ketiga: Masalah status Kota al-Quds (Jerusalem) yang dianggap kota suci oleh tiga agama: Yahudi, Nasrani dan Islam. Keempat: Masalah pemukiman ilegal Israel yang terus menggerogoti wilayah Palestina. Kelima: Masalah keamanan. Keenam: Masalah distribusi dan akses air bersih yang terus menjadi isu konflik yang terjadi.

KTT LB ke-5 OKI di Jakarta hanya mengulangi KTT-KTT sebelumnya yang bersifat seremonial untuk menyenangkan umat Islam seolah-olah para pemimpin mereka sungguh-sungguh peduli pada persoalan Palestina dan berbagai persoalan lain. Kenyataannya, OKI hanyalah ‘talking doll’ yang tidak bisa lepas dari skenario negara-negara Barat. Kita akan melihat, selepas KTT ini semua akan sama saja. Tak akan ada perubahan berarti menyangkut nasib Muslim Palestina, al-Aqsha, apalagi Dunia Islam.

Faktanya, para penguasa muslim masih tetap menahan tentaranya di barak-barak mereka. Berbagai resolusi KTT (OKI maupun Liga Arab) telah dipenuhi oleh masalah Palestina dengan berbagai seruan, resolusi dan kalimat-kalimat yang manis. Mereka telah mengumumkan dengan penuh kebanggaan bahwa mereka telah menyiapkan strategi untuk membebaskan al-Quds. Strategi itu mereka fokuskan pada tiga poros: politik, perundang-undangan dan finansial. Mereka menyerukan agar Dewan Keamanan PBB memikul tanggungjawabnya dan bergerak mengambil langkah-langkah dan mekanisme yang diperlukan untuk menyelesaikan pertikaian Arab-Israel. Mereka memutuskan untuk mengarahkan resolusi kepada Mahkamah Kejahatan Internasional untuk menghakimi kejahatan Israel di kota-kota yang disucikan. Mereka juga memutuskan mendukung al-Quds dengan dana sebesar setengah milyar dolar AS untuk menghadapi rencana-rencana pemukiman Israel. Bagaimana hasilnya? 

Siapa pun yang melihat Israel dan mereka tinggal berdekatan dengan para penguasa itu, pasti tahu persis keberlangsungan eksistensi Yahudi ini benar-benar digadaikan pada keberlangsungan para penguasa itu. Merekalah yang melindunginya, jauh lebih baik daripada melindungi diri mereka sendiri. Bahkan AS dan negara-negara Barat yang lain, yang mendukung entitas ini, tidak akan mempunyai pengaruh apapun, kalau tidak disokong para penguasa itu.

Lalu apakah al-Quds akan bisa dibebaskan dengan perundingan umum yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun? Bisakah al-Quds dibebaskan dengan dukungan finansial namun masih di bawah cengkraman Israel? Bisakah Palestina dibebaskan dengan seruan kepada Dewan Keamanan PBB yang justru mendirikan negara Yahudi di Palestina? Mampukah al-Quds dibebaskan dengan mengajukan tuntutan kepada Mahkamah Internasional yang selalu berkiblat pada scenario Barat? Bisakah Palestina dibebaskan dengan syair kecintaan dan kerinduan kepada al-Quds sementara Penguasa Timur Tengah sendiri justru membuka kedutaan untuk negara Yahudi di negerinya dan mengundang pembantai al-Quds ke negerinya?

Memang, masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam di Palestina tidak pernah dapat diselesaikan oleh Bangsa-Bangsa (PBB). Kaum Muslim di Palestina sedang dan akan diserang oleh Israel. Dengan demikian, satu-satunya cara untuk memerangi Negara Zionis yang merupakan musuh Allah adalah melalui jihad yang dilakukan oleh tentara Muslim. Semua pemimpin Muslim wajib untuk memulai jihad melawan Israel lalu membebaskan saudara-saudara kita. Namun, dengan segala sikap tunduk dan manut pada skenario-skenario pihak barat, bahwa para pemimpin Muslim pengkhianat itu akan melakukan apapun dan tetap mengejar kekayaan duniawi, kekuasaan dan posisi. Mereka pun akan tetap mengikuti perintah tuan-tuan Barat mereka, bukannya memobilisasi tentara mereka di jalan Allah.

Terbukti, dunia internasional melalui PBB, Liga Arab, OKI dan negara lainnya selalu menyerukan solusi melalui jalur diplomasi, bukan dengan solusi militer. Karena menurut mereka, solusi diplomasi adalah solusi yang beradab. Padahal, solusi yang beradab, hanya untuk negara yang memang memiliki adab, bukan negara yang tidak memiliki adab namun juga biadab seperti Israel. Fakta lain juga menunjukkan bahwa solusi-solusi tersebut tidak berhasil, termasuk resolusi dari PBB yang selalu diindahkan oleh Israel, juga Amerika yang selalu menggunakan hak veto-nya untuk membela ‘anak emasnya’ tersebut.

Jika kemudian cara-cara yang sama tersebut masih digunakan untuk menyelesaikan masalah Israel, maka,coba renungkan apa yang pernah disampaikan oleh seorang ilmuan bernama Albert Einstein Kegilaan: Melakukan hal yang sama secara terus-menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda.
Sekarang!

Solusi hakiki dan tuntas untuk masalah Palestina, al-Quds, dan al-Aqsha tidak akan terjadi melalui solusi dua negara. Israel telah merampas dan menduduki Bumi Palestina, menodai kesucian al-Quds, menodai al-Aqsha di antaranya dengan terus menggali terowongan di bawah dan dekat al-Aqsha, merampas tanah warga Palestina dan mengusir mereka. Bahkan Israel telah menyerang secara brutal dan membunuhi warga Palestina termasuk anak-anak, wanita, dan para orang tua. Solusi dua negara sama artinya memberikan pengakuan legal kepada zionis Israel; sama dengan mengakui pendudukan, kebrutalan, kekejian, dan penjajahan Israel atas Palestina dan warganya.

Serangan militer Israel tidak akan bisa dihentikan hanya dengan diplomasi, donasi dan doa (3-D). Sudah terbukti berulangkali Israel menciderai kesepakatan damai dan perjanjian dengan Palestina. Allah sendiri telah menunjukkan karakter khas mereka yang suka melanggar janji tersebut dalam Al Qur’an sebagaimana dalam QS. Al Maidah: 13 berikut :

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka…” 

Serangan militer Israel dulu, esok, nanti hanya dapat dihentikan dengan serangan militer pula. Umat Islam di seluruh negeri-negeri muslim di dunia mampu untuk melakukannya. Mereka memiliki puluhan juta tentara dengan persenjataan yang lengkap. Negeri Islam juga memiliki ratusan juta penduduk yang siap membantu para tentara membebaskan Palestina.

Perlu diketahui, persoalan Palestina bukan persoalan perbatasan (hudûd), tetapi persoalan keberadaan (wujûd) Israel. Selama Israel masih bercokol di Tanah Palestina maka isu Palestina, al-Quds, dan al-Aqsha tidak akan berakhir. Persoalan Palestina hanya bisa diselesaikan dengan menghapus entitas Yahudi di Tanah Palestina. Ini karena keberadaan mereka adalah ilegal dan haram. 

Maka, tidak ada solusi tuntas atas masalah Palestina selain daripada jihad itu sendiri. Mengerahkan aksi militer untuk menghentikan kebiadaban Israel, serta mengusirnya keluar dari tanah wakaf milik kaum muslimin tersebut.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Tidak akan datang Hari Kiamat hingga kaum muslim memerangi Yahudi. Maka kaum muslim memerangi mereka hingga mereka bersembunyi di balik batu dan pepohonan. Namun batu atau pohon itu berkata: Ya muslim, ya Abdullah ini Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia kecuali pohon gharqad karena ia adalah pohonnya orang Yahudi” (HR. Muslim dan Ahmad).

Kita membutuhkan seorang panglima yang kuat lagi bertakwa, yang mengembalikan jejak al-Faruq -sang Khalifah- yang telah membebaskan al-Quds pada tahun 15 H dan yang menetapkan dokumen Umaria, yang di dalamnya dinyatakan bahwa tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal di al-Quds. Seorang panglima yang mengembalikan jejak langkah Shalahuddin yang telah membebaskan al-Quds dari najis kaum salibis pada tahun 583 H dan yang mengangkat Qadhinya, Muhyiddin, yang membuka khutbah Jumat pertama setelah pembebasannya itu dengan ayat yang mulia. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (QS al-An’am [6]: 45)

Kita membutuhkan panglima yang mengembalikan sejarah Khalifah Abdul Hamid II, yang menjaga al-Quds dan menghalangi Hertzel dan para anteknya untuk memasuki al-Quds, meskipun harta yang besar ditawarkan Hertzel ke kas negara. Jawaban Abdul Hamid II pada tahun 1901 adalah: “Sesungguhnya Palestina bukanlah milikku, akan tetapi milik bangsaku yang telah mengairinya dengan darah mereka. Maka hendaklah Yahudi menyimpan jutaan uangnya. Sesungguhnya sayatan pisau di badanku sungguh lebih sepele daripada aku melihat Palestina dikerat dari negaraku. Perkara itu tidak akan terjadi”.

Kaum muslim di Indonesia adalah bagian dari umat Islam Palestina, termasuk seluruh dunia. Maka kita harus membangun arus kebangkitan umat. Rasul saw telah menjelaskan kesatuan umat ini dengan kalimat:

مَثَلُ الْـمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ

Permisalahan kaum mukmin dalam kasih sayang dan solidaritas mereka seperti satu tubuh

Walhasil, Palestina tidak akan dibebaskan secara penuh kecuali dengan mengembalikan permasalahan Palestina menjadi permasalahan Islam. Dengan begitu masalah Palestina menjadi permasalahan semua Muslim baik sipil maupun militer, dari ujung timur di Indonesia hingga ujung barat di Rabath. Dengan demikian, setiap Muslim akan menyadari bahwa Palestina bukan negeri sahabat, dan bukan pula saudara, namun Palestina tidak lain adalah jiwa, bumi, kehormatan, dan kewajiban. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Membebaskan Palestina Kita"