Lingkaran Kapitalisme Biang Kelaparan dan Terbunuhnya 700.000 Bayi Afrika Tiap Tahun

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Umar Syarifudin 
(Lajnah Siyasiyah DPD HTI Kota Kediri)

Saat ini, dunia didera kemiskinan yang menyebar luas di sebagian besar negeri, jika tidak dikatakan seluruhnya, meski berbeda-beda tingkatan dan jumlah orang miskinnya. Hampir-hampir tidak ada satu negara pun yang terbebas dari masalah kemiskinan pada masa sekarang ini, termasuk negara-negara kaya dan maju di bidang sains dan industri. Kemiskinan merupakan masalah umum dan telah menjadi bencana. Meski dunia menyaksikan kemajuan material, terlihat pula adanya peningkatan pengangguran secara nyata. Sebagian orang mengaitkan kemiskinan kepada madaniyah dan menetapkan adanya hubungan negatif antara kemajuan madaniyah dan kemiskinan, di mana setiap kali madaniyah bertambah maju maka setiap kali pula kemiskinan meningkat. Pakar senior Bank Dunia di Afrika mengungkapkan tentang kekhawatirannya bahwa krisis ekonomi yang terus menghantam negara-negara Selatan Sahara akan menyebabkan terbunuhnya 700.000 balita Afrika setiap tahun.

Krisis besar sedang mengancam nyawa ratusan ribu anak di negara miskin Afrika. Di tengah pengepungan oleh teroris, mereka terisolasi dan dilupakan. Kelaparan jadi sesuatu yang tak berkesudahan di negara Afrika barat itu. Mali menderita kekeringan parah selama bertahun-tahun. Pasokan makanan selalu kurang di negara Sahara itu (republika 21/4). 

Dalam kondisi kelaparan akut, sebagian dari warga Afrika terpaksa harus bermigrasi, namun keputusan mereka bukan tanpa resiko. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan sekitar 500 imigran telah tenggelam di laut Mediterania pada pekan lalu. Insiden tersebut terjadi karena kapal yang mereka tumpangi tak mampu menanggung beban dan akhirnya tenggelam. Juru Bicara UNHCR Carlotta Sami mengungkapkan para pengungsi yang berada di kapal tersebut berasal dari beberapa negara. “Sejumlah imigran dari Somalia, Sudan, Ethiopia, dan Mesir berhasil diselamatkan dengan menggunakan perahu kecil.

Andrew Berstein, penulis senior pada Ayn Rand Institute, meresepkan Kapitalisme sebagai obat untuk permasalahan yang dihadapi bangsa-bangsa Afrika. Tulisannya tersebut dipublikasikan pada tanggal 9 Juli 2003. Diagnosanya didasarkan pada penggunaan fakta secara selektif. Dengan memfokuskan pada aspek ekonomi, dia menghilangkan fondasi Kapitalisme, yaitu sekularisme.

Korban Imperialisme Barat

Kemiskinan merupakan masalah yang terjadi di seluruh dunia. Diperkirakan sebanyak 1,2 milyar orang menderita kelaparan atau kekurangan gizi; 100 juta orang tidak memiliki tempat tinggal, dan kira-kira 300 juta orang di Afrika saja tidak punya akses terhadap air minum yang bersih. Kemiskinan yang melanda dunia bukan sebuah kebetulan, melainkan disebabkan oleh sistem yang membuat perdagangan global menjadi tidak adil, dan adanya manipulasi serta eksploitasi ekonomi dari negara-negara donor, yang notabenenya adalah negara-negara kapitalis Barat. Karena itu, sungguh naif jika ada pemikiran bahwa ketidakseimbangan ekonomi dapat dipulihkan dengan menghapuskan seluruh utang, tanpa adanya upaya untuk mengevaluasi model ekonomi kapitalis yang bertanggung jawab atas meningkatkanya krisis global ini. 

Adapun faktor tingginya persentase angka kematian ini di tengah-tengah masyarakat, semuanya terkait dengan krisis, apakah itu terkait dengan gizi buruk, tidak tersedianya air bersih, tidak adanya layanan kesehatan, atau orang tuanya terpaksa menelantarkan anak-anaknya karena sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Pertumbuhan kemiskinan, konflik, dan ketunaaksaraan, secara intrinsik terkait dengan budaya ketergantungan ekonomi yang berhasil ditanamkan oleh Barat ke negeri-negeri Dunia Ketiga. Hal ini dilakukan dengan sejumlah langkah, seperti manipulasi mata uang, pemanfaatan pinjaman negara, dan legalisasi perusahaan multinasional yang menidakstabilkan dan menghancurkan aktivitas perekonomian negeri-negeri Muslim dan Dunia Ketiga.

Afrika mewakili porsi yang sangat signifikan dari sumber minyak dunia. Negara-negara kapitalis sedang mempersiapkan bumi Afrika untuk dilakukan eksplorasi di darat dan di bawah laut, perusahaan-perusahaan minyak menyuap dengan jumlah uang yang signifikan kepada para pejabat pemerintah Afrika, meningkatkan pengeluaran militer bagi Pasukan Perdamaian Amerika di Afrika dan kunjungan presiden beberapa  kali untuk mengamankan kesetiaan politik bagi ekspor minyak . Perusahaan-perusahaan minyak Barat dan pemerintah Afrika mimiliki gaya Kapitalisme yang sama dan karenanya kekayaan yang dihasilkan dari ekspor minyak cenderung beredar di antara mereka sendiri, dengan meninggalkan rakyat kebanyakan dalam keadaan lebih miskin, suatu fakta yang didokumentasikan oleh beberapa organisasi. Oleh karena itu, sebanyak apa pun sumber daya yang ditemukan di Afrika, kemiskinan akan terus menjadi bagian dari benua Afrika.

Sikap Penguasa Negara-negara Afrika

Mengganti penguasa yang ada tidak akan menghasilkan perubahan ekonomi di negeri-negeri Afrika, atau menghentikan siklus ketergantungan yang terlanjur mengakar. Masalahnya jauh lebih dalam dari itu, dan itu lebih diakibatkan oleh dianutnya sistem ekonomi Kapitalisme; sebuah sistem yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia secara merata sehingga mengakibatkan kemiskinan merajalela. Ini terkait dengan bagaimana Kapitalisme memandang masalah ekonomi. Kapitalisme memandang masalah ekonomi sebagai ‘adanya kelangkaan sumber daya dan tidak terbatasnya kebutuhan’.

Jadi, Kapitalisme berusaha mengatasi masalah ekonomi dengan memaksimalkan produksi guna menghasilkan kekayaan, yang selanjutnya akan memenuhi sebagian besar, jika tidak semua, kebutuhan manusia. Kapitalisme memiliki premis bahwa kebutuhan setiap individu tidak dapat dipenuhi, dan karena itu kemiskinan akan selalu ada berbarengan dengan kekayaan. Dengan demikian, masalah kemiskinan, ketunawismaan, dan kelaparan akan selalu menjadi ancaman laten bagi setiap masyarakat Kapitalis. Karena itu, kemiskinan bukanlah karakter negeri-negeri Dunia Ketiga saja, melainkan juga karakter negara-negara Barat.

Kemiskinan, ketunawismaan, penyakit dan kelaparan yang melanda Afrika adalah sebagian buah dari ketergantungan ekonomi terhadap Barat dan lembaga-lembaganya. Keringanan utang, pinjaman baru, atau menambal sulam sebagian dari sistem ekonomi yang ada sekarang ini tidak akan menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh tatanan kapitalis global yang akan terus berlanjut, selama umat manusia masih dipimpin oleh para penguasa dan politisi yang tidak mampu melihat visi ekonomi negara-negara Barat.

Sikap menyerah dan tidak mandiri telah mempengaruhi para penguasa Afrika sehingga mereka menjadi pembebek daripada memimpin. Mereka tidak merasa malu dengan menjadi budak impoten yang menghamba terhadap majikan-majikan mereka, dan mereka secara sadar menghambat seruan-seruan menuju kemandirian ekonomi. Untuk bisa bebas dari siklus ketergantungan ekonomi ini, Dunia Islam harus bersatu sebagai satu kesatuan negara, untuk membentuk blok kuat yang mandiri di bawah kepemimpinan seorang penguasa yang dibimbing oleh visi yang berbeda, dan memiliki keberanian untuk membuat sistem yang mandiri dari kerangka sistem Barat yang ada sekarang.

Hari ini, Afrika adalah sebuah benua yang jauh berbeda dari keadaan di masa lalu. Perebutan pertama atas Afrika dimulai ketika Henry Stanley menyatakan Kongo River Valley adalah untuk Belgia. Perancis kemudian menginvasi Mesir dan membangun Terusan Suez. Inggris menginvasi Mesir untuk mengontrol terusan itu, yang penting bagi rute pelayaran mereka. Inggris dan Mesir kemudian mengambil kendali Sudan. Perancis mulai menjajah Tunisia dan Maroko. Italia mengambil Libya. Inggris berperang dan mengalahkan koloni Belanda (Boer) dalam rangka mendapatkan kontrol sumber daya Afrika Selatan yang kaya. Cecil Rhodes menjadi kaya karena berlian Kimberly, yang menghasilkan 90% berlian dunia pada saat itu. Pada awal 1900-an sebagian besar Afrika dikuasai oleh kolonialis Eropa. Hari ini, kekuasaan politik telah kembali terjadi di Afrika, Amerika yang kini sebagai kekuatan dunia terkemuka menggantikan pengaruh bangsa Eropa. Sementara kontrol atas sumber daya dunia telah jatuh ke tangan orang-orang yang berbeda, namun tujuan mereka tidak berubah.

Sementara kepentingan tradisional negara-negara kapitalis Barat di Afrika telah ‘siap panen’, berlian dan mineral lainnya, benua itu telah menjadi perhatian baru-baru ini karena penemuan minyak dan bertambahnya produksi minyak pada ladang-ladang minyak yang ada. Hal ini terjadi pada saat realisasinya telah menunjukkan ketidakstabilan pasokan minyak Timur Tengah di masa depan, karena bangkitnya Islam politik.

Afrika Dulu

Kaum Muslim memiliki sejarah yang terkenal di Afrika, inilah sebabnya 52% penduduk Afrika saat ini terdiri dari kaum Muslim. Islam datang ke Afrika Utara setelah Al Sham berada di bawah naungan Islam. Awal penyebaran Islam ke benua itu adalah melalui penaklukan Mesir. Mesir dihuni oleh beragam bangsa, seperti Koptik, Yahudi dan Romawi. Demikian pula Afrika Utara adalah tempat suku Berber hidup di bawah dominasi Romawi. Bangsa Roma memandang Afrika sebagai koloni mereka dan melalui penguasa kaki tangannya mempertahankan cengkeramannya di benua itu.

Dakwah dan futuhat di Afrika Utara dimulai pada tahun 663 M, dan kaum Muslimin segera membebaskan sebagian besar kota di Libya. Tripoli jatuh pada tahun 666 M dan 670 M umat Islam telah membebaskan Tunisia. Wilayah Maghreb, yang saat ini terdiri dari  Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko, dan secara kolektif dikenal sebagai provinsi Bizantium di Afrika yang akhirnya menyerah dan mengirimkan gelombang serangan yang mengejutkan ke seluruh wilayah Romawi. Hilangnya Mesir, yang merupakan pusat bagi Kekaisaran Romawi di Afrika, adalah kerugian Romawi yang tak ternilai.

Kota-kota terbesar di Afrika dan kerajaan-kerajaan terletak di Sahel, suatu wilayah gurun dan savana di selatan Sahara. Setelah 750 AD, kota-kota dan kerajaan-kerajaan muncul karena mereka berperan sebagai penghubung rute perdagangan di seluruh Afrika utara. Pada tahun 1300 M, kereajaan-kerajaan Sahel yang besar itu menjadi kerajaan-kerajaan Islam dan yang lebih penting, menjadi pusat-pusat pembelajaran Islam. Pada tahun 675 M,  Afrika Utara berada di bawah kekuasaan Khilafah dan kaum Muslim telah menaklukkan semua wilayah yang berada di bawah kewenangannya, Khilafah bekerja untuk mengkonsolidasikan Islam dengan membangun ekonomi. Kaum Muslim membangun kota Qairouan (letaknya sekitar delapan puluh km sebelah selatan Tunis modern). Kota ini menjadi ibukota Islam Afrika. Awalnya lokasi ini adalah sebuah pangkalan militer, sebagaimana banyak basis militer lain yang kemudian menjadi kota-kota dan pusat-pusat pembelajaran.

Masjid Al Qayeawm (Jamil Uqba) dibangun oleh umat Islam dan menjadi pusat pembelajaran di seluruh tanah Islam. Pada abad ke-9 kota tersebut memikat para cendekiawan dari seluruh Dunia Islam. Imam Sahnun dan Asad ibn al-Furat yang juga belajar dari sana menjadi terkenal karena kontribusi mereka bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Cendekiawan Muslim dari Walata datang ke Timbuktu dan memperkokoh posisi Islam. Timbuktu menjadi pusat pembelajaran Islam, Universitas Sankore menjadi lembaga  pendidikan yang berpengeruh, yang terdiri dari 180 sekolah Al-Quran dan terdapat lebih dari 100.000 naskah dalam mata pelajaran-mata pelajaran  seperti astronomi dan botani.

Ada sejumlah kontribusi penting yang diberikan Islam kepada Afrika. Yang paling penting adalah kontribusi yang membuat penduduk melek huruf. Mesir dan kerajaan-kerajaan Nilotic dari Kushites dan Nubia memiliki tradisi panjang mengenai tulisan, dan penduduk Ethiopia telah memperolehnya tradisi ini melalui hubungan mereka dengan bangsa-bangsa Semit dari Arabia selatan. Tapi sistem penulisan ini tidak menyebar ke seluruh Afrika. Namun demikian, Islam sebagai agama, mempunyai perhatian luas untuk menyebarkan kemampuan menulis dan menyebarkan kemampuan melek huruf dimanapun ia berada. Banyak orang Afrika yang menguasai dua bahasa: bahasa ibu dan bahasa Arab, yang merupakan bahasa teks. Namun, hal ini secara bertahap berubah ketika Afrika mulai menggunakan huruf Arab untuk menulis bahasa mereka sendiri. Hingga saat ini, tulisan Arab adalah salah satu skrip yang paling umum untuk menulis bahasa Afrika. Dengan kemampuan menjadikan penduduk melek huruf, Islam membawa sistem pendidikan formal.

Save Africa!

Kita tidak membutuhkan sosok PBB untuk mengetahui bagaimana kesulitan ekonomi dan politik yang dihadapi Eropa sebelum era pencerahan. Afrika pada masa kegelapan Eropa mampu memberi makan penduduknya dan juga negeri-negeri lainnya. Misalnya, sebagian kekayaan Mesir dialokasikan oleh khalifah Umar untuk memberi makan orang-orang Arab yang menderita kelaparan. Maka, meskipun sistem Kapitalis memungkinkan sebagian orang Barat untuk menumpuk kekayaan yang sangat besar, tetapi hal tersebut terjadi dengan ongkos mahal yang harus ditanggung oleh sebagian orang Barat lainnya, termasuk negeri-negeri non Barat. Dengan kata lain, penderitaan para pasien merupakan hasil dari overdosis Kapitalisme. Karenanya, kunjungan presiden Bush ke lima negara Afrika tidak untuk menciptakan kapitalis-kapitalis baru di Afrika, tetapi untuk melanjutkan pencengkraman kepentingan-kepentingan Amerika di benua termiskin tersebut. Betapapun juga, kelaparan di Afrika adalah berita usang. Kunjungan tersebut dimotivasi oleh kebutuhan negara tersebut untuk memperbanyak persediaan minyaknya.

Benar bahwa Afrika memerlukan suatu ideologi untuk menghilangkan sifat-sifat kesukuan, etnik, reginal dan nasionalisme sebagai minset kemajuan. Dan ideologi itu bukanlah Kapitalisme dan bukan pula hanya masalah ekonomi. Kebebasan kepemilikan yang tak terkendali, yang menjadi aspek terkemuka Kapitalisme menciptakan babak awal perbedaan yang besar di antara bangsa-bangsa Eropa yang baru bangkit dan selanjutnya dikurangi dengan tambahan sumber daya yang dikumpulkan dari negeri-negeri idelogis lainnya. Afrika tunduk pada kepentingan-kepentingan kebijakan luar negeri negara-negara Kapitalis sejak abad ke 19. Selaku korban penjajahan Kapitalis, benua tersebut hanya memiliki sumber daya yang melimpah dengan penderitaan kelaparan yang dialami penduduknya.

Afrika membutuhkan ideologi Islam untuk menolong penduduknya dari sukuisme dan nasionalisme selanjutnya membebaskan mereka dari cengkraman bangsa-bangsa Kapitalis. Penyebaran Islam ke Afrika tidak didorong oleh keuntungan materi, namun tujuannya adalah menyebarkan pesan-pesan Islam dan nilai-nilai Islam yang mulia. Sistem ekonomi Islam memfasilitasi kesejahteraan penduduk Afrika melalui distribusi kekayaan. Perintah-perintah yang tegas dalam Islam untuk memastikan kekayaan agar tidak hanya berada di tangan orang kaya menyebabkan kekayaan mengalir ke seluruh masyarakat. Kompetisi internasional saat ini antara AS, Uni Eropa dan China pada perebutan lading-ladang minyak Afrika yang sangat besar dan sumber daya mineral lainnya adalah yang menyebabkan perlu kembalinya Khilafah Rasyidah yang kedua kalinya ke Afrika untuk menyejahterakan penduduknya.

Islam menyediakan sistem politik yang menjamin penegakkan hukum dan keadilan, sistem ekonomi yang meletakkan distribusi kekayaan sebagai titik sentralnya dan solusi yang komprehensif terhadap hubungan manusia dan Penciptanya. Dalam memecahkan permasalahan individu dan sosial, Islam mengangkat peran keduanya hukum Tuhan dan akal manusia. Islam dan sistemnya memiliki kemampuan kuat untuk meyakinkan akal manusia bahwa penganutnya dapat berkembang ketika negara belum ada, yang mengimplimentasikan dan mengangkatnya sebagai sistem kehidupan. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Lingkaran Kapitalisme Biang Kelaparan dan Terbunuhnya 700.000 Bayi Afrika Tiap Tahun"