Perangkap Ekonomi Kapitalis atas Perekonomian Arab Saudi

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : H. Luthfi H. (*)

Penjajahan adalah penguasaan suatu bangsa atas bangsa lain baik secara fisik (militer), ekonomi, budaya, sosial, dan lain sebagainya. Esensi penjajahan atas negara terjajah adalah manutnya negara terjajah dengan sistem yang dianut negara penjajah. 

Dunia saat ini dikuasai oleh ideologi Kapitalis. Adalah korporasi yang paling bermain dalam berbagai sistem kehidupan. Dan instrumen penjajahan yang paling mematikan saat ini adalah perangkap ekonomi. Rusia kalah dengan Amerika bukan karena serangan fisik (militer). Namun Rusia keok dengan Amerika saat Rusia diseret ke arah jebakan ekonomi pasar bebas ala Kapitalis yang menjasad pada negara dan politisi Amerika Serikat. 

Beberapa bulan terakhir, instrumen perangkap ekonomi Kapitalis yang dimainkan Amerika Serikat adalah harga minyak mentah dunia. Saat yang lalu, harga mentah minyak dunia mencapat titik terendah sejak tahun 2008, yakni 33 US $ per barel. 

Pukulan berat ini pasti sangat dirasakan oleh produsen minyak dunia, atau negara yang mengandalkan income negaranya dari sektor “emas hitam” ini. 

Banyak Ekonom dunia yang mencoba menganalisis anjloknya harga minyak mentah dunia tersebut. Baik dari sisi penawaran (produksi minyak oleh negara-negara produsen seperti negara-negara Teluk), maupun dari sisi permintaan negara industri pengguna bahan bakar fosil tersebut (khususnya Amerika Serikat). 

Amerika jels paling berkepentingan atas anjolknya harga minyak mentah dunia ini. Dalam berbagai cara dan kesempatan Amerika Serikat terlihat jelas berusaha untuk mengontol harga minyak dunia di level yang terendah. Amerika memiliki kepentingan besar atas rendahnya harga minyak mentah dunia untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya yang lagi lesu.

Pertumbuhan ekonomi Amerika berkisar antara 1- 2 % setelah mengalami krisis keuangan beberapa waktu lalu. Dengan harga minyak mentah dunia yang rendah, jelas akan mengefesiensikan biaya produksi industri-industri di Amerika. Sementara ekstrak minyak dari batuan yang ada di AS masih terhitung tinggi biaya produksinya. Sekitar 70 US $ per barel, bandingkan dengan minyak Timur Tengah yang biaya produksinya hanya sekitar 7 US $ per barel. 

Harga minyak yang rendah juga memungkinkan bagi Amerika untuk menyimpan minyak mentah secara besar-besaran. Dan saat ini Amerika Serikat memiliki fasilitas penyimpanan minyak mentah yang sangat maksimal. 

Namun perkara yang paling penting bagi Amerika dengan rendahnya harga minyak mentah ini adalah akan memudahkan Amerika --dengan Sistem Ekonomi Kapitalis-nya-- melakukan penekanan atas kebijakan ekonomi produsen minyak, khususnya negara-negara Teluk. 

Metode tetap penekanan Ekonomi Kapitalis bagi suatu negara adalah Liberalisasi di berbagai sektor publik sesuai dengan arahan Bank Dunia. Poin inilah saat ini yang menyebabkan perhatian serius negara-negara produsen minyak di Timur Tengah. 

Dan Arab Saudi termasuk Negara Produsen Minyak Mentah Dunia yang mulai terperosok pada perangkap Ekonomi Kapitalis ini. Defisit anggaran 98 milyar US $ yang terjadi pada Arab Saudi di tahun 2015 yang lalu, memaksa negara tersebut untuk melakukan efesiensi di bawah tekanan kreditur (Bank-Bank Amerika).

Tanggal 10 Maret yang lalu, Republika.co.id memberitakan bahwa negara pelayan haramain –dua kota suci, Makkah dan Madinah-- ini mencari pinjaman 6 miliar hingga 8 miliar dolar AS dari Bank Asing. 

Ini akan jadi pinjaman luar negeri pertama Arab Saudi setelah lebih dari satu dekade. Sesuatu hal yang sangat menyedihkan dan tadinya sama sekali tidak terbayangkan. 

Seorang sumber yang dikutip Reuters, Rabu (9/3), menyebut, Riyadh sudah bicara dengan sejumlah Bank untuk menyediakan pinjaman lima tahun dengan opsi tambahan pinjaman dalam periode itu. Pinjaman ini akan digunakan untuk menutup defisit APBN Saudi akibat rendahnya harga minyak. Dan jangan lupa, tentu dengan pengembalian sistem riba. Naudzubillah.

Menteri Keuangan dan Bank Sentral Arab Saudi belum memberi komentar soal ini. Sumber tersebut juga mengatakan, langkah ini merupakan saran dari perusahaan konsultan Verus Partners yang dibentuk mantan bankir CitiGroup, Mark Aplin dan Andrew Elliot. Namun, Verus Partners juga belum mau memberi komentar. 

Atas devisit anggaran tahun 2015 yang lalu, pemerintah Saudi sudah mencoba menjembatani celah ini dengan melepas aset mereka di luar negeri dan menerbitkan surat utang ke pasar domestik. Namun, tambahan aset ini hanya akan bertahan untuk beberapa tahun, sementara surat utang harus bersaing di tengah ketatnya likuiditas perbankan.

Dalam sebuah wawancara dengan “The Economist” beberapa waktu yang lalu, Menteri Pertahanan Saudi Arabia, Purtera Mahkota Muhammad bin Salman menyatakan akan melakukan “Revolusi Ta TasSyariyyah” atas kepemilikan di Arab Saudi. Bahasa Kapitalisnya adalah privatisasi atas beberapa aset yang ada di Arab Saudi. 

Dengan defisit anggaran yang ada, maka Privatisasi Model negara ke-3 akan diberilakukan atas perekonomian Arab Saudi. Diantaranya adalah privatiasai aset-aset vital, penerbitan hutang obligasi dengan bunga riba, penjualan pajak milik negara, termasuk aset-aset yang dekat dengan haramain, tanah Makkah dan Madinah. 

Demikian pula dengan pajak nilai tambah, akan dikenakan kepada masyarakat, selain akan semakin menambah kemiskinan, pajak nilai tambah ini juga bertentangan dengan syari’at Islam. Ini jelas-jelas juga merupakan solusi perangkap dengan sistem Kapitalis. 

Perusahaan minyak terbesar di dunia “Saudi Aramco” juga akan melakukan privatisasi dengan IPO (Initial Public Offering), yang pada akhirnya membuka lebar akan kepentingan asing untuk membeli saham dan melakukan hegemoni. 

Dan yang lebih menyedihkan lagi, dengan latah para pejabat Saudi juga mulai berbicara tentang Privatisasi Pemeliharaan Kesehatan –BPJS jika di kita--, dan sektor pendidikan –BHMN jika di kita--, industri persenjataan, dan perusahaan lain yang dikuasai oleh negara. 

Karenanya, pesoalan rendahnya harga minyak ini akan menyebabkan hilangnya kontrol atas aset-aset publik dalam jangka pendek dan juga jangka panjang. Arab Saudi akan masuk pada perangkap Sistem Ekonomi Kapitalis. 

Kaum Muslimin…

Menyelesaikan persoalan ekonomi dengan menggunakan instrumen ekonomi Kapitalis sama saja dengan bunuh diri secara ekonomi. Tidak ada satu pun di dunia ini negara yang dapat menyelesaikan persoalan ekonominya dengan pinjaman Bank negara-negara Kapitalis. 

Mengikuti instruksi ekonomi Kapitalis untuk menyelesaikan persoalan ekonomi negeri Islam adalah bentuk dari menjadikan orang kafir untuk menguasai dan menjajah kita. Allah melarang keras akan hal ini. Firman Allah SWT.

(وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا)

“Dan Allah tidak pernah sekali-kali memberikan idzin atas kaum muslimin jalan bagi orang-orang kafir” (An Nisa 141).

Tidak ada jalan lin menyelesaikan problem ekonomi ini kecuali dengan sistem ekonomi Islam. Karena sistem Ekonomi Kapitalis sendiri terbukti telah gagal dalam mensejahterakan mansyarakat dunia. Dan sistem ekonomi Islam yang agung tersebut hanya terealisir dalam wadah Negara Khilafah Islamiyyah ala Minhaj Nubuwah. [VM]

(*) Pengamat Politik
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Perangkap Ekonomi Kapitalis atas Perekonomian Arab Saudi"