Makna Politis dari US-ASEAN Summit

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Umar Syarifudin 
(Lajnah Siyasiyah DPD HTI Kota Kediri)

Presiden Joko Widodo bersama seluruh kepala negara di kawasan ASEAN dan juga Presiden Barack Obama telah selesai mengikuti gelaran US-ASEAN Summit di Sunnyland, California 15-16 Februari 2016. Ada 17 kesepakatan yang dihasilkan dalam KTT selama dua hari itu. Selama dua hari gelaran US-ASEAN Summit telah dibahas berbagai hal, antara lain soal keadaan ekonomi di kawasan ASEAN dan beberapa isu penting lainnya. Presiden Jokowi secara khusus membawa isu UMKM dalam forum ini. Selain itu, dibahas juga mengenai keadaan keamanan di kawasan ASEAN. Diskusi tentang kontra terorisme juga digelar dengan Presiden Jokowi sebagai pemimpin diskusi. Setelah dua hari, lahirlah 17 butir pernyataan bersama yang dinamakan Deklarasi Sunnylands.

Strategi AS Membonsai Pengaruh Cina

Setelah melakukan transformasi dari ekonomi sosialisme ke ekonomi kapitalisme, Cina mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Sejak tahun 1990-2013, negara tersebut tumbuh rata-rata 10%. Pendorong utama petumbuhan tersebut adalah investasi dan ekspor yang tumbuh sangat pesat. Daya tarik investasi yang tinggi dan keunggulan dalam perdagangan luar negeri membuat Cina meraup surplus devisa yang sangat besar tiap tahunnya. Hingga September 2015, cadangan devisa negara itu mencapai US$3,5 triliun. Bandingkan dengan cadangan Indonesia yang pada periode yang sama hanya sebesar US$101 miliar.

Cina sering disebut-sebut sebagai negara yang berpeluang besar tampil sebagai dominant power menggantikan Amerika Serikat (AS) dan Rusia di Kawasan Asia Tenggara Pasca Perang Dingin. Perkembangan politik di Asia Tenggara dewasa ini telah melahirkan tantangan, tekanan dan sekaligus peluang-peluang baru bagi Cina. Dalam perubahan strategis dan ekonomi Kawasan Asia Tenggara, Cina menunjukan sikap lebih fleksibel. Cina menjadi aktif dalam pengembangan regionalisme ekonomi dan keamanan. Sikap ini membuat Cina menjadi lebih di terima di kawasan dan mempunyai posisi lebih kuat dalam persaingannya dengan kekuatan-kekuatan regional lain di kawasan.

Cina adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia yang mencapai rata-rata hampir 10% tiap tahun. Dua belas persen pertumbuhan ekonomi dunia berasal dari pertumbuhan ekonomi Cina. Cina juga berhasil menarik investasi asing ke dalam Cina, termasuk Taiwan yang nilainya mencapai ratusan milliar dolar. Hal ini di mungkinkan karena keterbukaan ekonomi Cina dalam beberapa dekade sejak dilakukannya program keterbukaan dan pembangunan ekonomi oleh mantan perdana menteri Deng Xiao Ping pada tahun 80-an. Cina juga mencatat surplus perdagangan dengan hampir semua negara penting dunia. Khususnya dengan Amerika Serikat, pada tahun 2005 surplus perdagangan Cina mencapai 200 milyar dolar lebih yang merupakan 26% dari total defisit perdagangan Amerika Serikat.

Secara eksternal, kepentingan ekonomi Cina juga memaksa Cina untuk menerapkan politik luar negeri yang bersahabat dengan masyarakat internasional dengan ditopang oleh diplomasi yang makin asertif untuk melindungi kepentingan strategis dan perdagangan internasionalnya. Saat ini lima puluh persen impor Cina berasal dari Timur Tengah. Cina hanya mempunyai 2.1% cadangan minyak dunia. Sembilan puluh persen kebutuhan minyak Cina di import melalui laut dan akan terus naik karena Cina akan mengimpor 12.7 juta barel/hari pada tahun 2020. Saat ini Cina mengimpor 6.2 juta barel/hari. Ini berarti ketergantungan Cina terhadap perairan Asia Tenggara dan Indonesia khususnya akan terus menguat.

Cina bukanlah sebuah negara yang kaya akan sumber alam yang cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonominya yang sangat tinggi. 

Bisa dikatakan Cina saat ini sedang mengalami lateral pressure, dimana meningkatnya jumlah penduduk dan kemajuan teknologi akan mendesak sebuah negara untuk mencari sumber daya alam, terutama minyak sebagai sumber energi, dalam jumlah yang sangat besar dan beragam di tempat lain di luar wilayahnya. Oleh karena itu, berbagai macam usaha ke luar negeri harus dijalankan oleh Cina untuk dapat memperoleh pasokan minyak yang cukup untuk kebutuhan pembangunannya. Seiring dengan kebutuhan minyak, Cina juga harus mampu mengamankan jalur pelayaran pengantar minyak. Wilayah paling rawan saat ini adalah Selat Malaka, selat yang sangat sibuk dan sangat kritis tidak hanya bagi Cina tetapi juga bagi AS dan Jepang. Cina memang tidak mengerahkan kekuatan militernya untuk bisa menaklukan Asia Tenggara. Dengan Soft Power, Cina akan berupaya mengisi vacuum power yang ada sekarang ini di kawasan untuk memenuhi kebutuhan akan sumber daya alam yang semakin meningkat (lateral pressure). Menurut Joseph S. Nye, Soft Power adalah kemampuan suatu negara untuk membujuk negara lain dengan menggunakan pengaruh dalam melakukan sesuatu. Ideologi, budaya, prestise atau kesuksesan suatu negara merupakan daya tarik bagi negara lain sehingga negara itu bisa menjadi pemimpin, dan negara-negara lain dengan sukarela bertindak sebagai pengikut.

Sebagaimana telah diketahui bahwa AS memiliki kepentingan besar untuk menjaga kepentingan mereka di Asia Tenggara, baik hegemoni politik, ekonomi maupun sumberdaya alam seperti di kawasan Laut Cina Selatan yang kaya akan deposit migas. Di kawasan Asia Tenggara AS harus bersaing dengan Cina dalam memperebutkan pengaruhnya. Karena pemerintah Cina pun terus menerus melakukan lobi politik, ekonomi dan militer untuk memenangkan pertarungan politik mereka dengan AS. Hal ini misalnya disampaikan oleh Dubes Cina untuk RI bahwa Presiden mereka ingin meningkatkan hubungan bilateral dengan RI di semua sektor, karena menilai Indonesia amat penting dan strategis bagi Cina. Sehingga ini menjadi US-ASEAN Summit menjadi wadah untuk mengembalikan trust Negara-negara ASEAN untuk tetap setia terhadap AS.

Bagi AS, Cina yang kuat sangat menakutkan karena merupakan ancaman terhadap semua kepentingan AS diseluruh dunia. Namun kehadiran dan posisi AS yang kuat dibelakang kekuatan militer Jepang selama ini merupakan pemicu bagi Cina untuk terus meningkatkan kapasitas militer sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ekonominya. Sungguh begitu, dimasa depan politik luar negeri AS terhadap Cina dan di Asia Tenggara masih akan sangat dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan perdagangan di bandingkan dengan isu nuklir. Meskipun AS masih merupakan pemimpin ekonomi dunia, tetapi negara ini kalah cepat memanfaatkan peluang ekonomi yang ada dibandingkan apa yang telah dilakukan oleh Cina, terutama dalam melakukan rekonsiliasi antara kepentingan politik dan ekonominya. Apalagi kondisi itu diperparah dengan adanya krisis ekonomi global yang justru dimulai dari AS sekarang ini. 

Sampai sekarang AS tidak berhasil menahan kekuatan ekonomi Cina, meskipun berulang kali AS melakukan protes karena kemajuan ekonomi Cina tersebut dianggap AS karena Cina melakukan praktek perdagangan yang tidak adil. Walaupun begitu, secara khusus di kalangan negara-negara Asia Tenggara masih ada pandangan bahwa kehadiran AS merupakan faktor yang sangat penting untuk menjamin stabilitas kawasan, terutama untuk mengimbangi peran Cina yang di nilai semakin agresif.

Hegemoni Soft Power

Era globalisasi yang ditandai dengan liberalisasi perdagangan dan investasi sudah tidak dapat dibendung lagi. Berbagai negara, baik negara maju maupun Negara berkembang, sudah mulai bersiap-siap menghadapi situasi yang disebut sebagai The Boderless World oleh futurolog Keniche Ohmae. Kecenderungan ini mengakibatkan pasar menjadi berkembang begitu bebas tanpa ada satu orang pun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi. Sebagai implikasi langsung, perkembangan global yang demikian akan mempengaruhi perekonomian Indonesia dan Negara-Negara ASEAN dalam jangka panjang dan mengingat sifat perekonomian Indonesia khususnya yang semakin terbuka.
Secara geopolitik, posisi Indonesia sangat strategis di kawasan Asia Pasifik dan Selat Malaka. Sedangkan secara ekonomi, Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan sumberdaya alam dan mineral, baik di darat maupun di laut. Kekayaan alam Indonesia yang sangat luar biasa ini jelas sangat menggoda negara-negara imperialis untuk menguasainya, langsung ataupun tidak langsung. Disamping itu, dengan jumlah penduduk besar, Negara-negara ASEAN adalah pasar potensial bagi produk-produk negara-negara industri.

Perhatian AS di kawasan Asia Tenggara sebenarnya bukan kepada Negara-negara ASEAN, sekali lagi melainkan lebih diarahkan untuk menghadapi semakin besarnya kekuatan Cina di berbagai bidang, karena AS memprediksikan Cina dapat menjadi negara yang paling berpengaruh setelah AS dalam 20 tahun kedepan. Hal ini menjadi penting mengingat Indonesia, dan negara-negara di Asia Tenggara, telah melakukan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China pada 2010.

Pada poin 10 Deklarasi Sunnyland . Keinginan yang kuat untuk menyelesaikan masalah-masalah global seperti terorisme dan ekstremisme. Khusus Indonesia, poin ini selaras dengan agenda yang dibawa AS sebagai CTX (Counter Terorism Exercise) 2013. Agenda ini masih lanjutan dari agenda global War On Terror, dengan menjadikan kelompok Islam garis keras sebagai tertuduh. Pertemuan ini agendanya adalah ASEAN Defence Ministers’ Meeting-Plus Experts Working Group on Counter Terrorism Exercise (ADMM-Plus EWG CTx) yang telah berlangsung tanggal 9-13 September 2013 di IPSC Sentul Bogor. Tentu saja agenda ini akan sarat dengan pesan dari negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat dalam memerangi Islam.

Kebengisan Barat dalam memerangi Islam misalnya terlihat dengan tetap mensupport  junta militer Mesir yang membantai ribuan massa pendukung Presiden terguling Mursi dari Ikhwanul Muslimin. Padahal Mursi terpilih dengan jalan demokrasi sebagaimana arahan AS. Mursi juga telah tampil membawa Islam moderat dan menjamin sejumlah kepentingan AS di Timur Tengah seperti Perjanjian Camp David. Namun demikian AS tetap menyetujui penggulingannya.
Tunduknya penguasa negeri-negeri Islam ke bawah jempol AS adalah tragedi. Mengapa mereka mau saja menjadi sekutu negeri penjajah yang sebenarnya tengah sekarat? Kedatangan Menlu AS ke sejumlah menteri pertahanan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah cerminan kekhawatiran negeri imperialis tersebut kehilangan pengaruhnya. Amerika Serikat telah terpuruk secara ekonomi dan militer. Pemerintahan Obama pun sudah kehilangan daya dukung dari publik. Ia tak lebih dari kerupuk yang pada awalnya kelihatan besar dan mengembang tapi dengan cepat mengkerut karena kelemahannya sendiri.

Efek Domino

Dalam hubungan antar negara, yang tidak boleh kita lupakan, setiap kebijakan politik luar negeri suatu negara pasti ditujukan untuk kepentingan negara itu. Apalagi Amerika yang berbasis ideologi Kapitalisme. Politik luar negeri negara Kapitalis seperti AS bertujuan untuk menyebarluaskan dan mengokohkan ideologi Kapitalisme di seluruh dunia. Metode baku yang mereka gunakan adalah penjajahan (imperialisme) dalam berbagai bentuknya –ekonomi, politik, atau pun budaya. Dengan cara itulah negara Kapitalis bisa eksis.

US-ASEAN Summit  ini adalah bentuk nyata penggunaan soft power pemerintahan Obama. Tentu tujuannya adalah memperdalam pengaruh dan kontrol AS atas negara yang dijadikan sasaran soft power itu dalam hal ini adalah Negara-negara ASEAN. Menjadikan ASEAN sebagai mitra strategis seharusnya dibaca sebagai upaya AS merangkul Negara-negara tersebut, khususnya Indonesia sebagai ‘sahabat’ AS dalam mengokohkan penjajahan Kapitalismenya. Sebab, siapa yang sebut teman oleh AS adalah negara-negara yang sejalan dengan nilai dan kepentingan AS.

Obama hadir untuk kepentingan politik dan ekonomi AS. Pertama mengokohkan, melindungi, dan memperluas ekspansi perusahaan AS terutama di sector strategis seperti energy (minyak, gas) dan pertambangan (emas) di Indonesia. Kedua, menjadikan Indonesia sebagai pasar penting ekspor AS untuk membuka menggerakkan kembali ekonomi AS dan membanyak lapangan pekerjaan di Amerika. Ketiga, AS juga punya kepentingan untuk memenangkan pertarungan ekonomi AS yang baru melawan Cina di Asia Pasifik.

Dan perlu kita catat semua ini secara politik dan ekonomi akan lebih banyak menguntungkan AS. Disamping itu juga akan memperkuat perampokan terhadap kekayaan alam Indonesia terutama minyak, gas dan emas yang seharusnya merupakan milik rakyat yang dikelola pemerintah dengan baik untuk kemashlahatan rakyat. Selama ini kekayaan alam Indonesia lebih banyak dirampok oleh perusahaan asing termasuk AS dengan memberikan sedikit keuntungan bagi Indonesia, namun meninggalkan banyak persoalan lingkungan.

US-ASEAN Summit untuk memastikan bahwa Negara-negara ASEAN dan termasuk Indonesia tetap dalam orbit pengaruhnya. Secara politik tetap menganut sistem dan ideologi sekuler. Dan secara ekonomi tetap menjadi pasar produknya dan perusahaan-perusahaan AS tetap leluasa beroperasi di Indonesia. Artinya, US-ASEAN Summit akan semakin mengokohkan penjajahan (tidak langsung) AS atas negeri ini. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Makna Politis dari US-ASEAN Summit"