Bukan Diskriminasi yang Berbicara, tapi Hati Nurani

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Naeswary

Seakan tak memberikan jeda untuk sejenak bernafas, kejadian demi kejadian saling susul-menyusul di negeri ‘kolam susu’ ini. Setelah adanya gocangan oleh tragedi terorisme di Jakarta yang dikenal dengan ‘bom sarinah’ pada hari. Kini bangsa indonesia dengan masifnya digempur oleh isu-isu LGBT. Dari berbagai penjuru, bangsa indonesia seakan ‘disuapi’ hingga penuh kekenyangan dengan isu maupun kampanye gerakan LGBT. Dan yang cukup menarik yakni adanya pro-kontra-netral yang seolah membagi bangsa ini menjadi tiga kelompok tersebut. 

Banyak pakar yang mendengungkan opini untuk permasalahan ini. Salah satunya adalah Rohaniwan Franz Magnis Suseno atau akrab disapa Romo Magnis yang mengatakan bahwa harus dihapuskannya deskriminasi dan kekerasan terhadap golongan tersebut. Seperti yang dilansir oleh Tempo (17/02) :

"Mereka bagian dari masyarakat yang punya kekhususan. Kita harus hormati mereka sebagai bagian dari masyarakat, jangan diskriminasi mereka," kata Romo Magnis.

Ditambah lagi, Romo Magnis mengatakan bahwa seksualitas merupakan sesuatu yang bersifat privasi dan orientasi seksual merupakan sesuatu yang didapatkan saat seseorang menginjakan usia dewasa.

"Kebanyakan orang secara otomatis memiliki ketertarikan pada lawan jenis, tetapi ada juga orang yang mungkin lima persen atau lebih secara alami tertarik pada sejenis," tutur Direktur Program Pasca-Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu.

Selain Romo Magnis, para politisi maupun lembaga angkat bicara tentang fenomena sosial tersebut. KPI sebagai lembaga penyiaran, seperti yang dilansir dalam Tempo (13/02), menyatakan untuk melarang adanya promosi gerakan LGBT. 

“Aturan dalam P3 dan SPS itu sudah jelas, baik tentang penghormatan terhadap nilai dan norma kesusilaan dan kesopanan atau pun tentang perlindungan anak dan remaja,” kata Wakil Ketua KPI Pusat Idy Muzayyad seperti dikutip dari website KPI, Jumat, 12 Februari 2016.

Dalam suatu fenomena yang terjadi di masyarakat barang tentu terdapat dua atau tiga kubu golongan pro-kontra-netral yang mewarnai masyarakat. Berbagai cara pandang untuk menilai fenomena tersebut tercipta dengan sendirinya. Dalam masalah LGBT ini, terlihat ada dua pandangan dalam menilai fenomena tersebut. Ada yang memandangnya dalam segi kemanusian dan ada pula yang memandang dalam segi moral dan nilai agama. Ini hanyalah sebuah perbedaan sudut pandang!

Di negeri Indonesia ini yang masih kental dengan nilai moral, apalagi mayoritas penduduknya menganut agama Islam barang tentu menolak dengan tegas pelegalan gerakan LGBT tersebut. Selain tidak sesuai dengan karakter bangsa ini, LGBT dianggap melenceng dari kaidah syariat Islam. Islam memandang LGBT seolah flashback dengan persoalan yang terjadi pada kaum Nabi Luth as. Sebagaimana Allah terangkan dalam al Quran:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ( ) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ ( )

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al ‘Araf: 80 – 81).

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, LGBT memang tidak sesuai dengan karakteristik bangsa ini dan juga tidak sesuai dengan aturan seksual yang memiliki tujuan pelestarian jenis. Namun tentu, tidak dibenarkan pula legalisasi deskriminasi maupun kekerasan terhadap LGBT atas nama agama maupun moral. Apalagi jika kita melihat bahwa mereka adalah golongan yang dalam jalan yang salah sehingga sebagai saudara sebangsa maupun seiman memiliki kewajiban untuk menuntun kembali ke jalan yang benar. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Bukan Diskriminasi yang Berbicara, tapi Hati Nurani "