Mencari Akar Konflik Iran dan Arab Saudi

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Mencari akar konflik di timur tengah memang panjang, bahkan sering kali kecenderungan opini mengatakan bahwa konflik timur tengah dibubuhi perang syiah dan sunni yang seakan tidakan ada ujungnya, sebagai “strat”  sabtu, 2 Januari 2016, Arab Saudi mengumumkan telah mengeksekusi 47 orang yang menurut mereka, terlibat dalam aksi ekstremisme dan penyebaran ideologi  yang tidak sejalan dengan pemerintah.  Salah satu diantara mereka yang dieksekusi adalah al Nimr, ulama asal Iran. Tak sampai sehari, keputusan Saudi menimbulkan guncangan. Warga Iran yang marah melakukan unjuk rasa di kedutaan Saudi di Teheran dan Mashhad. Sikap Saudi ditanggapi Iran melalui kementerian luar negerinya mengatakan Saudi sengaja menjadikan momen tersebut untuk menaikan tensi konlfik.

Perang, antara Minyak dan Pengaruh

Semenjak keruntuhan turki ustamani, negeri kaum muslim “dipotong” berdasarkan tapal perbatasan yang semakin memperkecil kekuasaan, daerah kekuasaan turki ustmani dipecah kedalam negara-negara kecil, yang mana setiap negara berada dibawah pengaruh barat. Namun ketika daulah tegak kaum muslim dipersatukan tanpa dipisahkan dari kondisi geografis ataupun batas wilayah sehingga benih perbecahan bisa dihindari. Keruntuhan daulah islmiyah mempunyai dampak yang besar, dan menjadi salah satu akar perpecahan kepada konflik timur tengah yang tidak pernah reda, runtuhnya daulah timur-tengah  menjelma menjadi kawasan yang tidak pernah lepas dari masalah politik baik skala domestik,  regional maupun internasional, lebih tepatnya selalu penuh dan lahir kejutan politik, yang lebih pahitnya Amerika selalu ikut andil menfaatkan keadaan, semata-mata menjaga pengaruh kepentingan  apalagi kalau bukan ketergantungan Amerika terhadap minyak.  Berapa banyak perang yang telah dikobarkan hanya kerena memperebutkan kilang minyak, yah tentu hal ini terjadi ketika kaum muslim mulai dipsah-pisahkan oleh letak geografis. Ketegangan Saudi dan Irant dianggap sebagai ketegangan yang “rutin” Iran dan Arab Saudi sudah lama terlibat perang pengaruh. Kedua negara ini sama-sama produsen minyak terbesar di jazirah teluk dan juga sama-sama menguasai jalur strategis perdagangan minyak. Perang pengaruh antara kedua negara terlihat nyata di konflik Suriah dan Yaman. Perang di Suriah juga secara transparan memperlihatkan dukungan dua negara besar. Amerika yang mendukung Saudi, dan Rusia mendukung Iran, yang direpresentasikan pada dukungan untuk Bashar al Assaad. Bahkan keputusan Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Iran, juga diikuti oleh Bahrain. Sebagai bentuk dukungan pada Saudi, Suriah yang saat ini tengah bergejolak memiliki arti penting dan strategis, Suriah adalah tanah yang diberkahi Allah dengan sejuta kekayaan yang tertanam didalamnya.  Disisi lain memburuknya konlik Arab-Iran  memperdalam celah atas kebijakan minyak di negara-negara yang tergabung dalam OPEC, dimana negara anggotanya menghasilkan sekitar sepertiga dari minyak mentah dunia.  Produsen minyak berkantung tebal seperti Arab Saudi dan Kuwait, saling mendukung untuk tetap menjaga produksi mereka untuk melindungi pangsa pasar mereka terhadap saingan non-OPEC, sementara produsen seperti Iran dan Venezuela terus mendesak kelompok tersebut untuk memotong produksi secara keseluruhan.

Lantas Bagaimana dengan Umat Islam?

Diantara perang kepentingan, umat islamlah yang menjadi korban, padahal disaat waktu yang sama kondisi Suriah, Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya terjajah dan terbengkalai, dimanakah pemimpin kaum muslimin? mereka hanya disibukan dengan kepentingan perut mereka. Ironisnya kondisi geografis yang potensial kenyataannya tidak berbanding lurus dengan kenyamanan politik dan kesejahteraan umatnya, bahkan  tarik menarik kepentingan antar kekuatan dunia di Timur-Tengah terus berlangsung untuk menancapkan hegemoninya hingga saat ini. Padahal kekuatan geografis yang seyogyanya dapat dijadikan sebagai kekuatan politik umat islam kenyataanya justru berbalik arah, kaum muslim malah berperang, padahal sejatinya apabila dipersatukan kembali, segala bentuk kekayaan tersebut menjadi milik umat bukan lagi kepentingan sesaat, bukankah Allah yang menciptakan  langit dan bumi beserta kekayaan bukan untuk diperebutkan. [Anastasia (Almuni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung)] [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Mencari Akar Konflik Iran dan Arab Saudi"