Harga BBM di Indonesia, Lebih "KAPITALIS" Dari Negara Kapitalis

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Seiring dengan melesunya perekonomian dunia, harga minyak mentah dunia, Crude Oil (WTI) juga semakin melorot.

Patokan harga minyak mentah di pasar AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman bulan Februari, turun 1,91 dollar, menjadi menjadi 26,55 $ dollar AS/barel. Tingkat terendah sejak Mei 2003. 

Sejumlah analis memperkirakan, harga minyak bisa menyentuh 20 $ AS per barel. Bahkan analis dari Standar Chartered memperkirakan harga minyak mentah dunia bisa melorot sampai 10 $ AS per barel. 

Sehingga sangat wajar jika harga BBM di sektor hilir juga otomatis akan turun. 

Saat ini di Amerika harga BBM kurang dari Rp 2.000 per liter. Laporan harga BBM di Amerika kemarin, Jumat 22 Januari 2016, Harga Minyak Dunia sudah mencapai US$29 per Barrel = 159 Liter atau hanya sekitar $ 0.47 per gallon = Rp.1.700 per liter, bisa kita bandingkan sendiri dengan negara kita yang rata mencapai kisaran 7 ribu per-liter untuk harga premium.

Lain Amerika lain Indonesia. Harga BBM di Indonesia seperti Bensin masih sekitar Rp 7.000, dan solar sekitar Rp 5.000'- sedangkan Pertamax dan Pertalite masih diatas Rp 8.000,-

Harga BBM di Indonesia termasuk yang termahal di Asia Tenggara. Srbagsi contoh, harga BBM jenis Pertamax di Malaysia kini dijual Rp 5.800 per liter. Sementara di Indonesia masih di atas angka Rp 8.000,-

Bukan hanya masyarakat sesungguhnya yang mengeluh atas tidak turunnya harga BBM dengan turunnya harga minyak dunia. 

Bank Indonesia juga mengeluhkan atas sikap pemerintah ini. BI terus memperhatikan laju minyak dunia yang terus menurun, karena hal ini akan sangat terkait dengan laju inflasi yang diantisipasi BI. Jika dengan kondisi penurunan minyak dunia pemerintah konsisten menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) maka inflasi dapat ditekan.

“Dengan penurunan harga minyak dunia, inflasi bisa lebih rendah. Sehinga akan ada ruang likuiditas yang longgar.

Alasan pemerintah tidak menurunkan BBM mendada-ada dan menunjukkan kebohongan. Sama kebohongan nya saat Pemerintah bersikeras ingin menaikkan harga BBM beberapa waktu lalu.

Saat ingin menaikkan harga BBM, berulangkali pemerintah mengatakan saatnya kita harus menyesuaikan harga BBM dengan harga pasar. Harga BBM kita terendah di seluruh dunia, tanpa melihat sisi daya beli masyarakat di negara tersebut. 

Alasan lain subsidi yang salah sasaran. Subsidi dinikmati oleh mereka yang kaya. Seolah negara ini masyakatnya banyak yang kaya.

Persoalan kian didramatisir dengan mengatajan. Jika BBM tidak dinaikkan, negara seolah akan hancur, APBN akan jebol. Karena pemerintah harus menanggung beban berat subsidi BBM yang dinilai salah sasaran tadi. Padahal semua orang mengerti, bahwa APBN negara ini 80 % dari pajak. Hakikatnya masyarakatlah yang mensubsidi pemerintah. 

Dan saat harga minyak dunia turun 40 %, alasannya lain lagi. Tidak ada kata-kata menyesuaikan dengan harga pasar. Segelintir pihak dari pemerintah menyatakan bahwa kelebihan margin untuk menutupi kerugian beberapa waktu yang lalu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan dasar untuk menetapkan harga bahan bakar minyak telah tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No.4/2015. 

Kendati terdapat pilihan penyesuaian harga BBM dengan harga minyak dunia yaitu 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan, pemerintah telah menetapkan harga akan disesuaikan setiap 3 bulan. 

Mana kata-kata menyesuaikan dengan mekanisme pasar yang dahulu didengungkan? Jelas pemerintah tidak konsekuen. Dan semua orang juga faham ini adalah permainan mafia migas untuk mengeruk profit saat masyarakat kian terhimpit. 

Demikianlah jika negeri ini dikelola orang-orang yang tidak amanah. Baginda Rasul jauh-jauh hari mengingatkan kepada kita. 

“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (Hr. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).

Kaum muslimin...

Derita negara "ghairu mumayyiz", negara tidak ideologis, negara amburadul seperti Indonesia, hakikat penderitaan masyarakat atas berbagai kebijakan pemerintah akan terasa lebih parah dibandingkan dengan negara ideoligis, seperti Kapitalis, meski ideologinya tidak benar layaknya negara AS dan Rusia. 

Karena negara yang plin plan, cenderung tidak memiliki strategi dan politik ekonomi yang jelas. Penguasa negara benar-benar dikendalikan oleh " preman" berdasi dan komprador asing. 

Masyarakatnya pun sangat gampang untuk dikibuli. Orang-orang yang dianggap kritis menjadi krisis ketika diajak "makan malam" ke Istana atau diberi kedudukan tertentu. Para pegiat keadilan maju tak gentar membela yang bayar.

Karenanya tidak aneh, harga BBM di negara ini, lebih "kapitalis", lebih mencekik masyarakat dibanding di negara Kapitalis --dengan serangkaian kebobrokannya. 

Hanya pada Islam kita bisa berharap. [Luthfi Hidayat] [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Harga BBM di Indonesia, Lebih "KAPITALIS" Dari Negara Kapitalis"