Refleksi Ketakwaan Kita di Penghujung Ramadhan

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Nabi menegaskan, “Ramadhan” disebut demikian, karena ia bisa membakar dosa-dosa kita [Hr. Ibn Qudamah]. Dosa-dosa kita dibakar, dengan berbagai ketaatan yang ada di dalamnya, sebagaimana firman Allah SWT: “Inna al-hasanat yudzhibna as-sayyi’at” [Sesungguhnya berbagai kebaikan itu akan bisa menghilangkan keburukan dan maksiat] [Q.s. Hud: 114].

Karena itu, Ramadhan telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai bulan puasa, bulan kesabaran, dan tentu bulan penuh berkah. Puasa itu, kata ‘Umar bin al-Khatthab radhiya-Llahu ‘anhu, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari hal-hal tidak berguna dan sia-sia [Hr. Ibn Abi Syibah, dalam kitabnya, al-Mushannaf]. Maka, dengan puasa, kita dilatih untuk melakukan ketaatan sepenuhnya kepada Allah, dan menjauhi sejauh-jauhnya maksiat. Termasuk hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna pun harus ditinggalkan. Di sinilah, kesabaran kita diuji. Sabar melawan dorongan nafsu dan syahwat.

Sabar melawan dorongan nafsu dan syahwat lebih susah, ketimbang sabar dalam taat. Namun, dengan ketakwaan yang didapat, semuanya itu akan mudah. Bagaimana tidak, ketakwaan yang dibentuk oleh keyakinan pada yang gaib [Q.s. al-Baqarah: 3] itu telah menghasilkan kekuatan tanpa batas. Betapa tidak, ketika kita meyakini Dzat dan Sifat Allah, Allah Maha segalanya, maka keterbatasan kita pun sirna, saat kita bersandar kepada Allah yang Maha tak terbatas.

Dengan susah payah kita pun puasa, shalat, bangun di tengah malam, melangkahkan kaki untuk shalat berjamaah di masjid, membaca dan memahami al-Qur’an serta berjuang untuk menegakkan hukumnya, karena kita yakin dengan janji Allah yang gaib. Pahala, surga, rontoknya dosa-dosa kita saat kaki melangkah ke masjid, semuanya adalah gaib. Semuanya itu kita yakini. Yakin, bahwa apa yang Dia janjikan itu benar dan pasti [Q.s. Fathir: 4]. Karena keyakinan itulah, maka kita pun termotivasi.

Maka, Allah SWT pun berfirman, “Al-Ladzina Yu’minuna bi al-ghaibi” [orang yang meyakini yang gaib] [Q.s. al-Baqarah: 3]. Setelah keyakinan pada yang gaib ini terbentuk dan kokoh, Allah melanjutkan firman-Nya, “Wa Yuqimuna as-shalat” [dan mendirikan shalat]. Artinya, tidak mungkin kita bisa menegakkan shalat dengan sebenar-benarnya, jika keyakinan kita pada yang gaib itu rapuh. Begitu juga ketika Allah melanjutkan firman-Nya, “Wa Mimma razaqnahum yunfiquna” [dan membelanjakan apa yang Kami berikan kepada mereka], maka ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang meyakini yang gaib.

Karena itu, keyakinan kita kepada yang gaib, kepada Allah, Dzat dan Sifat-Nya, kepada janji-Nya, termasuk rizki, ajal, pertolongan dan kemenangan, pahala, dosa, surga dan neraka, tentu juga malaikat dan perkara gaib yang lainnya, merupakan dasar dan kunci ketakwaan kita. Dasar yang menjadikan aktivitas kita kokoh tak tergoyahkan, meski dianggap gila, tidak masuk akal dan sebagainya. Allah mengingatkan Nabi:

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ، وَلاَ يَسْتَحِفَنَّكَ الَّذِيْنَ لاَ يُوْقِنُوْنَ

“Bersabarlah [Muhammad], sesungguhnya janji Allah itu benar dan pasti. Maka, janganlah sekali-kali orang-orang yang tidak meyakini [janji-Nya] itu membuatmu gelisah [tidak percaya diri]. [Q.s. ar-Rum: 60]

Keyakinan kita kepada yang gaib, membuat pikiran kita bisa melintasi batas. Betapa tidak, ketika kita meyakini rizki di tangan Allah, maka keterbatas nominal yang ada di tangan kita tidak akan membatasi kita untuk meraih mimpi mempunyai rumah, kendaraan, menyekolahkan anak dan sebagainya. Namun, jika pikiran kita membatasi rizki dengan nominal dan angka, maka kita pun terbelenggu oleh sekat yang kita buat sendiri. Padahal, rizki Allah Maha luas, tidak seperti angka dan nominal yang kita pikirkan. Maka, dengan keterbatasan nominal di tangan, tak menyurutkan langkah kita tuk meraih mimpi yang tinggi. Karena, kita yakin dengan misteri rizki di tangan Allah yang gaib.
Begitu juga, ketika kita yakin dengan janji Allah, bahwa Khilafah akan berdiri, dan Islam akan tegak kembali di muka bumi [Q.s. an-Nur: 55]. Keyakinan ini membuat pikiran kita bisa melintasi batas dan sekat apapun. Sekat Nasionalisme, perpecahan, perbedaan kelompok dan mazhab, lemahnya SDM, sains dan teknologi, akan bisa ditembus oleh keyakinan kita pada janji-Nya. Keyakinan itulah yang telah menjadikan kaum Muslim di masa lalu bisa mengalahkan apapun dan siapapun, yang secara fisik dan matematis sangat sulit ditundukkan.

Mereka bisa melintasi samudera, menundukkan badai dan apapun yang secara fisik dan matematis sulit ditaklukkan, karena keyakinan mereka pada pertolongan Allah. Maka, tak ada sungai, laut dan samudera, kecuali mereka tundukkan, padahal mereka hanya menggunakan kapal layar. Tak ada radar, navigasi atau kompas. Hanya keyakinan mereka pada pertolongan Allah SWT yang membuat mereka bisa menaklukkan semuanya itu.

Sekat-sekat materi itu adalah fakta kehidupan dunia yang tampak kasat mata. Jika fakta itu membuat keyakinan kita goyah, maka itulah yang menjadi sumber petaka. Maka, Allah pun mengingatkan:

ياَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا..

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar dan pasti, maka janganlah sekali-kali fakta kehidupan dunia itu menipu kalian.” [Q.s. Fathir: 5]

Karena itu, keyakinan kita kepada yang gaib harus terus dibersihkan agar mengkristal, bersih dan tak ada sedikit pun diselimuti kekaburan, sehingga bisa mengakibatkan keyakinan kita kepada yang gaib itu rapuh. Caranya, dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara terus-menerus membaca, menghayati dan menerapkan kalam-Nya, yaitu al-Qur’an. Karenanya, Allah menjadikan Ramadhan, bukan hanya sebagai bulan puasa, bulan kesabaran dan bulan penuh berkah, tetapi juga bulan al-Qur’an.

Al-Qur’an yang diturunkan di bulan Ramadhan itu adalah petunjuk, penjelas dan obat penawar hati yang rapuh. Dengan selalu membaca, menghayati dan menerapkan kalam-Nya, hati dan keyakinan kita yang rapuh itu pun bisa dipulihkan. Rintangan dan tantangan apapun dalam kehidupan ini bisa kita atasi. Dunia dan seisinya pun kecil di mata kita. Karena, kita telah bersandar kepada Dzat yang Maha segalanya dan tak terbatas.

Keyakinan yang sama juga menjadi dasar dan kunci ketakwaan kita. Karena itu, kokoh dan tidaknya ketakwaan kita pun akhirnya kembali pada keyakinan kita kepada yang gaib. Semakin jelas, jernih dan mengkristal keyakinan kita pada yang gaib, maka ketakwaan kita pun semakin kokoh. Semoga kita bisa meraihnya, sehingga sempurnalah Ramadhan kita. Amin.. [KH. Hafidz Abdurrahman (Khadim Majelis Syaraful Haramain @Hafidz_AR1924)] [www.visimuslim.com]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Refleksi Ketakwaan Kita di Penghujung Ramadhan"