Khutbah Iedul Fitri 1436 H (2015 M): Bersama Umat Tegakkan Khilafah

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Khutbah Pertama :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd,
Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada hari ini, kita pantas bersyukur kepada Allah Ta’ala, yang telah memberi kesempatan kita menikmati Idul Fitri yang penuh bahagia, setelah sebulan penuh kita berpuasa, agar menjadi insan-insan yang bertaqwa.

Namun di tengah rasa bahagia ini, kita tidak boleh melupakan kondisi umat Islam terkini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Karena sungguh masih banyak persoalan datang silih berganti, seakan-akan tiada mau berhenti.

Di dalam negeri kebijakan-kebijakan neoliberalisme terus menggila. Lihat naiknya harga-harga barang dan jasa. Harga gas elpiji naik, BBM naik, tarif listrik naik, dan masih banyak yang lainnya. Para penguasa seakan-akan tak peduli lagi dengan rakyatnya, mencabut subsidi seenaknya, walaupun rakyatnya sudah sangat menderita. Kita lihat juga semakin kuatnya nilai tukar Dolar Amerika, sementara nilai rupiah semakin nista. PHK (pemutusan hubungan kerja) mulai merajalela, akibat lesunya perekonomian di negeri kita.

Anehnya, dalam situasi ini, sikap penguasa terhadap korporasi asing justru sebaliknya. Contohnya, PT Freeport yang menguasai tambang di Papua. Tambang yang dalam Syariah Islam seharusnya menjadi milik kita bersama (milkiyyah ‘aammah), dieksploitasi secara rakus oleh PT Freeport yang banyak melanggar aturan yang ada. Sudah 3 tahun PT Freeport tak membayar dividen kepada pemerintah Indonesia, tidak membangun smelter untuk mengolah bahan mentah, namun PT Freeport tetap dibiarkan saja. Bahkan pemerintah tunduk tak berdaya dan justru menjadi pelayannya. Buktinya, pemerintah malah akan memperpanjang izin operasi PT Freeport selama 20 tahun lagi di Papua. Izin operasi kontrak karya (KK) akan diubah menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), yang intinya hanya berganti nama. Jika percepatan IUPK itu bisa dilakukan pada 2015, artinya PT Freeport masih diizinkan merampok kekayaan kita 20 tahun lagi hingga tahun 2035.
Allahu akbar 3x wa lillahil hamd,

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kondisi umat Islam di luar negeri juga masih sangat memprihatinkan. Jangan lupakan saudara-saudara kita para pejuang Syariah dan Khilafah yang ditindas diktator brutal Uzbekistan! Jangan lupakan saudara-saudara kita muslim Rohingnya yang sengsara terobang-ambing di tengah samudra! Jangan lupakan saudara-saudara kita di Mesir yang ditindas oleh Presiden Jenderal As Sisi yang telah menjadi tiran! Jangan lupakan saudara-saudara kita di Suriah yang dibunuh dan diperangi pemimpinnya sendiri, Basyar Asad yang menjadi setan!

Sungguh kita tidak boleh mengabaikan kondisi umat yang demikian itu. Karena kita adalah umat Islam yang satu. Penderitaan umat Islam di mana pun juga di muka bumi ini, hakikatnya adalah penderitaan kita bersama sebagai umat yang satu. Rasulullah SAW telah bersabda menggambarkan hal itu :

«اَلْمُسْلِمُوْنَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ إِنْ اِشْتَكَى عَيْنُهُ اِشْتَكَى كُلُّهُ وَإِنْ اِشْتَكَى رَأْسُهُ اِشْتَكَى كُلُّهُ»

(al-muslimuuna ka-rajulin waahidin, inisytaka ‘ainuhu isytaka kulluhu, wa inisytaka ra`suhu isytaka kulluhu). “Kaum muslimin adalah seperti satu orang laki-laki, jika sakit matanya akan merasa sakit pula seluruh tubuhnya. Jika sakit kepalanya akan merasa sakit pula seluruh tubuhnya.” (HR Muslim no 2586).

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd,
Hadirin yang dirahmati Allah,

Terhadap kondisi umat yang masih memperihatinkan di atas, sesungguhnya Islam telah memberikan solusi yang tuntas. Kondisi umat itu dapat diumpamakan seperti orang yang sakit, maka syariah Islam sajalah yang layak menjadi obat yang pas.

Syariah Islam telah mengharamkan kebijakan-kebijakan neoliberalisme yang menimbulkan derita; yang sebenarnya lahir dari neoimperialisme (penjajahan gaya baru) dari negara-negara kafir penjajah, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga mereka seperti IMF, WTO, ADB, dan Bank Dunia. Adanya dominasi dan hegemoni asing atas kita ini sebenarnya telah diharamkan Islam, sesuai firman-Nya :

﴿وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا﴾

“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (QS An Nisaa` [4]: 141).

Syariah Islam juga telah mewajibkan kita mengelola tambang-tambang seperti di Papua, sebagai milik kita bersama (milkiyyah ‘aammah), bukan sebagai milik pribadi sehingga dapat dieksploitasi oleh korporasi swasta. Nabi SAW terbukti telah membatalkan pemberian tambang kepada pribadi, dan menjadikannya sebagai milik umum. Nabi SAW pernah memberikan tambang garam di daerah Ma’rib kepada Abyadh bin Hammal RA. Namun, tatkala Abyadh bin Hammal telah pergi, seseorang yang berada di majelis berkata kepada Nabi SAW, “Tahukah Anda bahwa yang Anda berikan adalah (seperti) air yang mengalir?” Lalu Nabi SAW pun membatalkan pemberiannya itu. (HR Baihaqi dan Tirmidzi).

Syariah Islam juga telah mewajibkan memberikan pertolongan kepada saudara sesama muslim yang menderita, seperti Muslim Rohingya, sesuai firman-Nya :

﴿وَإِنِ ٱسۡتَنصَرُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ فَعَلَيۡكُمُ ٱلنَّصۡرُ ﴾

“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.” (QS Al Anfaal [7] : 72).

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd,
Hadirin yang dirahmati Allah,

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya agar Syariah Islam dapat berfungsi efektif mengatasi masalah-masalah umat yang ada? Di sinilah kita harus memahami, bahwa Syariah Islam memerlukan sebuah negara pro Syariah yang menerapkannya. Itulah yang dinamakan Khilafah. Hanya dalam negara Khilafah saja, Syariah Islam dapat diterapkan secara seutuhnya, bukan diterapkan seperti saat ini, yakni secara parsial saja.

Tanpa Khilafah sangat mustahil umat Islam dapat lepas dari neoliberalisme dan neoimperialisme yang terus menjadi sumber derita. Tanpa Khilafah tidak mungkin kita dapat mengelola sumber daya alam umumnya dan tambang khususnya dengan baik agar rakyat hidup sejahtera. Tanpa Khilafah tidak mungkin kita dapat secara sempurna menolong saudara-saudara kita yang tertindas oleh para penguasa yang durjana.

Maka pada kesempatan yang mulia ini, kami menyerukan kepada Saudara sekalian untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah. Sebab hanya dengan Khilafah sajalah, kita dapat sempurna menjalankan Syariah. Karena hanya dengan Syariah sajalah, kita dapat secara benar mengatasi semua masalah.

Sesungguhnya Khilafah bukanlah ajaran asing bagi kita. Khilafah merupakan kewajiban yang disepakati oleh para ulama kita, meskipun keberadaannya sejak tahun 1924 di Turki telah sirna, akibat persekongkolan Inggris gembong penjajah dengan Mustafa Kamal yang menjadi antek-anteknya.

Insya Allah Khilafah akan segera tegak kembali, meskipun Amerika dan antek-anteknya membencinya. Sebab kembalinya Khilafah sudah menjadi janji Allah kepada kita (QS An Nuur : 55), dan juga sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW sebagai berita gembira. Sabda Rasulullah SAW :

«ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»  

 “Kemudian (setelah masa penguasa diktator/mulkan jabriyyatan) akan muncul kembali Khilafah yang mengikuti jalan kenabian.” (HR Ahmad, dan Al Bazzar).

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua :

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.
اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيرًا.
اَمَّا بَعْدُ:
فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd,

Hadirin yang dirahmati Allah,

Akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah SWT :

بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ،والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين
اللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات
اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا, مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ

اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا النَّارَ وَتُدْخِلْهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ. اَللَّهُمَّ اَيُّمَا عَبْدٍ اَوْ أَمَةٍ مِنْ اُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يُحِبُّنَا وَيَدْعُوْ لَنَا فَثَقِّلْ مِيْزَانَهُ وَحَقِّقْ اِيْمَانَهُ وَاجْعَلْهُ فِي الْجَنَّةِ الْفِرْدَوْسِ اْلاَعْلَى. وَاَيُّمَا عَبْدٍ اَوْ اَمَةٍ مِنْ اُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَى خَطَأِ وَهُوَ يَظُنُّ اَنَّهُ عَلىَ الْحَقِّ فَرُدَّهُ اِلَى الْحَقِّ رُدًّا جَمِيْلاً. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا ِلإِخْوَانِناَ الْمُسْلِمِيْنَ حَيِّنِيْنَ لَيِّنِيْنَ سَهِّلِيْنَ حَبِيْبِيْنَ قَرِيْبِيْنَ. وَنَسْأَلُكَ اَنْ تَجْعَلَناَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُيَسِّرِيْنَ وَلاَ تَجْعَلَناَ مُعَسِّرِيْنَ وَمُنَفِّرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته [www.visimuslim.com]

Sumber : hizbut-tahrir.or.id
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Khutbah Iedul Fitri 1436 H (2015 M): Bersama Umat Tegakkan Khilafah"