Kala Hidayah Menyentuh Jiwa Seorang Pendeta Hindu

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Bulan Ramadhan adalah momen reformasi mental setiap Muslim, dari mental jahili, menuju mental tauhidi. Menuju pembaruan tersebut, kita memerlukan motivasi iman. Karenanya, berikut Arrahmah kutipan kisah metamorfosis seorang pendeta Hindu yang disampaikan FP lembaga dakwah Convert to Islam, pada Selasa (14/7/2015). Mudah-mudahan dapat menjadi penggugah iman bagi kita semua. Bismillah.

Saat hidayah Allah menyentuh jiwa praktisi Hindu, Girish KS Udupa, dunia yang dogmatis kini dipandangnya berubah menjadi medan menyempurnakan pemikiran. Ia pun beralih menjadi Muslim dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ishaq, yang kini mengabdikan waktunya memberikan dakwah untuk non-Muslim.

Muhammad Ishaq, seorang berkasta Hindu tinggi, menceritakan kisahnya kepada Convert to Islam tentang peralihan jalan hidupnya menuju Islam.

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah kelas atas Hindu Brahmana. Saya bagian dari keluarga imam Hindu di Udupi, Karnataka, India, sebuah kota yang dikenal dengan kuilnya.

Saya belajar dari kitab suci Hindu sejak usia dini melalui guru. Ketika itu saya melihat banyak kontradiksi dan mulai mempertanyakannya, tetapi tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan atau bermakna dari kitab suci. Itulah awal kehidupan yang membuat saya mencari kebenaran tentang agama yang benar.

Karena pertanyaan yang terus-menerus dari saya, orang tua saya disarankan oleh kepala agama agar memindahkan saya ke Aashram, untuk menjadi seorang pendeta Hindu. Setelah bergabung dengan Aashram, keraguan dan pertanyaan saya meningkat dan tak seorang guru pun memiliki jawabannya. Lalu saya disarankan untuk membaca buku-buku dari perpustakaan untuk mengetahui jawaban, dan karenanya saya mendapat kesempatan untuk banyak membaca kitab suci Hindu.

Dengan tidak ada kepuasan dalam hidup dan ketidakmampuan mendapatkan jawaban yang tepat atas keraguan yang terbangun dalam pikiran ini, saya meninggalkan Aashram dan mulai belajar tentang Jainisme dan kemudian Buddism. Namun, diri ini tetap tidak punya jawaban atas pertanyaan saya.

Menariknya, Jainisme dan Buddism menggaung-gaungkan ‘ahimsa’ (non-kekerasan), tetapi keduanya bertanggung jawab dalam meningkatkan penyembahan berhala. Lantas, saya meninggalkan mereka dan mulai mencari agama tertua dan belajar tentang agama Roma, Yunani, Mesir dan Yudaisme. Ketika saya sedang belajar Yudaisme saya tidak bisa menemukan banyak perbedaan mendasar antara orang Yahudi dan Brahmana.

Saya terus menikmati hidup saya sampai suatu hari ketika berangkat dengan bus ke kantor, saya melihat pengumuman dengan pesan “Untuk salinan gratis Qur’an silahkan hubungi ….” Saya pikir, ini bisa menjadi kesempatan untuk mendapatkan buku lain seperti Alkitab. Namun, saya memutuskan untuk menelepon mereka dan mendapatkan salinan Al-Qur’an, sehingga saya bisa membaca Al-Qur’an untuk menemukan kesalahan dan mengolok-olok Islam.

Pada akhirnya saya mendapatkan salinan dari Al-Qur’an, setelah saya menghubungi pusat itu 3 kali dalam 9 bulan. Pada ketiga kalinya saya sedikit lebih marah dan akhirnya Al-Qur’an sampai juga ke tangan saya. Alhamdulillah.

Saya mulai membaca Al-Qur’an dengan maksud untuk menemukan kesalahan di dalamnya. Namun, luar biasa sekali, sejak pertama kali membuka ayat pertamnya, saya sudah mulai mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya satu per satu, seolah-olah Al-Qur’an menjawab dan membersihkan semua keraguan saya.
Muhammad Ishaq saat ini mendedikasikan dirinya untuk dakwah fii sabilillah (Foto: CI)
Bahkan, saat saya berniat untuk membaca setidaknya empat halaman setiap hari agar bisa menyelesaikannya dengan cepat, secara mengejutkan, saya hampir tidak bisa membaca lebih dari setengah halaman setiap hari! Saya tidak dapat berhenti menggali (mentaddaburi) makna di balik ayat Qur’an itu! Setiap saya memindahkan halaman, saya mulai mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan saya; mengapa saya di sini, mengapa saya diciptakan, apa tujuan hidup, dan dengan karunia Allah Subhanahu wata’ala saya semakin dekat dengan Al-Qur’an dan Pencipta saya.

Ikhwan yang memberi Qur’an kemudian menelepon dan bertanya apakah saya membaca Al-Qur’an. Suatu hari ia meminta saya untuk melakukan Shalat (doa) dengannya dan saya menolak. Namun, kami mulai bertemu sangat sering membahas lebih tentang Islam, sambil minum kopi atau jus.

Suatu hari, sambil meminum jus, ia berbicara kepada saya bahwa, jika ia meninggal sekarang, sebelum benar-benar minum jus, ia mungkin masuk surga karena ia adalah seorang Muslim. Itu karena ia meninggal saat ia mencoba untuk mengikuti perintah-perintah Allah. Lantas terbersit di pikiran saya. “Apa yang akan saya lakukan jika saya meninggal sebelum saya menyelesaikan jus saya, karena, tidak ada jaminan dari rentang hidup untuk satu apapun.”

Saya terkejut untuk sementara dan tidak bisa minum jus dan merasa seolah-olah saya akan mati setiap saat. Saya pulang ke rumah, dengan tulus berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk pertama kalinya dalam hidup saya bahwa, jika saya mati hari ini maafkan dosa-dosa saya, kemudian saya tertidur.

Ketika saya bangun di pagi hari, maka diri ini memutuskan untuk tidak membuang-buang waktu. Saya telpon Ikhwan itu dan memberitahukan bahwa saya ingin menerima Islam sepenuhnya.

Allahu akbar, hanya melalui pembahasan di malam sebelumnya, Allah membuka hati saya untuk kebenaran dan berpikir bahwa menerima Islam. Saya juga berjanji akan menjadi ummat yang menjalankan fungsi besar seperti halnya saya masih dalam agama Hindu dahulu.

Ikhwan menelepon saya agar datang ke pusat dakwah, dan di depan dua orang, meminta saya untuk menyatakan Syahadat dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. “Laa ilaha illa Allah Muhammadur Rasul Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah (shalallahu ‘alaihi wasallam).”

Saat itu saya bersumpah demi Allah bahwa ketika saya mengucapkan Syahadat, saya merasakan sensasi yang luar biasa, seolah-olah, beban yang sangat besar baru saja diangkat dari dada saya. Saya termegap-megap, seolah-olah saya bernapas untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Alhamdulillah, dengan kembali kepada Islam, perjalanan saya untuk menemukan agama yang benar berakhir dengan kesenangan, kebahagiaan dan kepuasan maksimal.

Saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana kepada semua orang yang mencari Allah dan agama yang benar:

Hanya ketika Anda merasakan rasa sakit dari mempelajari semua agama, Anda akan tahu keindahan Islam. Pesan dari Keesaan Tuhan Allahu Ahad dalam Kemurnian dan cara hidup yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Islam adalah satu-satunya cara hidup yang bisa membuat Anda senang dengan keberadaan Anda sebagai manusia.Hidup adalah kesia-siaan total jika Islam tidak dijadikan sebagai cara hidup.

Mengakhiri kisahnya, Muhammad Ishaq berkata, “Alhamdulillah, Allah telah memberi saya hidup baru, yang bersih dan kesempatan untuk menggapai Jannah, dan saya berdoa bahwa saya menjalani sisa hidup ini dengan mendedikasikan diri untuk menyebarkan pesan Islam dan mati sebagai Muslim. Aammiin.” [www.visimuslim.com]

Sumber : Arrahmah, 14 Juli 2015
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Kala Hidayah Menyentuh Jiwa Seorang Pendeta Hindu"