Refleksi Ramadhan : Kala Surga Berebut Memanggilmu

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Sejarah terus berputar pada porosnya. Berevolusi mengikuti sunatullah.Puluhan tahunyang lalu kapitalisme telah merebut singgasana kekuasaan islam dari jantungnya. Pada 3 Maret 1924 jantung kekuasaan islam di Istanbul Turki Usmani diambil paksa melalui Mustafa Kamal seorang agenInggris. Kemudian, menggantikannya dengan jantung kapitalisme yang kala itu masih berlumuran darah umat islam. Seketika umat islam hidup bagaikan mayat hidup. Berharap belas kasihan pad negara kapitapisme barat. Tak lama kemudian dinasti politik kapitalisme pindah ke tangan Amerika.Amerika bertindak sebagai polisi dunia menggantikan kekuasaan islam sebelumnya. 

Bukannya berlaku sebagai polisi yang menjaga dan mengamankan dunia, justru sebaliknya Amerika bertindak bak penjahat kelas kakap memporak-porandakan tatanan dunia khususnya duniaislam diatas legitimasi absurd kekuasaannya. Dunia yang selama 13 abad dipelihara oleh islam hingga melahirkan tata dunia yang sejahtera dan maju dalam sekejab dirusak sepanjang era kapitalisme berlangsung. Demokrasi yang dikampanyekan secara masif keseluruh dunia melalui tangan besinya telah banyak menelan korban diberbagai belahan dunia. Lantaran demokrasi sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Qodim Zallum dalam bukunya Demokrasi Sistem Kufur berdiri diatas empat pilar kekebasan yaitu; kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama. Empat item inti penyangga demokrasi inilah ditengarai biang persoalan yangmendera. Jargon manis yang selama ini dilansir secara progresif oleh akademisi tentang demokrasi merupakan kebohongan yang nyata. 

Atas nama demokrasi, negara Irak luluh lantah rata dengan tanah. Afghanistan porak-poranda. Nafsu imperialismenya demi mendulang minyak hitam (black oil)dilakukan dengan cara merampok semua kilang-kilang minyak potensial negeri islam dibawah bendera politik perang melawan terorisme. Sangat tragisnya umat islam tidak berkutik menghadapi permainan politik busuk ini. Umat terbesar diseluruh dunia ini, terdiam seribu bahasa melihat perlakuan sekutu kafir penjajah.Umat islam telah kehilangan benteng dan perisai (junnah) yang dapat melindunginya dari segala serangan yang mengoyak kehormatan umat mulia ini. Dimana kholifah dan pasukan khilafah yang selama ini melindungi mereka? 

Nasib umat islam persis dengan apa yang dipredikskan oleh baginda Nabi 14 abad silam dalam sebuah haditsnya , umat islam bagaiakan makanan dalam satu nampan yang disantap dari berbagai penjuru. Umat terbesar ini layaknya buih yang terhempas oleh batu karang.Terbesar tapi kosong tak berisi. Lihatah potensi alamnya yang sangat banyak dikuasai oleh negara kafir imperialis. Melalui para pemimpin umat islam yang menjadi kaki tangan mereka, dengan leluasa digadaikan semuanya demi menyenangkan penguasa negara kapitalisme. Itulah fakta neoliberalisme dan neoimperialisme yang mengancam negeri islam khusunya Indonesia.

***
Kini kapitalisme memasuki era paling kritis. Beberapa kali negara kapitalis didera krisis moneter dan defisit anggaran yang berbuntut pada gejolak sosial. Kemiskinan, pengangguran dan demo besar- besaran. Lambat laun kedok jahatnya mulai terkuak. Pasalnya, terjadi pengeroposan dari dalam akibat rapuhnya tulang ideologi yang menjadi penyangga negera mereka selama ini. Tidak bisa dipungkiri, kapitalisme rusak atau cacat sejak dari lahirnya. Sekulerisme yang menjadi asas tak mampu lagi menahan beban persoalan yang diakibatkan oleh ulahnya sendiri. Alih-alih menyelesaikan segala persoalan, yang terjadi justru semakin menggila polahnya membuat kerusakan.

Umat islam harus menangkap fenomena ini dengan sigap dan cerdas. Sungguh merupakan kebodohan yang nyata, bila umat islam masih keras kepala bersikukuh mempertahanakan pemerintahan demokrasi. Cepat dan pasti krisis itu segera menjalar. Maka, jangan sampai menunggu parah baru bertindak. Sejak dini telah terdeteksi, seharusnya cepat diambil langkah progresif. Harapan satu-satunya yang dapat menyelamatkan peradaban dunia ini adalah islam. Kalau bukan islam lantas apa?   Secara normatif umat islam wajib menerapkan islam sebagai sistem kehidupan dibawah naungan khilafah. Ini harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Segudang dalil syar'i menjadi dasarnya. Begitu juga secara empiris terbukti sosialisme/komunisme telah mendahului jaman kegagalannya. Sementara kapitalisme sepanjang kurun tak genap satu abad sudah tak mampu bernafas panjang lagi, sebagaimana digambarkan diatas. Kemudian secara historis hanya peradaban islam melalui khilafah terbukti selama 13 abad berhasil mengukir prestasi emas dalam membangun atmosfer kehidupan yang sejahtera dan adil. Dunia barat pun saat itu mengakui kehebatan negara khilafah. Hal itu dapat kita lacak dari berbagai literatur yang terdapat dinegara-negara barat. Lantas apa yang masih membuat kita harus menunggu? 

***

Pentas arena sudah didepan mata kita, ada tiga pilihan. Apakah menjadi penonton, komentator, atau pemain. Anda pilih yang mana? Atau jangan-jangan jadi perusuh. Naudzubillah mindzalik. Keputusan ada ditangan Anda saudaraku? Pastinya, setiap keputusan akan dimintai pertangungjawaban kelak diakhirat. Namun hari, kita berada dibulan Ramadlan yang mulia. Dimana pada bulan ini, Allah swt membuka peluang amal sholih dengan hamparan pahala yang membentang luas. Surga pun dibuka lebar-lebar diperuntukkan bagi hambanya yang serius memanfaatkan ramadlan sebagi bulan ibadah. Ketahuilah, tiada ibadah yang paling besar kecuali berjuang untuk menegakkan syariah dan khilafah. Pasalnya, keberadaan khilafah sebagai jalan sempurna diterapkannya seluruh hukum islam secara kaffah. Sungguh ini peluang yang sangat besar. Jangan buang kesempatan terbesar dalam ramadlan kali ini. Buatlah surga berebut memanggilmu. Mau? [Indra Fakhruddin (Pengamat Sosial Politik di Al Amri Institute)] [www.visimuslim.com]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Refleksi Ramadhan : Kala Surga Berebut Memanggilmu"