Kemuliaan Sya'ban Yang Hilang Dari Umat Islam

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴
Bulan Sya'ban
Bulan Sya’ban hanya satu, dan hanya sekali dalam setahun. Saat hari-hari dan bulan berlalu, maka hari-hari penuh berkah itu pun tiba menyambut datangnya kemuliaan bulan agung, bulan al-Qur’an, bulan Ramadhan. Maka, Sya’ban yang diapit dua bulan mulia, yaitu bulan suci Rajab dan Ramadhan, bulan nan agung, sering terlupakan. Karena itu, mari kita renungkan sejenak Sya’ban yang mulia itu.

Kedudukan Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban ini di dalamnya mengandung banyak kebaikan. Karena itu, Nabi saw. mengkhususkannya untuk beribadah, melebihi bulan-bulan lain. Bulan Sya’ban pun mempunyai keistimewaan sebagai bulan kekasih kita, Muhammad saw. Bulan yang dicintai oleh Rasulullah saw. dan diutamakan, melebihi bulan-bulan yang lain.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiya-Llahu ‘anhu berkata, “Rasulullah saw. pernah berpuasa dan tidak berbuka, hingga kami berkata, “Tak ada pada diri Rasulullah saw. berbuka setahun.” Kemudian baginda saw. pun berbuka [tidak berpuasa], hingga kami pun berkata, “Tak ada pada diri baginda saw. berpuasa setahun. Puasa [sunah] yang paling baginda saw. sukai adalah di bulan Sya’ban.”

Pertanyaannya, apakah kita menyukai apa yang disukai oleh Rasulullah saw? Apakah kita menemukan kerinduan pada bulan ini sebagaimana yang ditemukan oleh kekasih kita? Apakah kecintaan kita kepada sesuatu selalu terikat dengan apa yang dicintai oleh Rasulullah? Semuanya ini merupakan ujian secara riil, agar kita bisa mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبْعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ.
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” [Hr. Ibn Rajab al-Hanbali]

Moment Catatan Amal Diserahkan

Saat catatan amal perbuatan itu kita tulis sendiri dalam catatan amal perbuatan kita, dan ketika catatan itu diserahkan kepada Allah SWT, maka bulan Sya’ban telah dinyatakan oleh Nabi saw. sebagai moment penting. Sabda Nabi saw:

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

“Itu adalah bulan, di bulan itu amal perbuatan [manusia] diajukan kepada Tuhan semesta alam, maka saya sangat suka ketika amal perbuatan saya diajukan kepada-Nya, saya dalam keadaan sedang berpuasa.” [Hr. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Usamah bin Zaid ra]

Di bulan yang mulia ini, Allah SWT memberikan kemuliaan kepada hamba-Nya dengan anugerah nan agung. Anugerah diajukannya amal perbuatannya kepada Allah SWT. Setelah itu, Dia akan terima mana yang Dia kehendaki. Sya’ban merupakan moment terakhir catatan amal perbuatan kita, moment memanen amal perbuatan dalam setahun. Karena itu, pertanyaannya, apa dan bagaimana amal perbuatan kita dalam setahun ini kita tutup? Lalu, kondisi seperti apa yang ingin dilihat oleh Allah pada diri kita, saat amal perbuatan itu diajukan kepada-Nya?

Maka, Sya’ban merupakan moment penting dalam detik-detik sejarah kehidupan seseorang. Berdasarkan moment itulah, seluruh catatan amal perbuatan kita dalam setahun diajukan kepada Allah SWT. Allah berfirman:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالعمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya ucapan yang baik dan amal shalih itu diangkat.” [Q.s. Fathir: 10]

Apakah saat amal perbuatan kita diajukan kepada Allah SWT, kita dalam kondisi taat kepada-Nya, tetap memegang teguh agama-Nya, ikhlas, melakukan amal perbuatan, jihad dan berkorban hanya untuk-Nya? Ataukah, ketika amal perbuatan kita diajukan kepada-Nya, kita hanya berpangku tangan, tidak mempunyai cita-cita yang mulia dan tinggi, perjuangan dan dakwah kita pun minim, hidup dengan santai, bersenang-senang dan bermalas-malasan?

Mari kita evaluasi diri kita sendiri-sendiri. Mari kita bersegera melakukan amal shalih, sebelum amal perbuatan kita diajukan kepada-Nya di bulan diajukannya amal perbuatan kita.

Malu kepada Allah SWT

Suatu ketika, Nabi saw. mengingatkan:

وَإِنْ لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Jika kamu sudah tidak mempunyai rasa malu lagi, maka lakukanlah apa yang kamu mau.” [Hr. Bukhari]

Hadits diangkatnya catatan amal perbuatan manusia di bulan Sya’ban, dan bagaimana kondisi kekasih kita, Muhammad saw. saat itu mempunyai dimensi lain. Di dalam hadits itu, baginda saw. sekaligus mengajarkan kepada kita aktivitas kalbu dan fisik di bulan Sya’ban. Rasa malu dan keinginan untuk dilihat oleh Allah telah menyatu dalam diri baginda saw:

فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

“Maka saya sangat suka ketika amal perbuatan saya diajukan kepada-Nya, saya dalam keadaan sedang berpuasa.” [Hr. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Usamah bin Zaid ra]

Di dalam hadits ini ada rasa malu yang luar biasa yang dimiliki oleh Rasulullah saw. yaitu, tidak ingin dilihat oleh Allah, kecuali dalam keadaan sedang berpuasa. Inilah yang terpenting, dan semestinya menjadi kesibukan kita. Merasa malu kepada Allah, malu karena santai dan lalai dalam melakukan ketaatan kepada-Nya.

Karena itu, sampai ada ulama’ salaf mengatakan:

إِمَّا أَنْ تُصَلِّي صَلاَةً تَلِيْقُ بِاللهِ جَلَّ جَلاَلُهُ، أَوْ أَنْ تَتَّخِذَ إِلَهًا تَلِيْقُ بِهِ صَلاَتَكَ

“Boleh jadi kamu mengerjakan shalat, dengan shalat yang membuatmu layak dicintai Allah Jalla Jalaluhu, atau kamu menjadikan tuhan lain [selain Allah], sehingga shalatmu dipandang layak olehnya.”

Malu, karena banyak waktu kita buang dan kita habiskan bukan untuk mengingat-Nya. Malu, karena banyak aktivitas yang kita lakukan bukan untuk menolong dan memperjuangkan agama-Nya. Malu, karena cita-cita, ambisi, potensi dan seluruh kemampuan hidup kita tidak kita manfaatkan untuk membela dan memperjuangkan agama-Nya, memuliakan dan memartabatkan syariat-Nya, serta mengembalikan Khilafah yang menjadi warisan Nabi-Nya. Malu, karena pena, pemikiran dan lisan kita bukan untuk menyebarkan risalah-Nya, atau mengcounter pandangan, pemikiran dan hukum yang menyalahinya. Malu, karena harta dan nikmat yang diberikan kepada kita tidak kita gunakan untuk kepentingan Islam dan umatnya. Malu, karena semua amal perbuatan kita yang dicatat oleh malaikat dalam catatan amal perbuatan kita berisi kemalasan, kelalaian dan santai. Malu, karena kita dilihat oleh Allah dalam kondisi telanjang dan aurat kita terbuka. Semuanya itu mengharuskan kita mestinya malu dan takut kepada-Nya.

Moment Pengampunan

Sya’ban juga merupakan bulan anugerah ilahiah yang dianugerahkan kepada umat Muhammad saw. Allah SWT telah menjadikan hari dan bulan tertentu untuk memuliakan hamba-Nya dengan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah juga memuliakan mereka dengan dampak ibadah tersebut yang telah dipersiapkan untuk mereka. Hadiah dari Rabb semesta alam kepada hamba-Nya yang shalih. Di sana ada malam Nishf Sya’ban [pertengahan bulan Sya’ban]. Nabi saw. pun memuliakannya, sebagaimana disebutkan dalam sabda-Nya:

يُطَلِّعُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إلاَّ لمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala memperhatikan makhluk-Nya di malam Nishf Sya’ban, kemudian mengampuni semua dosa makhluk-Nya, kecuali orang Musyrik dan saling bermusuhan.” [Hr. Abu Dawud]

Inilah moment penting bagi orang yang melakukan kesalahan dan melalaikan hak Allah, agama, dakwah dan kewajiban-Nya. Inilah moment untuk menghapus dendam dalam hati kepada saudara-saudara kita. Maka, tak ada tempat bagi pendendam, pendengki dan orang yang saling bermusuhan. Karena itu, ucapan yang keluar dari lisan kita adalah:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman. Jangan jadikan kebencian dalam hati-hati kami terhadap orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, Engkaulah Dzat yang Maha Kasih lagi Maha Penyayang.” [Q.s. al-Hasyr: 10]

Karena itu, sebagian ulama’ salaf mengatakan, “Sebaik-baik amal perbuatan adalah sehatnya hati, kelapangan jiwa dan memberikan nasihat kepada umat.” Dengannya, telah sampai pada levelnya siapapun yang telah sampai ke sana. Pemimpin bagi kaumnya adalah orang senantiasa memaafkan dan lapang dada.

Inilah momentum bagi siapapun yang telah melakukan maksiat atau dosa, betapa pun besarnya. Inilah momentum bagi siapa saja yang telah berani melakukan maksiat kepada Allah SWT. Inilah momentum bagi setiap Muslim yang telah melakukan kesalahan. Karena itu, Sya’ban ini merupakan momentum untuk menyadari dan meraih kembali apa yang hilang, serta memulai lembaran baru bersama Allah SWT, sehingga dosa-dosa yang mengisi lembaran-lembaran itu dihapus, dan dipenuhi dengan catatan bersih ketaatan.

Tuntunan Nabi saw. di Bulan Sya’ban

Maka, Nabi saw. pun mengajarkan kepada kita untuk mencintai ketaatan, ibadah, puasa dan qiyamu lail di bulan yang mulia ini. Dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin, ra. berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Saya tidak melihat Rasulullah menyempurnakan puasanya sebulan, kecuali bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat baginda saw. dalam satu bulan paling banyak berpuasa, kecuali bulan Sya’ban.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain, ‘Aisyah ra. menuturkan:

كاَنَ أَحَبَّ الشُّهُوْرِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانَ، ثُمَّ يَصِلَهُ بِرَمَضَانَ

“Bulan yang paling disukai oleh Rasulullah saw. untuk berpuasa adalah Sya’ban, kemudian baginda saw. menyambungnya dengan Ramadhan.” [Hr. Abu Dawud]

Ummu Salamah, Ummul Mukminin, ra. juga menuturkan riwayat yang hampir sama. Beliau menuturkan:

ماَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَصُوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلاَّ شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa selama dua bulan berturut-turut, kecuali Sya’ban dan Ramadhan.” [Hr. Abu Dawud]

Karena Nabi saw. begitu kuat menjaga kebiasaan berpuasa di bulan Sya’ban, sehingga Ibn Rajab al-Hanbali berkata, “Sesungguhnya puasa di bulan Sya’ban lebih baik ketimbang bulan-bulan lain.” Ibn Hajar menuturkan, “Hadits ini menjadi dasar tentang keutamaan puasa di bulan Sya’ban.” Sedangkan Imam as-Shun’ani mengatakan, “Ini menjadi dalil, bahwa Nabi saw. telah mengkhususkan bulan Sya’ban dengan berpuasa lebih banyak ketimbang yang lain.”

Para ulama’ pun menyebutkan keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban dibanding dengan bulan-bulan yang lain, “Sesungguhnya sunah yang paling baik adalah yang mendekati Ramadhan, sebalum maupun setelahnya. Karena mengikuti puasa Ramadhan. Mengingat kedekatan, dan posisinya, seperti shalat sunah Rawatib dengan shalat Fardhu, baik sebelum maupun setelahnya. Karena itu, keutamaannya mengikuti keutamaan ibadah wajib, bahkan ia bisa menyempurnakan kekurangan ibadah wajib.”

Pertanyaannya adalah, berapa hari kita berniat untuk mengerjakan puasa di bulan yang mulia ini, untuk mengikuti apa yang telah junjungan dan kekasih kita, Muhammad saw. lakukan? Berapa banyak kesunahan dan ketaatan lain yang kita lakukan di bulan ini?

Ketika Sya’ban menjadi pengantar Ramadhan, maka apapun kebiasaan yang ada di bulan Ramadhan mestinya juga kita hadirkan di dalamnya. Seperti puasa, membaca al-Qur’an, bersedekah, dakwah dan jihad. Karena ini merupakan medan perlombaan dalam melakukan ketaatan dan bersegera melakukan ketaatan sebelum bulan Ramadhan tiba. Di bulan ini Allah SWT ingin menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita.

Siapa yang Menyirami akan Memanen

Siapa saja yang ingin memetik hasil panen yang berlimpah di bulan Ramadhan, maka dia harus menyirami tanamannya di bulan Sya’ban. Abu Bakar al-Balkhi berkata, “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyiram. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan memanen.” Beliau juga mengatakan, “Bulan Rajab itu ibarah angin. Sya’ban ibarat mendung. Sedangkan Ramadhan ibarat hujan.”

Jadi, siapa saja yang tidak menanam di bulan Rajab, dan tidak menyirami tanamannya di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin akan bisa memanen tanamannya dengan hasil yang melimpah di bulan Ramadhan? Maka, generasi salaf shalih di masa lalu telah berlomba untuk mendapatkannya. Salamah bin Kahil berkata, “Bulan Sya’ban disebut bulan para pembaca [al-Qur’an].” Habib bin Abi Tsabit, jika telah masuk bulan Sya’ban berkata, “Ini adalah bulan pembaca.” Bahkan, ‘Amru bin Qais al-Mula’i ketika telah memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya, kemudian menghabiskan waktunya untuk membaca al-Qur’an.

Jadi, mari kita sadari tanaman kita di bulan Sya’ban ini. Mari kita rengkuh, kita ambil dan kita jaga. Mari kita sirami dan kita rawat, agar tidak terkena hama, sehingga saat Ramadhan tiba kita pun gagal memanennya.

Nabi pun Mengingatkan

Karena bulan Sya’ban ini adalah bulan terjepit, di antara dua bulan yang luar biasa, bulan suci [haram] Rajab, dan bulan agung [adhim] Ramadhan, maka tak jarang bulan ini pun terlewatkan. Karena itu, Nabi saw. mengingatkan:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ عَنْهُ النَّاسُ

“Itu adalah bulan, dimana orang-orang melalaikannya.” [Hr. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Usamah bin Zaid ra]

Para ulama’ pun mengatakan, “Hadits ini menjadi dalil tentang disunahkannya menghidupkan waktu-waktu yang dilalaikan orang dengan ketaatan. Itu tentu lebih dicintai Allah Azza wa Jalla. Sebagian ulama’ salaf suka menghidupkan waktu di antara dua Isya’ [Maghrib-Isya’] dengan shalat. Mereka mengatakan, “Ini adalah waktu yang dilalaikan.”

Karena itu, sunah Nabi saw. ini sekaligus bentuk mahasabah diri, apakah kita termasuk orang-orang yang melalaikan bulan Sya’ban dengan segala kemuliaannya, ataukah tidak? Inilah yang diingatkan oleh baginda saw.

Maka, Sya’ban telah menjadi gerbang yang akan mengantarkan kita memasuki Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dibukannya pintu-pintu surga, sebagaimana yang disabdakan Nabi saw. maka Sya’ban merupakan gerbang menuju pintu-pintu surga yang dijanjikan. Maka, siapa saja yang merindukan masuk surga melalui pintu-pintunya, Sya’ban adalah momentum untuk mengetuk pintu-pintu itu.

Ketuklah sekuat-kuatnya pintu-pintu surga itu dengan ketaatan, dengan memohon ampunan Allah SWT. Ketuklah pintu surga dengan ketundukan dan bersimpuh di hadapan-Nya, kita pun tak kan pernah meninggalkannya, hingga Dia ampuni dosa-dosa kita, sambil terus berucap, “Ya Allah, hamba tak kan pernah meninggalkan pintu-Mu, sebelum Engkau mengampuni dosa-dosa hamba.”

Ketuklah pintu-pintu surga itu dengan puasa, shalat dan qiyam lail, saat orang terlelap dalam tidurnya. Ketuklah pintu-pintu surga itu dengan terus berharap, memohon dan berdoa kepada-Nya. Abu Darda’ pun berkata:

جِدُّوْا بِالدُّعَاءِ، فَإِنَّهُ مَنْ يَكْثُرُ قَرْعَ الْبَابِ يُوْشِكُ أَنْ يَفْتَحَ لَهُ

“Bersungguh-sungguhnya dengan berdoa, karena siapa saja yang banyak mengetuk pintu-Nya, hampir pasti Dia akan membukakan pintu untuknya.”

Semoga kita bisa terus dan terus menyirami tanaman kita di bulan yang mulia ini. Dengannya, semoga kita bisa meraih kemuliaan dengan panen yang berlimpah di bulan suci Ramadhan. Amin. [KH. Hafidz Abdurrahman] [www.visimuslim.com]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Kemuliaan Sya'ban Yang Hilang Dari Umat Islam"