2015 dan Bercak Darah di Suriah

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴
Rezim Assad sebagai boneka Amerika, sepanjang sejarahnya selalu melakukan kekerasan kepada Muslim Sunni. Mayat-mayat perempuan dan anak berserakan menjadi korban keganasan. Segala senjata digunakan oleh rezim Assad. Pasukan Bashar al-Assad telah menculik anak-anak para aktivis, dan  kemudian menembak kepalanya, dan mayatnya dibuang di jalan-jalan.

Suriah Hari Ini
Sebuah laporan dari berbagai wartawan dan lembaga HAM yang mengunjungi Suriah, menuturkan kisah-kisah yang sangat mengerikan. Bahkan ada anak-anak, bukan hanya ditembak kepalanya, tetapi tubuhnya disayat-sayat dengat pisau. Seorang anak yang sebelumnya diculik, kemudian dipotong-potong, dimasukan ke dalam plastik, kemudian dibuang di depan rumahnya. Semuanya itu merupakan teror yang dijalankan militer rezim Bashar al-Assad. Ratusan perempuan tewas, yang sebelumnya diperkosa oleh pasukan yang setia kepada Bashar al-Assad. Mayatnya dibuang dipinggir-pinggir jalan. Aksi kekejaman dan kejahatan rezim Bashar al-Assad, masih terus berlanjut, dan tidak lagi mengindahkan seruan dunia internasional.


Lagi dan lagi. Serangan Angkatan Udara Suriah menggempur area yang dikontrol oposisi di luar Damaskus, menewaskan minimal 82 orang termasuk anak-anak. Serangan ini merupakan serangan udara paling mematikan sejak 25 November 2014. Selain korban tewas, puluhan korban luka-luka dalam serangan tersebut. Fotografer AFP melaporkan, ia melihat warga sipil dilarikan ke klinik-klinik sementara. Jumlah mereka membludak tidak sebanding dengan jumlah tenaga medis dan dokter. Beberapa korban luka terpaksa dirawat di lantai. (Harian Kompas, 7/2/2015)

Beberapa kota yang menjadi pusat perlawanan dihentikan pasokan listrik, air dan makanannya. Rakyat pun hidup dalam kesulitan yang sangat.  Wilayah-wilayah perlawanan dibombardir termasuk dengan menembakkan misil. Lebih dari 70 ribu orang telah terbunuh, lebih dari 1 juta hidup di luar Suriah, di kamp pengungsian yang kondisinya menyedihkan.

Kelompok pemantau yang berbasis di Inggris itu mencatat serangan udara rezim Suriah diluncurkan lebih dari 60 kali. Serangan rezim Suriah terjadi setelah kelompok pemberontak di Ghouta Timur menembakkan rentetan 120 mortir dan roket ke Damaskus. Serangan itu, seperti dilansir Al Arabiya, juga menewaskan 10 orang, termasuk di dalamnya anak-anak. (Sindonews.com, 6/2/2015)

Menurut PBB, sejak meletus pada 2011, perang di Suriah telah menewaskan 200.000 orang. Sejak pertengahan 2012, rezim Assad kerap melancarkan serangan udara di area tersebut dan wilayah-wilayah lain yang dikontrol oposisi. Jika pada awal konflik Suriah, seseorang mengatakan bahwa Barat sedang membantu dan bersekongkol dengan Assad, sangat sedikit orang yang akan percaya. Sekarang, tiga puluh bulan kemudian menjadi jelas, bahwa Amerika dan sekutu-sekutu baratnya tidak hanya mendukung pemerintahan tirani Assad, namun sangat berharap  atas kepentingan mereka sendiri, bahwa Assad akan menang dalam konflik berkepanjangan melawan pihak  oposisi.

Jagal Bashar ingin mengirim pesan politik yang mengatakan ia kuat dan mampu membunuh bangsanya, karena itu perintahnya harus didengarkan. Amerika dan Rusia datang untuk menyempurnakan skenario, ditunjang dengan media massa pembebek dengan mengingkari fakta politik dan fakta lapangan, melecehkan nalar publik, dan berbohong. Amerika Serikat harus mengulur waktu, saat ini kesulitan untuk mencari pengganti Asad yang bisa dikontrol oleh Barat. Pada awalnya AS membentuk Dewan Nasional Suriah (SNC), namun tidak mendapatkan hati di masyarakat. Mereka pun membentuk boneka baru The Syrian National Coalition (Koliasi Nasional Suriah) di bawah pimpinan Muadz al Khatib. Itupun telah gagal mendapatkan dukungan penuh dari rakyat.

Hal yang sangat ditakuti oleh Barat. Seperti yang dikatakan oleh politisi senior dan berpangaruh Amerika Henry Kissinger. Menurutnya, yang mendorong Amerika tetap mendukung Asad adalah ketakutan akan adanya sebuah negara yang tersentralisasi yang akan menarik daerah sekitarnya. Senada dengan itu, Menlu Rusia Sergei Labrov juga menyatakan hal yang sama. Ia menegaskan kalau konfrontasi Suriah melebar, negara tetangga Suriah seperti Yordania dan Libanon akan hilang dari peta dunia.

Seperti bapaknya, Asad menerapkan politik bumi hangus, “al-Asad au nahriqu al-bilad” (mendukung Asad atau kami bumihanguskan negeri ini) . Dia mengira, kekejamannya akan menghentikan perlawanan rakyat Suriah. Ternyata tidak. Rakyat Suriah yang mewarisi keberanian, keteguhan, dan kesabaran pahlawan-pahlawan Islam seperti Khalid bin Walid yang dikubur di tanah as Syam, melakukan perlawanan yang luar biasa. Para mujahidin Suriah, terinspirasi dengan kata-kata mulia pahlawan Islam Khalid bin Walid  sebagaimana yang terdapat dalam kitab al Ishabah karya al Asqalani,  yang dipatri pusat Kota Homs : “Aku mencari kematian, dengan kemungkinan itu bisa didapat, tetapi aku belum ditakdirkan, kecuali mati di atas tempat tidurku. Tidak ada satu perbuatan yang paling aku harapkan, setelah kalimah lailaha illa-llah, ketimbang suatu malam di mana aku bermalam dengan memakai perisai, di bawah cahaya bulan di langit dan guyuran hujan hingga Subuh, sampai kami menyerang (dan mengalahkan) kaum kafir.”

Memang apa yang termasyhur di Suriah saat ini tidak lain dari sebuah konflik yang telah tampak di muka dunia sebagai sebuah perang yang dilancarkan terhadap Muslim yang memiliki persenjataan seadanya. Dan setelah tiga tahun melancarkan pertempuran sengit, Amerika dan sekutunya telah gagal untuk menghancurkan kekuatan para pejuang Islam. Sebaliknya, para pemimpin Barat dengan cepat mengakui bahwa Suriah telah mengalami jalan buntu. Ini adalah kenyataan yang sangat menggembirakan umat Islam dan menghilangkan stereotip yang menggambarkan bahwa kaum Muslim terlalu lemah untuk melawan Amerika. [Umar Syarifudin (Lajnah siyasiyah Hizbut Tahrir Indonesia Kota Kediri)] [www.visimuslim.com]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "2015 dan Bercak Darah di Suriah"